S2 part 7

956 20 2
                                        

VOTE DULU WOI !!

Cahaya matahari menembus celah tirai, jatuh ke sprei kusut yang masih menyimpan sisa semalam. Elcha meringkuk di pelukan Venus, wajahnya menempel di dada bidang kekasihnya, napasnya pelan tapi masih terasa berat. Bibirnya merah bengkak, rambut pirangnya berantakan menutupi sebagian pipi.

Venus membuka mata sejak lama, menatap setiap detail Elcha dengan tatapan posesif. Ia mengangkat jemarinya, mengusap lembut garis rahang Elcha, lalu menunduk mencium pelipis gadis itu. “Cantik banget…” bisiknya rendah, hampir seperti gumaman untuk dirinya sendiri.

Elcha bergerak kecil, tubuhnya menggeliat. Kelopak matanya setengah terbuka, dan ketika mendapati Venus menatapnya begitu dekat, wajahnya langsung memerah. “Ven… jangan liatin aku terus… malu…” suaranya serak, pelan.

Venus hanya tersenyum miring, tangannya segera menarik pinggang Elcha lebih dekat. “Biarin. Kamu pacarku. Aku berhak liatin kamu sepuasnya.” Suaranya mantap, nada dominan yang bikin jantung Elcha berdegup lebih kencang.

“Ven… udah pagi,” Elcha mencoba protes, meski suaranya lemah. “Kita harus siap-siap…”

Venus mendengus kecil, lalu menunduk, bibirnya menempel di leher Elcha. Satu kecupan ringan berubah jadi ciuman yang lebih lama, meninggalkan jejak merah. Elcha terkejut, tubuhnya langsung kaku sesaat, sebelum desahan pelan lolos dari bibirnya. “Ah… Ven…”

Venus tersenyum tipis mendengar itu. “Aku suka banget denger suara kamu,” gumamnya di telinga Elcha, nadanya dalam. “Jangan ditahan.”

Elcha menutup mata, tubuhnya bergetar halus. Tangan mungilnya menggenggam lengan Venus erat, mencoba menahan rasa yang merayap di tubuhnya. “Kamu… jahat… bikin aku nggak bisa nafas,” desahnya, terputus-putus.

Venus menahan dagu Elcha, memaksa wajahnya terangkat. Tatapan hitam itu tajam, menekan, membuat Elcha tak bisa mengelak. “Denger aku, Cha. Kamu punyaku. Setiap napas kamu, setiap desahan kamu, semua cuma buat aku.”

Ucapan itu membuat Elcha tak sanggup menahan lagi. Bibirnya terbuka, mengeluarkan suara lirih yang ia sendiri malu mendengarnya. Napasnya semakin tak beraturan, bercampur dengan napas berat Venus yang sengaja menempel di telinganya.

“Ven…” Elcha memanggil namanya lagi, kali ini dengan nada goyah.

Venus menjawab dengan ciuman di bibirnya—panas, dalam, memabukkan. Suara desahan mereka pecah di antara ciuman itu, memenuhi kamar yang sunyi. Venus tidak membiarkan Elcha bergerak, kedua tangannya menahan pinggang gadis itu erat, menegaskan bahwa ia tidak akan melepaskannya.

Waktu berjalan, tapi keduanya seakan lupa pagi sudah datang. Tirai yang menutup jendela membuat ruangan tetap redup, hanya dipenuhi suara napas berat, desahan singkat, dan detak jantung yang berpacu.

Saat akhirnya Venus melepaskan bibirnya, Elcha sudah terengah, pipinya basah oleh keringat halus. “Kamu… gila, Ven…” katanya lirih, masih bergetar.

Venus tersenyum, menempelkan keningnya ke kening Elcha. “Aku emang gila. Tapi cuma buat kamu.”

Tangannya kembali mengusap pipi Elcha, lembut namun penuh kepemilikan. “Cha… kalau bisa, aku mau tiap pagi kamu bangun begini. Di sampingku. Di pelukan aku. Biar semua orang tahu—kamu nggak ke mana-mana selain sama aku.”

Elcha menatap matanya, lalu mengangguk kecil. Napasnya masih tersengal, tapi senyum samar muncul di bibirnya. “Aku… aku nggak mau ke mana-mana, Ven. Aku cuma mau sama kamu.”

Venus kembali mencium bibirnya singkat, tapi intens. Lalu, tanpa melepas pelukan, ia berbisik rendah di telinganya—suara yang membuat Elcha kembali menahan desahan.

Perjodohan Sejenis [GXG] AreaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang