S2 part 16

529 21 0
                                        

TOLONG BIASAKAN VOTE TERLEBIH DAHULU SEBELUM MEMBACA!! ENJOI!
____________________________________________

Elcha tak bergerak. Tubuhnya membeku tepat di tempat ia berdiri, matanya menatap lurus sosok di depan sana dengan napas yang mulai tidak beraturan.

Jarak mereka memang masih cukup jauh.
Tapi Elcha hafal, ia hafal cara orang itu berdiri. Hafal bahunya yang sedikit turun saat sedang gugup.

Hafal rambut panjang yang bergerak pelan tertiup angin pagi. Dan yang paling menyakitkan- ia hafal rasa rindunya sendiri.

"...Venus?" suara itu keluar pelan,myaris seperti bisikan putus asa.

Naren langsung menoleh cepat "Hah?"

Tapi Elcha sudah melangkah lebih dulu, perlahan, satu langkah. Dua langkah.
Tangannya mulai gemetar, dadanya berdetak terlalu cepat sampai terasa sakit.
Sementara sosok itu perlahan membalikkan badan.

Dan dalam satu detik-
dunia Elcha seperti berhenti berputar. Venus, itu benar-benar Venus bukan mimpi bukan halusinasi yang selama ini muncul tiap malam saat Elcha terlalu merindukannya.

Itu Venus.

Wajahnya terlihat lebih pucat dari terakhir kali mereka bertemu. Rambutnya lebih panjang, tubuhnya dibalut coat hitam tebal khas musim dingin.

Tapi matanya-
tatapan itu masih sama.

Tatapan yang selalu berhasil membuat Elcha lupa cara bernapas. Naren sampai terdiam beberapa detik.

"Anjir..."gumam Naren.

Venus terlihat gugup.
Sangat gugup, Tangannya saling menggenggam erat di depan tubuhnya sementara matanya perlahan mulai memerah menahan tangis.

"El..."

Dan suara itu suara yang sebulan terakhir cuma hidup di kepala Elcha- akhirnya terdengar nyata lagi. Dada Elcha langsung sesak. Sakit terlalu sakit.

"Lo..." suara Elcha bergetar hebat.

"Lo balik...?"

Venus mengangguk pelan. Air matanya jatuh lebih dulu sebelum ia sempat bicara.
"Aku-"

"Kenapa?" Elcha langsung memotong, cepat.

Terlalu cepat.

Seolah kalau ia membiarkan Venus bicara lebih dulu, dirinya bakal keburu hancur.

"Kenapa lo pergi tanpa bilang apa-apa ke gue, Ven?"

Venus langsung terdiam, napasnya tercekat.
Sementara Elcha tertawa kecil. Tapi suaranya terdengar lebih menyakitkan daripada tangisan.

"Lo tau nggak sih gue nyariin lo kayak orang gila?"

"Elcha..." lirih Venus.

"Gue tiap hari nunggu chat lo!" suara Elcha mulai pecah.

"Tiap hari gue berharap lo tiba-tiba masuk kelas lagi... duduk di samping gue lagi... senyum ke gue lagi..." air matanya akhirnya jatuh. Dan Venus merasa dadanya seperti diremas paksa saat melihat itu.

"Aku minta maaf..." bisiknya lirih.

"Maaf banget, sayang..."

"Jangan panggil gue sayang dulu." kalimat itu langsung membuat Venus membeku.
Mata perempuan itu langsung semakin merah.

Elcha mengusap air matanya kasar "LO TAU NGGA RASANYA DITINGGAL TANPA PENJELASAN?!" suaranya bergetar hebat.

"GUE BAHKAN NGGAK TAU HARUS BENCI SAMA LO ATAU TERUS NUNGGUIN LO!!." histeris Elcha, lalu dirinya tertawa pahit.

Hening.

Angin pagi berhembus pelan di area parkiran sekolah itu, tapi suasana terasa sesak. Terlalu sesak.

Sampai akhirnya Venus menunduk "mereka maksa aku pergi." suara Venus kecil, rapuh nyaris nggak terdengar.

"Tiap hari aku dikurung di rumah." Napasnya mulai tidak stabil. "Ponsel aku diambil... aku nggak boleh hubungin siapa-siapa." Elcha terdiam.

Venus menggigit bibirnya kuat-kuat sebelum melanjutkan "Aku berusaha balik, sayang..." air matanya jatuh lagi.

"Aku berusaha nyamperin kamu... tapi aku nggak bisa..." dan detik itu-
sesuatu di dalam diri Elcha runtuh.

Karena untuk pertama kalinya ia sadar...
yang hancur bukan cuma dirinya.
Venus juga.

Sama parahnya.

Sama sakitnya.

Sama gilanya karena rindu.

Tanpa sadar Elcha melangkah mendekat. Sangat dekat sampai ia bisa melihat jelas mata Venus yang sembab karena terlalu sering menangis sendirian.

"Bego..." bisik Elcha lirih.

Venus menatapnya lemah, tatapan yang selama ini paling Elcha rindukan. Dan detik berikutnya- Elcha langsung menarik tubuh Venus ke dalam pelukannya.
Erat.

Sangat erat.

Seolah kalau ia melepas sedikit saja, perempuan itu akan hilang lagi dari hidupnya.

Tubuh Venus langsung bergetar hebat di dalam pelukan itu, tangisnya pecah.
Benar-benar pecah.

Tangannya langsung mencengkeram belakang baju Elcha kuat-kuat seperti orang tenggelam yang akhirnya menemukan tempat pulang.

"Cha..." suara Venus hancur.

Elcha memejamkan mata kuat-kuat sambil menahan tangisnya sendiri.Wangi tubuh Venus, hangat tubuh Venus.

Semua yang selama ini cuma hidup di ingatannya- akhirnya kembali nyata.

"Jangan pergi lagi..." bisiknya patah.

"Please... aku nggak kuat kalau harus kehilangan kamu dua kali..."

Venus menangis di pundak Elcha, tangis yang sejak sebulan lalu ia tahan sendirian akhirnya pecah begitu saja.

Tangannya mencengkeram belakang seragam Elcha erat, seolah takut perempuan itu akan menghilang lagi saat ia melepaskan pelukan sedikit saja.

"Maaf..." suara Venus hancur.

"Maaf karena ninggalin kamu..." Elcha memejamkan mata kuat-kuat.

Dadanya sesak, marahnya masih ada, sakitnya juga belum hilang.

Tapi begitu tubuh Venus ada di pelukannya lagi, semua rasa kehilangan yang selama ini ia tahan tiba-tiba runtuh begitu saja.

Vote : 35 deh
Komen : 20
NANTI LANJUT CERITANYA KALAU UDAH TARGET TERSAMPAI !!

KOMEN WOI KOMEN

JANGAN LUPA VOTE!!
FOLLOW IG KU : @pinguinmatchaa
Untuk melihat informasi yang baruuu!!

Perjodohan Sejenis [GXG] AreaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang