S2 part 5

1.4K 24 1
                                        

UTAMAKAN VOTE TERLEBIH DAHULU SEBELUM MEMBACA!
ENJOI!
______________________________________

halo guys haloo, gimana ni suka ga?! klo suka aku bakal lanjut sampe beberapa eps, asalkan kalian vote dan komen terus cerita ini buat aku semangat!!

eh!!! aku juga ada sampul baru perjodohan Sejenis...gimana? suka ga sama sampul nya?? walaupun agak aneh tapi lumayan lah yaa!!

komen dong gimana menurut kalian!!

oke kita mulai ceritanya nya!!

••••
Mobil berhenti di basement sebuah apartemen sederhana, lampu neon redup memantul di kap mobil. Venus mematikan mesin, lalu menoleh ke Elcha yang masih menggenggam tangannya erat.

“Kita naik dulu. Aku gak mau kamu pulang malam ini sendirian,” kata Venus tegas, suaranya gak memberi ruang untuk ditolak.

Elcha mengangguk pelan, wajahnya masih merah. “Ini… apartemen kamu?”
“Bukan. Aku sewa buat jaga-jaga,” jawab Venus singkat, lalu turun dan membukakan pintu untuk Elcha.

Mereka berjalan berdampingan, dan benar saja, tangan Venus menggenggam tangan Elcha seakan gak rela dilepas. Lift bergerak naik pelan, hening hanya diisi suara mesin. Elcha sempat menunduk, menyembunyikan senyumnya, sementara Venus sesekali melirik, tatapannya penuh rasa memiliki.

Begitu pintu apartemen terbuka, suasana hangat langsung menyambut. Interiornya minimalis, ada sofa abu-abu, meja kecil, dan balkon dengan lampu kota terlihat dari kejauhan. Venus melepaskan jaketnya, lalu menaruh kunci di meja.

“Elcha,” panggilnya pelan.

Elcha yang masih berdiri canggung di dekat pintu menoleh. “Ya?”
Venus berjalan mendekat, menundukkan tubuhnya sedikit hingga sejajar. “Mulai sekarang, kalau kamu capek, kalau kamu takut, kesini aja. Jangan pendam sendiri.”

Mata Elcha langsung berkaca-kaca. Ia mengangguk cepat. “Aku… aku gak tau harus bilang apa. Tapi aku seneng ada kamu.”

Venus menarik Elcha ke dalam pelukannya. Hangat, erat, seolah gak mau ada jarak. Elcha menenggelamkan wajahnya di dada Venus, bisa merasakan detak jantung yang stabil, bikin dirinya tenang.

“Denger, Cha,” bisik Venus di telinganya, suaranya rendah tapi dalam. “Aku gak main-main sama kamu. Aku udah mutusin, kamu milik aku. Dan aku bakal jagain kamu, apa pun yang terjadi.”

Elcha tersenyum kecil, suaranya bergetar. “Aku percaya.”

Venus mengusap rambutnya lembut, lalu menarik sedikit wajah Elcha supaya bisa menatap matanya. “Kamu tau gak? Kamu itu alasan aku kuat sekarang.”
Wajah Elcha langsung memerah lagi. “Venus…”

Mereka duduk di sofa, masih berdekatan. Elcha bersandar di bahu Venus, sementara Venus melingkarkan lengannya di sekitar tubuh Elcha, membiarkan gadis itu merasa aman sepenuhnya. Dari jendela kaca, lampu kota berkelip, jadi saksi bagaimana dua hati yang awalnya rapuh kini saling menemukan sandaran.

Elcha menutup mata sebentar, menikmati ketenangan. “Kalau gini, aku gak takut lagi,” ucapnya lirih.
Venus menatapnya, lalu mengecup puncak kepalanya singkat. “Bagus. Karena kamu udah punya aku sekarang.”

Malam itu, apartemen kecil itu jadi tempat pertama di mana Elcha benar-benar merasa aman. Bersama Venus, ia gak lagi sendiri.

•••

Lampu apartemen temaram, hanya menyisakan cahaya hangat dari sudut ruangan. Venus duduk di sofa dengan posisi setengah rebah, sementara Elcha ada di sampingnya, terlihat canggung. Tangannya meremas ujung bantal kecil, jantungnya berdetak kencang.

Venus menoleh, sorot matanya tajam tapi lembut. “Kenapa keliatan tegang gitu? Kamu takut sama aku?”

Elcha buru-buru menggeleng. “Nggak… cuma… aku gak biasa ada di tempat asing begini. Sendirian sama kamu.”
Venus terkekeh pendek, lalu meraih dagu Elcha dengan dua jarinya, memaksa gadis itu menatapnya. “Dengar baik-baik, Cha. Kamu gak pernah sendirian kalau ada aku. Jangan pernah ragu.”

Elcha menelan ludah, pipinya memerah. “Kamu ngomongnya gampang banget…”
Venus mendekat sedikit, jarak wajah mereka hanya sejengkal. “Karena aku serius. Kamu ngerti kan? Aku udah lama nahan diri biar gak gila karena kamu.”

Detik itu juga, Elcha merasa tubuhnya lemas. Tatapan Venus terlalu intens, terlalu jujur, bikin ia kehilangan kata-kata. Venus menunduk, keningnya menempel pada kening Elcha.

“Kalau kamu ngerasa gak nyaman, aku berhenti,” bisik Venus. “Tapi kalau kamu mau… malam ini, aku pengen kamu tau seberapa penting kamu buat aku.”

Elcha terdiam, lalu perlahan mengangguk. “Aku percaya sama kamu.”

Venus menarik Elcha ke dalam pelukan erat, satu tangannya melingkari pinggang gadis itu, yang lain mengusap tengkuknya lembut. Elcha bisa merasakan tubuh hangat Venus, bisa mendengar detak jantungnya yang berat. Ada rasa aman bercampur degupan aneh yang bikin dadanya sesak.

“Elcha…” suara Venus parau, nyaris seperti desahan tertahan. “Kamu bikin aku gila.”

Elcha hanya bisa memejamkan mata, membiarkan dirinya larut. Venus menunduk, bibirnya menyentuh pelipis, turun ke pipi, lalu berhenti tepat di samping bibir Elcha. Hanya beberapa detik menunggu—dan akhirnya Elcha yang lebih dulu mendekat.

Keduanya terhanyut dalam keheningan malam, hanya ditemani desiran napas yang semakin cepat. Venus menahan kendali dengan susah payah, tapi tatapannya jelas ia ingin Elcha, sepenuhnya.

Elcha berbisik di sela kehangatan itu, “Venus… jangan tinggalkan aku.”
Venus menatapnya lama, lalu menjawab dengan nada penuh sumpah, “Bahkan kalau dunia musnah sekalipun, aku tetap di samping kamu.”

Malam itu, apartemen kecil menjadi saksi lahirnya ikatan yang lebih dalam dari sekadar rasa suka, cinta, sekaligus janji yang tak bisa dipatahkan.

Vote : 100 deh
Komen : 50
LANJUT CERITANYA!

JANGAN LUPA VOTE!!
FOLLOW IG KU : @laellynaa
Untuk melihat informasi yang baruuu!!

Perjodohan Sejenis [GXG] AreaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang