UTAMAKAN VOTE TERLEBIH DAHULU SEBELUM MEMBACA!
ENJOI!
______________________________________
Cahaya matahari pagi menerobos tirai tipis, membuat ruangan apartemen tampak hangat. Elcha membuka mata perlahan, tubuhnya masih terasa lemas, sementara aroma kopi samar-samar tercium dari arah dapur kecil.
Ia menoleh, dan langsung menemukan Venus sedang berdiri dengan kaos polos hitam dan celana santai, rambutnya agak berantakan, tapi justru makin tampak mempesona. Di tangannya ada dua cangkir kopi. Begitu menyadari Elcha terjaga, Venus langsung berjalan mendekat.
“Pagi,” ucapnya dengan suara berat yang baru bangun, lalu duduk di tepi sofa tempat Elcha semalam terlelap. “Tidurmu nyenyak?”
Elcha tersipu, menarik selimut lebih tinggi menutupi tubuhnya. “Aku… iya. Nyenyak banget.”
Venus tersenyum miring, matanya menatap dalam, seolah menikmati ekspresi malu gadis itu. “Bagus. Karena kamu tidur di tempat yang paling aman.”
Elcha menunduk, pipinya kembali memerah. Venus menyodorkan cangkir hangat ke tangannya. “Minum. Aku gak mau kamu lemes.”
“Aku bisa ambil sendiri, Venus.”
“Enggak.” Venus langsung menatapnya tajam. “Kamu milik aku sekarang. Aku yang urus kamu.”
Elcha terdiam, jantungnya berdegup cepat. Ia menyeruput kopi perlahan, sementara Venus duduk begitu dekat hingga bahunya menyentuh bahu Elcha.
Setelah hening sejenak, Elcha berbisik, “Kamu gak nyesel?”
Venus mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”
“Ya… kita… semalam. Aku takut kamu—”
Kalimat itu langsung terpotong karena Venus meraih wajahnya dengan kedua tangan, memaksa Elcha menatap lurus ke matanya. “Denger baik-baik, Cha. Aku gak pernah nyesel. Justru aku makin gila sama kamu. Aku gak akan biarin kamu pergi.”
Elcha menggigit bibir bawahnya, hatinya bergetar hebat.
Venus menunduk, mengecup singkat bibirnya sebelum melepaskannya lagi. “Mulai sekarang, kamu siap-siap aja. Aku bakal nempel terus, gak peduli kamu nyaman atau enggak.”
Elcha terkekeh kecil. “Venus… kamu itu nyebelin.”
“Biarin,” jawab Venus cepat, menarik tubuh Elcha ke dalam dekapannya. “Nyebelin tapi kamu gak bisa kabur dari aku.”
Suasana pagi itu penuh kehangatan. Elcha merasa dilindungi, dimiliki, tapi juga dicintai dengan cara yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Venus, dengan segala proteksinya, membuat Elcha sadar—hidupnya tak akan pernah sama lagi.
(ga sekolah soalnya libur)
•••
Jam dinding baru menunjukkan pukul sembilan ketika Elcha selesai menaruh cangkir kosongnya di meja. Ia meregangkan tubuh, menghela napas lega. Hari itu ia gak perlu ke sekolah, gak ada tugas, gak ada siapa pun yang ganggu. Untuk pertama kalinya setelah lama, Elcha merasa bisa benar-benar santai.
Venus yang sejak tadi duduk di sampingnya, menatap tanpa berkedip. Matanya mengikuti setiap gerakan Elcha, seolah takut kalau gadis itu hilang kalau ia mengalihkan pandangan sebentar.
“Kamu liatin aku terus, Ven,” ujar Elcha sambil tersenyum malu.
“Ya, biar apa? Aku punya hak liatin pacarku seharian penuh,” jawab Venus tenang, nada suaranya rendah tapi jelas ada kepemilikan di situ.
Elcha menggeleng kecil, pipinya memerah. “Kamu gak bosen?”
“Bosen?” Venus mendengus pendek, lalu menarik Elcha supaya rebah bersandar ke dadanya. “Kalau sama kamu, aku bisa tahan seumur hidup.”
Mereka berdiam begitu beberapa saat. Dari jendela, cahaya matahari masuk, menerangi apartemen sederhana itu. Elcha bisa mendengar detak jantung Venus yang stabil, dan itu bikin dia makin tenang.
“Cha,” suara Venus memecah hening, kali ini lebih serius. “Hari ini libur. Kamu gak usah mikirin apa-apa. Mau apa aja, bilang ke aku.”
Elcha menoleh, menatap wajahnya dari jarak dekat. “Mau apa aja?”
“Iya. Mau tidur, makan, nonton film, atau cuma diem di pelukan aku. Semua bisa.”
Elcha tersenyum kecil, lalu menjawab pelan, “Aku cuma mau sama kamu. Itu aja.”
