Venus membuka pintu mobil untuk Elcha, sikapnya seperti biasa tenang tapi protektif.
"Masuk dulu," ucapnya pelan.
Elcha duduk di kursi penumpang, menghela napas dalam. Venus masuk dari sisi lain, menyalakan mesin mobil. Hening beberapa saat, hanya suara AC yang terdengar.
Elcha akhirnya tersenyum kecil, memandangi jalanan di luar.
"Kamu senyum?" suara Venus memecah keheningan.
Elcha melirik cepat lalu pura-pura cuek. "Enggak kok..."
Venus menoleh sebentar, alisnya terangkat. "Kamu senyum. Aku lihat."
Elcha memalingkan wajah, pipinya mulai memerah. "Aku cuma... seneng aja. Kamu tadi bikin mereka diem semua. Kamu bikin aku ngerasa aman."
Venus menahan senyum. "Ya harus. Kamu kan aku yang punya."
Ucapan itu bikin Elcha langsung menunduk, jantungnya berdegup kencang.
Venus melambatkan mobilnya saat lampu merah, lalu meraih tangan Elcha di pangkuannya. "Denger aku. Kamu gak usah takut apa-apa lagi. Selama ada aku, gak akan ada yang berani bikin kamu nangis."
Air mata Elcha kembali menetes, tapi kali ini karena lega. "Aku percaya sama kamu."
Venus mengusap pipinya pelan, lalu tersenyum tipis. "Bagus. Karena aku gak akan pernah biarin kamu sendirian."
Mobil kembali melaju, tapi suasana di dalamnya terasa hangat. Elcha bersandar di kursi, senyumnya lebar sekarang. Di sampingnya, Venus sesekali melirik dengan tatapan penuh rasa memiliki, seolah memastikan kalau Elcha bener-bener merasa aman di sisinya.
Mobil berhenti di pinggir jalan, lampu jalan menyinari sebagian interior. Venus menatap Elcha dengan tatapan yang penuh intensitas, tangannya masih menggenggam erat tangan Elcha. Diam sejenak, keduanya hanya merasakan napas satu sama lain, detak jantung yang seakan berpacu.
Venus menunduk, bibirnya menyentuh leher Elcha lagi, meninggalkan bekas yang jelas. Elcha tersengal, matanya terpejam, campuran rasa gugup dan geli membuat wajahnya memerah. "Ven... jangan..." ucapnya lirih, tapi tidak menolak, tangannya malah sedikit menggenggam lengan Venus.
Venus tersenyum tipis, dominan tapi lembut. "Aku bilang, kamu milikku, Elcha. Aku yang pilih kamu, jadi biar aku yang atur semuanya." Suara Venus rendah tapi pasti, membuat Elcha merasakan kehangatan sekaligus rasa aman yang aneh.
Elcha membuka mata, menatap Venus dengan campuran kagum dan malu. "Aku... aku cuma mau kamu, Ven," jawabnya pelan, bibirnya gemetar.
Venus meraih dagu Elcha, menahan wajahnya dekat. Bibir mereka bertemu, saling menempel, saling menukar kehangatan, saling menyesuaikan napas. Setiap gerakan terasa lambat, penuh kesadaran, seakan dunia hanya milik mereka berdua.
"Mau aku buktiin lagi kalau aku yang kecintaan sama kamu?" bisik Venus di telinga Elcha, suaranya membuat bulu kuduk berdiri.
Elcha menelan ludah, jantungnya berdetak lebih kencang. "Buktikan... aku mau kamu sekarang," jawabnya, lirih tapi yakin, tangannya memegang lengan Venus lebih erat.
Venus menunduk lagi, bibirnya menempel di pipi Elcha, turun ke leher, mencium dengan lembut tapi menandai setiap sentuhan dengan intensitas. Setiap gerakan membuat Elcha tersengal, napasnya bercampur dengan Venus.
Napas mereka berdua mulai berat, tetapi mobil tetap menjadi dunia mereka sendiri, sepi dari gangguan luar. Venus menatap mata Elcha, tatapan itu penuh janji dan dominasi. "Ingat... aku yang pilih kamu. Kamu milikku, dan semua orang harus tau kalau aku serius sama kamu."
