Pikiran Anya dipenuhi teka-teki. Kejadian di ruang Kepala Sekolah dan peringatan misterius dari Maya terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
"Anya."
Sebuah suara berat yang tiba-tiba memanggil namanya membuat Anya tersentak. Ia langsung berbalik dengan tatapan waspada, siap memasang kuda-kuda bertarung lagi.
"Santai aja kali," Samuel mengangkat kedua tangannya ke udara, terkekeh melihat komuk Anya yang tegang. "Gue Samuel, temen sekelas lo yang tadi menyelamatkan jam pertama dari keheningan gaib," ucapnya sembari mengulurkan tangan.
Anya melirik tangan Samuel sekilas, lalu menatap wajah lelaki itu datar tanpa berniat membalas ulurannya. "Gue tahu. Yang bilang sekolah gue mirip nama bapak-bapak pos ronda, kan?" sahut Anya ketus.
Samuel menarik kembali tangannya tanpa beban, memasukkan kembali kedua tangannya ke saku celana. "Eh, bentar... dahi lo bocor tuh." Ia menunjuk dahi Anya yang sedikit mengeluarkan darah akibat headbutt brutalnya ke dagu Shintya tadi.
Refleks, tangan Anya terangkat meraba dahinya. "Cuma lecet. Kagak mati juga," jawabnya lempeng, sok tangguh.
Tanpa babibu, Samuel langsung menarik lengan seragam Anya, membawanya duduk di bawah pohon beringin rindang dekat lapangan sekolah. Angin sejuk siang itu sedikit mendinginkan kepala Anya yang sempat mendidih.
Ia merogoh saku seragamnya, mengeluarkan sebungkus Hansaplast bergambar animasi lucu. "Heh, sekuat-kuatnya lo, luka tetep luka. Perih, kan? Sini, diem," perintah Samuel.
Sebelum Anya sempat protes, Samuel sudah condong maju dan menempelkan plester itu ke dahinya dengan gerakan yang lumayan teliti.
Jarak mereka yang mendadak dekat membuat Anya sempat menahan napas sejenak. Ia berdeham canggung, matanya melirik ke arah lain. "Biasa aja... tapi, ya, thanks," gumam Anya, suaranya mengecil, sebuah rekor baru bagi seorang Anya Raelia.
Samuel mundur, tersenyum puas melihat hasil karyanya. "Tapi jujur, lo keren sih tadi. Selama ini jarang ada murid yang berani ngacak-ngacak komisioner circle-nya Shintya."
Anya menyeringai tipis. "Emang kenapa sih? Takut amat sama dia? Cuma karena dia anak Kepsek?" tanya Anya memancing, matanya menyipit penuh arti.
Samuel tersentak, lalu mengangguk pelan. "Baru beberapa jam di sini, info lo udah update aja. Iya, bokap-nyokapnya donatur terbesar, ditambah emaknya Kepala Sekolah di sini. Makanya kelakuan bully mereka selalu rapi ditutupin. Saran gue, mending lo..."
"Jangan nyari ribut sama mereka. Iya, kan?" potong Anya cepat, langsung menebak kalimat klise itu. Ia memalingkan wajah, menatap lapangan kosong sambil merenung.
Samuel terkekeh tipis.
Melihat Samuel di sampingnya tampak tipe yang tahu banyak hal, Anya langsung memanfaatkan momen. "Gue boleh nanya nggak? Korban si Shintya sama mak lampir yang dua itu... siapa aja?"
Samuel menoleh, menatap Anya lekat-lekat. Keningnya berkerut dalam, menyadari arah pertanyaan Anya yang mendadak serius untuk ukuran anak baru yang baru kenal semenit.
Melihat respons Samuel yang mendadak pasif, Anya segera meralat ucapannya supaya tidak mencurigakan. "Ya... gue cuma nanya doang sih. Kepo aja. Kalau lo takut mau cerita juga gapapa, nggak maksa." Ia mengibas rambut panjangnya santai, pura-pura tidak acuh.
Samuel menghela napas pendek, menyerah pada tatapan mendesak Anya. "Lo tahu Maya, kan? Dia salah satu korbannya. Tapi... bukan dia doang. Luna juga korban. Temen sekelas kita juga yang sekarang... udah nggak pernah masuk lagi."
KAMU SEDANG MEMBACA
Identitas Tersembunyi
Mystery / ThrillerSemua orang bilang itu hanya kecelakaan. Namun, Anya tak ingin mempercayainya. Setiap petunjuk yang ia temukan di sekolah ini, justru menggoyahkan semua hal yang selama ini ia yakini. Sebab, di balik wajah-wajah tanpa dosa, tersembunyi sesuatu yang...
