Aku semakin kesini semakin males bikin S2 part selanjutnya, banyak banget yang baca tapi ga pada vote... padahal udah 10 part aku buat. Tinggal tunggu target vote sampai 35 vote malah ga pada vote cmn baca...
tolong dong sayang sayangku, aku cmn minta vote komen, ga lebih kok...
aku rela bikin S2 soalnya pada banyak yang minta, aku pikir pikir lagi akhirnya aku buat biar kalian seneng.
aku sayang sama kaliann...
love uuu
______________________________________
“Sudah kamu putuskan pacar perempuanmu?”
Suara ibunya terdengar dingin, tanpa getar, tapi menusuk seperti sembilu.
Venus berdiri di hadapan Asyana dengan wajah menunduk. Kedua tangannya saling menggenggam kuat di depan tubuh, mencoba menahan gemetar yang tak bisa disembunyikan.
“Belum, Bunda,” jawabnya pelan.
Asyana menarik napas panjang, menahan amarah yang jelas bergolak di matanya. Di sampingnya, Zerga—ayah Venus—duduk dengan postur tegap dan wajah tanpa ekspresi. Tapi justru di sanalah letak ketakutannya. Diam ayahnya selalu berarti badai yang akan datang.
“Kenapa belum?” Suaranya dalam, berat, membuat udara di ruang tamu seakan berhenti berputar. “Kau ingin Ayah kecewa lagi?”
Venus menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering.
Bagaimana ia bisa menjawab? Bagaimana ia bisa menjelaskan bahwa Elcha bukan hanya sekadar cinta, tapi rumah bagi seluruh luka yang tak pernah dimengerti siapa pun?
Zerga bersandar, menatap anaknya lama. “Besok, berpakaianlah seperti perempuan seharusnya. Ayah akan memperkenalkanmu pada seseorang.”
Nadanya datar, tapi tegas. “Tidak ada penolakan.”
Deg
Jantung Venus seolah berhenti berdetak. Kata-kata itu terasa seperti vonis. Dijodohkan? Dengan siapa? Dan bagaimana dengan Elcha?
Pikiran Venus berputar cepat. Ada sesak yang menekan dadanya, ada panas yang naik ke ujung mata, tapi ia menahannya. Menangis hanya akan membuat ayahnya semakin dingin, dan ibunya semakin benci.
“Baik, Ayah,” bisiknya akhirnya.
Suara itu nyaris tak terdengar. Hanya kepasrahan yang tersisa.
•••
Hari Sabtu datang terlalu cepat.
Venus duduk di depan cermin besar di kamarnya. Wajahnya dirias cantik oleh seorang MUA yang dibayar ibunya—pipi berwarna lembut, bibir bergradasi merah muda. Rambut pendeknya ditutupi wig panjang yang jatuh hingga bahu.
Di kaca, ia nyaris tak mengenali dirinya sendiri.
“Cantik sekali, Nona,” ucap sang perias tersenyum kecil.
Venus hanya mengangguk pelan. Bibirnya bergerak, tapi tak ada kata yang keluar. Matanya menatap kosong, seolah sedang mencari dirinya sendiri di balik bayangan yang asing itu.
Jika saja ia bisa kabur, ia pasti akan berlari. Ke satu tempat yang selama ini terasa aman — rumah Elcha.
Tempat di mana cinta tidak terasa salah.
Sayangnya, pengawasan ayahnya terlalu ketat. Tak ada jalan keluar, bahkan untuk sekadar bernapas.
•••
Hari itu langit cerah, tapi bagi Venus, semuanya terasa kelabu.
Mobil hitam milik ayahnya berhenti di depan sebuah kafe bergaya klasik di pusat kota. Jendela besar, dinding bata, dan aroma kopi yang seharusnya menenangkan, kini justru membuat napasnya terasa berat.
“Jangan menunduk terus,” suara Zerga terdengar dari kursi depan. “Tunjukkan sikap sopan. Anak Ayah tidak boleh terlihat murung di depan orang lain.”
Venus hanya mengangguk pelan tanpa menatap. Tangannya yang halus ia sembunyikan di balik rok panjang, menggenggam erat ponsel yang sudah mati sejak pagi.
Ia sengaja menonaktifkannya. Tidak ingin melihat nama Elcha di layar. Tidak ingin tergoda untuk kabur.
“Venus, dengar.”
Zerga menoleh sedikit, tatapannya tajam tapi tenang. “Agra itu pria baik. Pekerja keras. Ayah ingin kamu mengenalnya. Tidak perlu berpikir macam-macam.”