Elcha hanya bisa mengangguk, meletakkan kepalanya di bahu Venus, merasakan hangat dan aman sekaligus intensitas rasa yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Mobil yang sepi, lampu jalan yang redup, menjadi saksi dari ikatan mereka-romantis, panas secara emosional, dan penuh janji.
Venus masih menahan dagu Elcha, ibu jarinya mengusap pelan pipi yang memerah. Napas mereka masih belum teratur. Mobil tetap berhenti di pinggir jalan, seakan memberi mereka waktu lebih lama.
"Kenapa kamu diem?" tanya Venus, suaranya rendah tapi lembut.
Elcha menunduk sedikit, wajahnya makin merah. "Aku... aku malu," gumamnya.
Venus tersenyum miring, mendekatkan wajahnya lagi. "Malu kenapa? Kamu pacarku. Aku boleh melakukan ini kapan pun aku mau."
Elcha menghela napas pelan, matanya menatap Venus dengan campuran pasrah dan rindu. "Aku cuma takut ketahuan orang..."
Venus tertawa kecil, suaranya rendah. "Kita di sini cuma berdua, Cha. Gak ada yang bisa ganggu kita." Ia mencondongkan tubuh, bibirnya kembali menyentuh leher Elcha, kali ini lebih lama, meninggalkan jejak yang lebih jelas.
"Elcha..." Venus berbisik dekat telinga, nadanya serius. "Aku gak peduli kalau satu sekolah ngomongin kamu. Yang penting kamu tahu, aku di sini buat kamu."
Elcha mengangkat wajahnya, menatap mata Venus yang dalam. "Kamu gak nyesel pacaran sama aku?"
Venus menggeleng pelan, senyumnya tulus. "Enggak. Kamu itu pilihan terbaik yang pernah aku buat."
Elcha merasa dadanya hangat mendengar itu. Dia tersenyum kecil, matanya sedikit berair. "Aku cuma... aku capek, Ven. Semua orang selalu nyalahin aku."
Venus langsung menarik Elcha ke pelukannya, memeluk erat sampai Elcha bisa dengar detak jantungnya. "Denger aku, Cha. Kamu gak salah. Aku yang mau sama kamu, aku yang jatuh cinta duluan, jadi biar aku yang hadapin mereka semua."
Elcha menggenggam baju Venus, merasa aman di pelukan itu. "Aku sayang kamu," bisiknya lirih.
Venus menunduk, menempelkan keningnya ke kening Elcha. "Aku juga sayang kamu. Lebih dari yang kamu kira."
Sunyi beberapa detik. Hanya ada suara napas mereka yang pelan. Venus kemudian tersenyum tipis, menatap Elcha dengan pandangan nakal. "Besok, biar semua orang lihat kalau aku yang kecintaan sama kamu. Aku bakal gandeng tangan kamu dari gerbang sekolah."
Mata Elcha membesar. "Venus... serius?"
"Serius," jawab Venus mantap. "Aku mau semua orang tahu kamu pacar aku. Biar gak ada yang berani ngomongin kamu lagi."
Elcha tersenyum, untuk pertama kalinya sejak pagi. Rasa sakit hati yang tadi dia bawa dari toilet perlahan hilang. Dia merasa dilindungi.
Mobil kembali melaju perlahan. Di kursi penumpang, Elcha meraih tangan Venus dan menggenggamnya erat. Mereka tidak banyak bicara, hanya saling tersenyum. Malam itu, Elcha tahu satu hal dia tidak sendirian lagi.
Vote : 200
Komen : 100
LANJUT CERITANYA!
JANGAN LUPA VOTE!!
FOLLOW IG KU : @laellynaa
Untuk melihat informasi yang baruuu!!
KAMU SEDANG MEMBACA
Perjodohan Sejenis [GXG] Area
Ficción General⚠️ CERITA INI MENGANDUNG 21+ ⚠️ kepo sama cerita nya ? ya baca lah Author kg bisa prolog
![Perjodohan Sejenis [GXG] Area](https://img.wattpad.com/cover/330777984-64-k449836.jpg)