Satu ciuman mendarat di bibir Echa. Seketika, ia bangun dari tidurnya.
“Sayang… kamu nggak kerja? Udah jam berapa emang?” tanya Echa setengah ngantuk.
“Iyaa sayang… bentar lagi aku ke kantor, tapi pengen momen sama istri dulu,” jawab Helsya sambil memeluk Echa dari belakang.
“Em… sayang, miss you,” ucap Echa sambil tersenyum polos.
“Ya bbe… miss you too,” jawab Helsya sambil mengecup kening Echa sekilas. Helsya segera mandi. Lima menit kemudian, ia menuruni tangga dan melihat Echa sedang memasak.
Tanpa pikir panjang, Helsya memeluk Echa dari belakang, mencium lehernya sambil menghirup aroma khasnya.
“Sayang?” tanya Echa kaget.
“Sayang… pengen…” ucap Helsya dengan wajah memelas.
“Tapi ini udah jam berapa, sayang? Nanti telat,” Echa membalik badan, tersenyum.
“Gini aja deh… kamu pulang nanti, aku kasih deal?” kata Echa.
“Oke, deal,” setuju Helsya.
Helsya pun berangkat ke kantor. Sementara itu, Echa bosan di rumah, akhirnya memutuskan untuk main ke rumah Meara.
Satu jam kemudian…
“Hayy, Zeyenkk!” sapa Meara dari teras rumah sambil menyeruput kopi.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
gambaran bestie nya echa Meira
“Araaa… astaga, gue bosen di rumah!” rengek Echa seperti bocil.
“Astaga, ternyata kesini gabut ya?” jawab Meara.
“Enggak juga sih… gue juga kangen sama lu,” jawab Echa.
“Dah, yuk masuk,” Meira langsung mengajak Echa masuk rumah.
Rumah Meira besar, tapi ia menempatinya sendiri karena orang tuanya sudah pisah. Cerita hidup Meira panjang—dulu diusir ayah tiri dan ibu angkatnya karena difitnah, tapi sekarang ia sukses.
“Lu model apasi sih kok rambut lu pendek?” tanya Echa.
“Gue bukan model rambut panjang nggak betah, njir,” jawab Meira.
“perasaan dari dulu rambut lu pendek kan?” tanya Echa lagi.
“Jangan pake perasaan orang… berharap lu nggak nikah aja sakit banget,” ucap Meira nggak sadar.