Baik? Venus ingin tertawa. Baginya, tidak ada yang lebih menakutkan daripada disebut “baik” oleh seseorang yang tidak ia cintai.
•••
Mereka masuk ke dalam kafe. Suasana ramai tapi hangat.
Di sudut ruangan, Agra sudah menunggu. Kemeja putih digulung di lengan, senyum ramah yang seolah mudah dipercaya.
“Selamat siang, Om Zerga,” sapa Agra sambil berdiri dan menyalami ayahnya.
Lalu pandangannya beralih ke Venus. “Dan ini pasti Venus, ya?”
Venus hanya tersenyum tipis, sopan tapi jauh dari tulus.
Ada jeda aneh di dadanya. Bukan karena gugup, tapi karena setiap detik ia merasa makin menjauh dari dirinya sendiri.
“Duduklah. Kalian berdua bicaralah. Aku ada urusan sebentar di luar,” kata Zerga sebelum meninggalkan meja.
Tentu saja itu bukan kebetulan. Ayahnya sengaja pergi, memberi ruang agar keduanya “lebih dekat”.
“Jadi… kamu masih SMA, ya?” tanya Agra, mencoba mencairkan suasana.
Suaranya lembut, tapi terdengar terlalu dewasa bagi Venus. Ia hanya mengangguk.
“Ah, maaf. Aku tahu ini aneh buat kamu. Aku juga kaget waktu Om Zerga bilang mau mengenalkan anaknya. Tapi…” Agra menatapnya dengan nada hati-hati. “Aku akan berusaha baik, kok.”
Venus menatap meja, memainkan sedotan dingin di gelas jusnya.
“Tidak perlu berusaha terlalu keras. Aku tidak akan lama di sini.”
Agra terdiam. Ada sesuatu di nada Venus—campuran getir, marah, dan luka yang sulit dimengerti.
“Kamu tidak suka dijodohkan, ya?”
Venus mengangkat pandangan. Matanya tajam, tapi juga rapuh.
“Menurutmu, siapa yang suka dipaksa mencintai seseorang yang bahkan baru dia kenal?”
Agra menunduk, sedikit tersenyum pahit. “Aku juga tidak.”
•••
Beberapa menit berlalu dalam diam. Suara musik lembut di kafe seolah menggema jauh.
Venus menatap ke luar jendela. Ada sepasang kekasih berjalan beriringan di trotoar, tertawa bersama, memotret langit sore.
Dalam pikirannya, wajah Elcha muncul begitu jelas. Tatapan hangat, senyum nakal, dan suara lembut yang selalu berhasil menenangkan kekacauan di hatinya.
Air mata nyaris jatuh, tapi ia cepat menghapusnya.
“Venus,” suara Zerga kembali terdengar dari belakang, “setelah ini, kalian pergi ke taman kota. Kenali lebih dekat.”
Venus menoleh cepat, hampir tidak percaya.
“Ayah… apa harus sekarang?”
“Tentu.”
Zerga menatapnya tajam. “Ayah ingin melihatmu belajar bersikap dewasa.”
Tak ada ruang untuk menolak.
Sekali lagi, Venus hanya bisa diam, menunduk, dan mengikuti perintah itu.
----
Mobil Agra berhenti di taman kota.
Anak-anak kecil berlarian, pasangan muda duduk di bangku sambil tertawa. Tapi bagi Venus, semua itu hanya latar dari sebuah sandiwara besar yang tak ingin ia mainkan.
“Kalau kamu mau, kita nggak usah ngomong apa-apa,” kata Agra perlahan. “Aku tahu kamu dipaksa.”
Venus menatapnya lama, lalu tersenyum lemah. “Terima kasih. Setidaknya ada seseorang yang jujur hari ini.”
Ia menatap langit yang mulai oranye.
Dalam hatinya, satu nama masih terpatri jelas. Elcha.
Dan di detik itu juga, Venus tahu—semakin ia dipaksa menjauh, semakin ia ingin kembali ke pelukan yang dianggap salah oleh dunia.
Vote : 35 deh
Komen : 20
NANTI LANJUT CERITANYA KALAU UDAH TARGET TERSAMPAI !!
KOMEN WOI KOMEN
JANGAN LUPA VOTE!!
FOLLOW IG KU : @laellynaa
Untuk melihat informasi yang baruuu!!
KAMU SEDANG MEMBACA
Perjodohan Sejenis [GXG] Area
General Fiction⚠️ CERITA INI MENGANDUNG 21+ ⚠️ kepo sama cerita nya ? ya baca lah Author kg bisa prolog
![Perjodohan Sejenis [GXG] Area](https://img.wattpad.com/cover/330777984-64-k449836.jpg)