S2 part 13

482 10 0
                                        

VOTE SEBELUM MEMBACA! ENJOI!!
______________________________________

Salju pertama turun pagi itu. Udara begitu dingin, bahkan napas terasa membeku.
Venus berdiri di balkon kamar barunya, menatap halaman luas rumah besar yang kini jadi tempat tinggalnya. Rumah itu megah, tapi hampa. Seolah setiap sudutnya hanya tahu kata kesepian.

Lima pembantu berjalan sibuk sejak pagi—menyiapkan sarapan, menyapu taman, menyalakan perapian. Semua tertata, sempurna, seperti yang disukai Ibunda.
Namun bagi Venus, semuanya terasa palsu.

Di lantai bawah, suara langkah Agra terdengar. Lelaki itu mengenakan mantel abu, rambutnya sedikit berantakan.
“Makan, Ven,” ucapnya datar, tapi suaranya terdengar sopan.
Venus menoleh sebentar. “Aku gak lapar.”

Agra menghela napas, lalu duduk di kursi panjang ruang tamu. “Kamu mau sakit lagi?”
Venus diam. Ia tidak ingin marah, tapi setiap kali mendengar suara Agra, hatinya seolah menolak. Bukan karena benci, tapi karena kehadiran Agra mengingatkannya—bahwa ia tidak bebas.

“aku cuma disuruh jaga kamu,” kata Agra lagi, seolah bisa membaca pikirannya. “aku gak akan nyentuh kamu atau ganggu apa pun. cuma… jangan terus menyiksa diri, Ven.”
Venus tak menjawab. Ia berjalan kembali ke kamarnya, menutup pintu perlahan.

•••

Hari-hari berlalu di sekolah baru yang elit dan dingin.
Teman-teman barunya sopan, tapi menjaga jarak. Mereka tahu Venus anak orang kaya dari Asia yang katanya punya “masalah keluarga.”
Venus tak peduli. Ia datang ke kelas, belajar, lalu pulang tanpa bicara banyak.

Satu-satunya hal yang membuatnya bertahan adalah diary kulit cokelat yang ia simpan di laci meja belajarnya.
Setiap malam sebelum tidur, ia menulis.

> Hari ke-3 di sini.
Elcha, aku lihat salju hari ini. Kamu pasti suka. Tapi aku gak tahu kenapa salju di sini terasa sesepi itu.
Mungkin karena kamu gak ada buat tertawa di sebelahku.

•••

Hari ke-7.

> Elcha, aku mulai bisa bahasa mereka sedikit-sedikit. Tapi setiap kali aku dengar suara mereka, aku malah ingat suaramu.
Aku takut aku bakal lupa cara kamu tertawa. Jadi aku tulis semuanya di sini. Suaramu, caramu marah, caramu nyengir.
Biar gak hilang.

•••

Hari ke-14.

> Ibunda kirim pesan hari ini. Isinya cuma: “Jaga nilai kamu. Jangan kecewakan keluarga.”
Aku gak tahu harus jawab apa. aku cuma nulis “iya”.
Tapi aku mau bilang ke kamu, Elcha… aku capek jadi anak sempurna.

•••

Suatu malam, Venus ketiduran di meja belajar dengan pena masih di tangan.
Agra mengetuk pintu pelan, lalu masuk membawa selimut.
Ia menatap wajah Venus yang tertidur, lalu diary yang terbuka di depan gadis itu.

Beberapa kalimat terbaca jelas. Nama Elcha tertulis di setiap halaman.
Agra menelan ludah, lalu menutup buku itu perlahan tanpa berkata apa pun.

Ia tahu gadis itu masih mencintai seseorang yang jauh, dan mungkin tidak akan pernah bisa berhenti.

•••

Hari ke-30.

> Elcha, aku mimpiin kamu semalam.
Kamu marah karena aku gak pamit.
Maaf… aku juga gak siap ninggalin kamu.
Tapi kalau kamu baca ini suatu hari nanti—aku cuma mau kamu tahu: aku masih cinta kamu, bahkan dari tempat sejauh ini.

Venus menutup diary-nya, menatap bulan dari jendela besar kamarnya.
Salju masih turun di luar sana, tapi anehnya, untuk pertama kalinya… ia tersenyum tipis.

Perjodohan Sejenis [GXG] AreaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang