Suara burung yang berkicau riang menemani sapaan sinar mentari yang mulai menyinari langit. Waktu menunjukkan pukul 06.30 WIB. Dalam ketenangan alam yang mengelilingi, ada seorang gadis duduk di depan layar laptop dengan sangat fokus, menelusuri informasi seputar Luna.
"Lho kok?? Kok beritanya udah nggak ada, padahal semalem trending. Bahkan nggak ada sedikit pun jejaknya," gerutu Anya, tombol-tombol keyboard terus ia ketuk dengan keras dan agresif.
Keputusasaan terlihat jelas dari nadanya, bahkan rambutnya yang terurai tampak berantakan karena ia mengacak-acaknya dengan frustasi. "Sial."
Tiba-tiba, sebuah ide terlintas dalam benaknya. "Apa gue telp Luna aja kali ya? Tapi kalo dia belum pulih? Percuma." Anya menggigit bibirnya, jari-jarinya melayang di atas layar ponsel, ragu untuk menekan tombol telepon. "Tapi gak ada salahnya kalo belum coba." Dia mencoba mengibaskan pikiran negatif tersebut, jari-jarinya bergerak cepat mencari nama Luna di daftar kontak ponselnya.
Nada sambung yang terus berdering terasa seperti ejekan baginya. Sembilan belas kali berdering, dan pada panggilan ke-20, layar itu hanya menampilkan tulisan memanggil. Anya menutup panggilan, namun keputusasaan itu justru menyulut api tekad dalam dirinya. Satu alisnya terangkat, dan sudut bibirnya melengkung tipis penuh keyakinan. Ini adalah ide yang berisiko, namun ia harus melakukannya. Tidak ada pilihan lain.
"Sekolah Angkasa Raya."
"Sekarang gue tau apa yang harus gue lakuin." Dengan langkah pasti, Anya langsung menuju ruang kerja Bunda. Ia tak ingin membuang waktu terlalu lama, determinasinya terlihat jelas dari raut wajahnya yang serius. Bunda sedang asyik mengamati produk skincare terbaru, tak menyadari kedatangan Anya yang tiba-tiba berdiri di samping meja kerjanya.
"Heh! Ngagetin aja."
****
Setelah Anya bercerita panjang lebar, ia memberanikan diri untuk mengungkapkan tujuannya. Namun, Bunda menggeleng lembut. "Kamu yakin? Bunda rasa nggak perlu ikut campur urusan mereka. Fokus saja dengan kehidupanmu, Anya," kata Bunda, suaranya sarat dengan penolakan halus namun tegas.
"Kok Bunda bilang gitu? Aku yakin 99% Bun. Please, ini permintaan anak Bunda sendiri... Bagaimana pun juga dia itu kakak aku. Bunda jangan lupa kalau anak Bunda itu ada dua, aku sama Luna." Anya memeluk lengan Bunda, matanya berbinar-binar, suaranya terdengar manja dan penuh rayuan.
Bunda mengusap wajahnya dengan lembut, jari-jarinya bergerak perlahan seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu yang berat. Ia menghela napas panjang sebelum berkata, "Mana mungkin Bunda lupa. Tapi, menurut Bunda itu terlalu bahaya, cukup doakan dan jenguk saja. Kalau kamu kekeh, kamu harus mikirin konsekuensinya dengan matang. Kita nggak tau apa yang akan terjadi di masa depan, Anya."
Anya menganggukkan kepalanya dengan mantap, tatapannya teguh dan penuh tekad. "Aku nggak peduli apapun itu Bun, aku bakal tetap lakuin. Selain itu, aku juga mau... berhenti renang, Bunda. Aku yakin aku bisa."
Bunda tertegun sejenak, matanya melebar tak percaya. Ia menggeleng pelan, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Berhenti renang? Kamu nggak salah bicara? Renang itu hobi, dan prestasi kamu. Kenapa kamu mau ngorbanin renang??" tanya Bunda dengan wajah yang kebingungan.
"Seisi duniaku juga bakal aku korbanin kalo menyangkut Luna dan Bunda. Aku cuma mau fokus sama masalah ini. Kalo aku terus-terusan berenang, aku nggak bakal bisa fokus pada satu arah," jelasnya menatap Bunda dengan penuh makna. "Aku yakin kok sama keputusan sendiri."
KAMU SEDANG MEMBACA
Identitas Tersembunyi
Misterio / SuspensoAnya dan Luna adalah anak kembar yang non-identik dengan kepribadian yang bertolak belakang. Luna, yang lembut dan sensitif, menjadi korban bullying yang kejam di sekolah. Perlakuan buruk yang diterimanya, ditambah dengan pengaruh negatif dari lingk...
