Bayangan senja menari di balik jendela kamar, menciptakan siluet dua gadis yang begitu berbeda, siluet itu menggambarkan perbedaan yang sangat mencolok antara mereka. Aroma buku-buku tua dan logam memenuhi ruangan, bercampur dengan hawa dingin yang menusuk dari jendela yang terbuka sedikit.
Luna, dengan rambut hitam panjangnya yang dikepang rapi dan berkilau seperti sutra, tampak begitu tekun memperhatikan robot kecil buatan Papa yang sudah usang dan rusak. Robot itu berderit pelan dan terasa dingin serta kasar saat disentuh, namun tetap dirawat dengan penuh kasih sayang.
Di mata orang lain, Luna mungkin terlihat seperti seorang gadis kutu buku. Namun, bagiku, dia sungguh cantik, sekalipun beberapa orang menganggap gayanya kuno karena selalu membawa robot usangnya.
Jangan salah, di balik penampilannya yang sederhana, Luna memiliki kemampuan luar biasa. Kemampuannya memecahkan soal matematika tingkat lanjut dengan cepat, dan merancang program komputer yang kompleks. Itu cukup untuk membuktikan kecerdasannya yang luar biasa.
Ketika kami masih berusia 10 tahun, orang tua kami sering sekali bertengkar, bahkan hanya karena masalah sepele mereka memperbesar masalah itu... Kami mencoba menutup pintu kamar, bersembunyi dibalik selimut, namun, suara itu tetap menggelegar, menghantam kedamaian malam.
Malam, yang biasanya menyapa dengan pesona bintang berkelap-kelip dan udara yang menyejukkan tubuh kami, kini terasa dingin dan menusuk seperti pisau tak terlihat.
Di tengah bisikan angin malam yang dingin, aku bertanya-tanya, "Kenapa malam ini berbeda? Kenapa mereka berani melakukan ini? Kenapa Papa, yang seharusnya menjadi pahlawan, malah mnghancurkan keluarganya sendiri? Kenapa mereka setega ini kepada kami? Jika akhirnya begini, maka tidak usah menikah dari awal, ini malah membuat kami tertekan dengan tingkah kalian. Ribut, ribut, ribut." Aku mengatupkan tangan erat, seolah ingin meredam amarah yang meluap dalam diriku.
Dengan air mata berlinang deras, Bunda meminta cerai... dan itu membuat Papa dan Bunda bertengkar hebat. Suara ribut menggema di sekitar kami, benda tajam berjatuhan, dan suara pecahan kaca membuatku dan kakakku sangat ketakutan. Dada kami sesak, melihat mereka terus-terusan seperti ini.
Aku dan Luna tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa duduk di kamar dan menahan air mata yang mengalir. Luna mengelus kepalaku dan menutup kedua telingaku. Ia berusaha menenangkan adiknya, padahal... dirinya sendiri juga butuh ditenangkan. Kami berpegangan tangan erat, seolah ingin mencari kehangatan di tengah suasana yang mengerikan itu. Kejadian itu tak akan pernah terlupakan dan akan menjadi momen yang paling kelam bagi kami... dan malam yang menyakitkan.
Setelah perpisahan itu, rumah kami yang dulunya utuh terbagi menjadi dua. Luna tinggal bersama Papa, dan aku tinggal bersama Bunda. Kami jarang bertemu sejak saat itu, tapi kami tetap saling menjaga komunikasi. Sakit rasanya berpisah dari saudara sekaligus teman bermain.
Tiba pada suatu hari, aku mendengar kabar bahwa Papa telah menikah lagi, sebuah berita yang menusuk seperti hujan dingin yang membasahi kaca jendela. Aku menatap ke luar, air mata memburamkan pandanganku, seolah ingin mencari jawaban di antara buih-buih hujan yang jatuh.
Sepertinya, anak kembar satu ini memang ditakdirkan berpisah ya? Bagaimana lagi, Papa tidak mau berubah, dan akan memilih orang baru itu. Dia penghancur! Aku membenci wanita itu, dia bagaikan monster yang tiba-tiba datang ke dalam kehidupan kami.
⚠️⚠️⚠️
_____________________________________________________________________
Namun, sebelum melanjutkan kisah Anya, mari kita dengarkan terlebih dahulu cerita Luna setelah peristiwa itu terjadi.
_____________________________________________________________________
Tujuh tahun telah berlalu dan kehidupan pun berubah secara perlahan. Keluarga kecil yang awalnya harmonis telah sibuk masing-masing setelah perpisahan yang menyakitkan.
Matahari terbit dengan cahaya yang menakjubkan, menyapa pagi yang cerah dengan udara sejuk yang menyegarkan. Suara burung berkicau merdu di langit biru yang tak berawan.
"Luna! Bisa buruan nggak, klien Papa udah nungguin," teriak Papa dari lantai bawah, melirik jam tangannya.
Dengan jantung berdebar, aku berlari menuruni anak tangga dengan tas besar yang berada di pundak. "Iya Papa... tungguin Luna."
Papa menarik napas panjang lalu mengajakku masuk ke mobil. Perjalanan menuju sekolah terasa hening, hanya deru mesin yang menemani.
Setelah sampai di sekolah, semua orang menatap diriku dengan tatapan yang sinis dan tajam. Aku tak tahu kenapa sekarang, semua orang terlihat begitu membenciku, padahal sebelumnya mereka sering memuji diriku.
Suara langkah kaki itu semakin keras, semakin dekat. Detak jantungku tiba-tiba berdebar kencang. Aku merasakan dorongan kuat di bahu sehingga tubuhku terhempas ke lantai. Tatapan gadis itu... penuh dengan kebencian dan penghinaan, membuatku merasa... sangat kecil dan lemah di hadapan mereka. "Nggak sengaja," kata Shintya dengan senyum mengejek. "Jatuh ya? Lemah banget, dasar jalang." Kata-katanya menusukku lebih dalam daripada rasa sakit di tubuhku.
Belum sempat aku bangkit, Kayla muncul di depanku. "Letoy," cibirnya, matanya menyipit penuh penghinaan. Gea mengangguk-angguk setuju, bibirnya membentuk seringai kecil yang menyebalkan. "Tempat ini nggak cocok buat you," ucapnya, suaranya sedikit lebih pelan daripada Kayla, namun nada mengejeknya jelas terdengar.
Aku berpikir kehidupanku di sekolah akan baik-baik saja, tapi kenyataannya... semua telah berubah, baik di rumah maupun di sekolah.
"Maaf Shin... