Chapter 7

79 29 7
                                        

Pikiran Anya dipenuhi teka-teki. Kejadian di ruang kepala sekolah dan percakapan misterius dengan Maya masih mengganjal di benaknya. Tiba-tiba, suara berat, "Anya," membuatnya tersentak, menoleh dengan waspada.

"Ohh, hai?" sahut Anya, senyum tipisnya tampak dipaksakan, menunjukkan kecanggungannya.

Samuel menatap Anya sejenak sebelum mengulurkan tangannya. "Gue Samuel, temen kelas lo," katanya, suaranya tenang namun sedikit misterius.

Anya memberikan senyum singkat, sebuah penolakan halus terhadap uluran tangan Samuel. "Oke, gue Anya," ujarnya, nada bicaranya datar dan tanpa ekspresi.

Samuel mengeluarkan napas berat dan menarik kembali tangannya. "Eh, maaf? Kening lo..? Berdarah." Pandangannya terkecoh pada dahi Anya yang berdarah.

Tangan Anya terangkat dengan cepat, meraba lukanya. "Gapapa, udah biasa," katanya, suaranya datar tanpa menunjukkan rasa terkejut atau terganggu.

Di bawah pohon beringin rindang dekat lapangan sekolah yang luas, Samuel menarik tangan Anya untuk duduk. Udara sejuk dan teduh, ditemani kicauan burung, menciptakan suasana yang menenangkan.

Dengan hati-hati, ia mengeluarkan Hansaplast dari kantongnya, matanya tertuju pada luka di dahi Anya. "Kalo pun lo udah biasa, luka tetep luka, pasti sakit," katanya, lalu dengan sentuhan lembut seperti bulu, ia menempelkan Hansaplast tersebut.

"Ini cuma goresan doang, tapi... makasih ya." Senyum Anya kali ini tulus dan hangat, sebuah perubahan yang mencolok dari sikap sebelumnya.

"Lo keren, selama ini jarang ada yang berani berurusan sama circle mereka," puji Samuel, tatapannya dipenuhi kekaguman. Ia benar-benar terkesan dengan perilaku Anya kepada Shintya.

Dengan anggukan kepala dan seringai tipis, Anya bertanya, "Thanks... Kalo gue boleh tau, kenapa nggak ada yang berani? Apa karna dia anak kepala sekolah?" Nada suaranya pelan dan penuh arti saat menyebut jabatan tersebut, menunjukkan sedikit sinisme.

Samuel mengangguk pelan. "Hebat juga lo, baru masuk tapi udah banyak pengetahuan. Selain itu, pasti lo udah tau dari gesturnya, mereka pembully. Cuma ya gitu, sekolah ini selalu aja tutupin kasusnya," ujarnya, suaranya dipenuhi rasa frustasi. "Biasa lah anak kepsek. Saran gue..." Anya memotong ucapannya sebelum Samuel sempat menyelesaikan kalimatnya.

"Jangan berurusan dengan mereka. Itukan yang mau lo bilang?" sambung Anya, matanya menunjukkan bahwa ia telah memahami maksudnya dengan sempurna. Ia memalingkan wajah, bukan karena menghindari Samuel, tapi karena ia sedang merenungkan pesan tersebut.

Setelah Samuel tersenyum tipis, Anya langsung melontarkan pertanyaan dengan rasa penasaran yang membara, "Oh iya, kalo gue boleh tau, siapa aja yang jadi korban Shintya dan teman-temannya?" Matanya berbinar-binar penuh harap.

Dengan hati-hati, Samuel menoleh ke arah Anya. Matanya menyipit, keningnya berkerut dalam, menunjukkan kehati-hatiannya dalam menjawab pertanyaan yang cukup sensitif itu.

"Salah kah? Gue cuma mau tau doang. Kalo emang lo nggak mau kasih tau sih ya gapapa, nggak maksa juga," balas Anya dengan matanya yang berbinar. Dia menggerakkan tangannya dengan lambat menyisiri rambutnya, seolah menunjukkan bahwa dia tidak berniat menekan Samuel untuk menjawab.

Samuel menghela napas kecil sebelum memulai bicara. "Lo tau Maya? Dia salah satu korban Shintya, bukan dia doang... Luna juga, teman kelas kita. Mereka berdua itu dulunya temenan, tapi entah kenapa mereka sekarang asing banget," ujarnya, pandangannya sesekali menunduk sebelum kembali menatap Anya.

Anya mengangguk, seolah sebuah teka-teki hampir terpecahkan. Namun, pertanyaan selanjutnya muncul, membawa rasa penasaran yang lebih besar. "Terus, gimana caranya Shintya bisa manfaatin Luna?"

Identitas Tersembunyi Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang