UTAMAKAN VOTE TERLEBIH DAHULU SEBELUM MEMBACA!
ENJOI!
______________________________________
Suasana sekolah pagi itu ramai, suara sepatu siswa berlarian di lorong bercampur riuh tawa. Elcha berjalan pelan sambil memeluk buku, tatapannya sedikit gugup. Venus berjalan di sampingnya, satu tangan masuk kantong celana, satu lagi memegang tas Elcha tanpa diminta. Bahunya tegak, langkahnya mantap, aura protektifnya jelas.
“Pegang buku aja yang bener, jangan kebalik lagi.” ucap Venus datar sambil melirik ke arah Elcha.
Elcha tersenyum kecil. “Aku nggak kebalik kok.”
Venus menatap sekali lagi, memastikan, lalu mengangguk tipis. Cara Venus melihatnya membuat Elcha merasa aman tapi juga sedikit deg-degan.
Di belakang mereka, Naren berjalan santai, earphone menggantung di leher. Matanya mengamati sekitar, seakan jadi bayangan yang siap turun tangan kalau ada yang macam-macam. Ia memang jarang ikut campur, tapi semua orang tahu kalau Naren ikut jalan bareng, itu artinya Venus sedang ekstra serius.
Beberapa siswa berbisik melihat mereka. Venus tak peduli, kepalanya tegak.
“Kalau ada yang ngomongin kamu, bilang ke aku. Jangan diem-diem.” kata Venus sambil membuka pintu kelas untuk Elcha.
Nada itu lebih seperti perintah daripada saran, tapi ada ketulusan yang membuat Elcha tak bisa menolak.
“Aku nggak mau bikin masalah...” suara Elcha kecil.
Venus berhenti sejenak, menatapnya serius. “Kamu bukan masalah. Mereka yang bikin masalah kalau berani ganggu kamu.”
Elcha menunduk, pipinya memerah. Naren yang mendengar itu di belakang hanya senyum miring.
“Udah lah, Chill. Gue liat-liat mereka cuma ngegosip. Kalau ada yang lewat batas, gue yang maju duluan.” kata Naren santai, tangannya masuk saku.
Venus menoleh sebentar. “Naren, lo cuma back up. Gue yang urus.”
Naren mengangkat tangan seolah menyerah. “Yaudah, bos.”
Di kelas, suasana agak hening ketika mereka masuk. Venus meletakkan tas Elcha di bangkunya, lalu berdiri sebentar memastikan semuanya aman. Tatapannya tajam menyapu seluruh kelas, membuat beberapa anak yang tadi berbisik buru-buru menunduk pura-pura membaca buku.
“Duduk yang rapi. Aku ambil minum di kantin. Kamu mau apa?” tanya Venus ke Elcha.
Elcha gelagapan sebentar, lalu menjawab pelan. “Teh manis hangat.”
Venus mengangguk tanpa senyum. “Oke. Jangan kemana-mana sebelum aku balik.”
Ia berbalik, berjalan keluar kelas. Naren mengikuti dari belakang sambil melirik Elcha sebentar.
“Dia emang galak, tapi percaya aja, Cha. Lo aman kalau dia ada.”
Elcha hanya mengangguk pelan, hatinya berdebar. Cara Venus melindunginya membuatnya merasa dilihat, dijaga, dan itu sesuatu yang dulu tak pernah ia dapatkan.
Kantin siang itu ramai seperti biasa. Venus duduk di samping Elcha, kemeja seragam putihnya setengah dilipat di lengan, dasi longgar seperti biasa. Cara duduknya santai tapi mencolok—tidak ada cewek lain yang bisa terlihat begitu percaya diri dengan seragam yang sama.
Bisik-bisik sudah terdengar sejak mereka masuk tadi.
“Itu kan Venus…”
“Cantik banget ya hari ini, gila.”
“Sayang banget, udah diambil Elcha.”
“Kayanya si Elcha deh yang bikin dia kayak gini. Dulu Venus normal, kan?”
Bisik-bisik itu makin lama makin berani, beberapa cewek malah sengaja menatap sinis ke arah Elcha. Naren yang duduk di seberang mereka melirik sekeliling.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perjodohan Sejenis [GXG] Area
General Fiction⚠️ CERITA INI MENGANDUNG 21+ ⚠️ kepo sama cerita nya ? ya baca lah Author kg bisa prolog
![Perjodohan Sejenis [GXG] Area](https://img.wattpad.com/cover/330777984-64-k449836.jpg)