Venus terdiam sejenak, sebelum akhirnya tertawa kecil, suara rendah yang jarang keluar. Ia menunduk, mengecup kening Elcha lama. “Kamu tau gak, ucapan kayak gitu bisa bikin aku makin gak waras?”
Elcha menutup wajahnya dengan tangan, malu. “Venus…”
Venus menarik tangannya turun, lalu menatap lurus ke matanya. “Aku serius, Cha. Aku gak bisa bayangin kalau kamu gak di sini. Jadi, hari ini—kamu gak boleh kemana-mana. Tetep sama aku.”
“Memang aku mau kemana?” Elcha balik bertanya, tersenyum geli.
Venus langsung mengangkat alis. “Ya makanya. Biar aku pastiin.”
Setelah itu mereka pindah ke sofa dengan selimut tipis. Venus memaksa Elcha duduk di pangkuannya sambil menyalakan TV, tapi bukannya fokus ke film, matanya malah terus mengawasi Elcha.
“Kamu tuh nonton atau jagain aku?” Elcha pura-pura protes.
“Jagain. Film bisa aku tonton kapan aja, tapi kamu cuma ada satu,” jawab Venus cepat.
Elcha terdiam, lalu tertawa kecil, merasa dadanya hangat sekali.
Hari libur itu akhirnya jadi milik mereka berdua saja. Tidak ada sekolah, tidak ada bisik-bisik orang, tidak ada yang mengganggu. Hanya ada Venus dan Elcha, saling menempel, saling menatap, seolah dunia di luar apartemen tidak pernah ada.
•••
Cahaya matahari siang menembus kaca besar mall, ramai orang lalu lalang. Elcha berjalan di samping Venus, tangannya memegang tote bag kecil. Dari tadi, matanya sibuk memperhatikan toko-toko yang berjejer.
“Ven, kita masuk sini bentar, ya?” Elcha menunjuk sebuah toko aksesoris yang lucu.
Venus langsung meraih tangannya, menggenggam erat. “Boleh. Tapi jangan lama.”
Elcha terkekeh. “Kamu kayak bodyguard, sumpah.”
“Aku bukan bodyguard. Aku pacar kamu. Bedain,” jawab Venus datar, tapi genggamannya makin erat.
Begitu masuk, beberapa pegawai toko otomatis memperhatikan Elcha—gadis berambut sebahu dengan senyum malu-malu itu memang gampang bikin orang menoleh. Venus menyipitkan mata, langkahnya mendekat, berdiri persis di belakang Elcha seolah mau nutupin dari pandangan orang lain.
“Venus, aku gak bisa lihat barangnya kalau kamu nempel terus,” protes Elcha sambil mencoba meraih gantungan kunci.
“Bagus. Biar gak ada yang bisa lihat kamu juga.” Venus berkata tanpa ekspresi, tapi tangannya masih di pinggang Elcha, menahan agar dia gak bisa jauh.
Elcha mendesah, pipinya memerah. “Kamu tau gak sih, kamu posesifnya parah banget?”
Venus menunduk, bibirnya hampir menyentuh telinga Elcha. “Biarin. Aku gak peduli. Aku cuma mau semua orang tahu kalau kamu milikku.”
Di kasir, saat Elcha mau mengeluarkan dompet, Venus langsung menahan tangannya. “Aku yang bayar.”
“Tapi aku kan—”
“Gak ada tapi. Kamu ceweknya aku. Jadi biar aku yang urus semuanya.” Tatapan Venus dingin tapi penuh keyakinan, membuat Elcha tak bisa membantah.
Setelah keluar dari toko, Elcha menggenggam kantung belanjanya sambil senyum kecil. “Aku gak biasa diperlakuin kayak gini, Ven.”
Venus meliriknya sekilas, lalu meraih tangan Elcha tanpa ragu di tengah keramaian. “Ya udah, biasain. Mulai sekarang, kamu punya aku. Dan aku gak akan lepasin kamu, di mana pun.”
Elcha terdiam, pipinya panas, tapi genggamannya balik menguat. Orang-orang boleh melihat mereka, tapi di sisi Venus, Elcha merasa aman.
Vote : 35 deh
Komen : 20
NANTI LANJUT CERITANYA KALAU UDAH TARGET TERSAMPAI !!
KOMEN WOI KOMEN
JANGAN LUPA VOTE!!
FOLLOW IG KU : @laellynaa
Untuk melihat informasi yang baruuu!!
KAMU SEDANG MEMBACA
Perjodohan Sejenis [GXG] Area
Ficção Geral⚠️ CERITA INI MENGANDUNG 21+ ⚠️ kepo sama cerita nya ? ya baca lah Author kg bisa prolog
![Perjodohan Sejenis [GXG] Area](https://img.wattpad.com/cover/330777984-64-k449836.jpg)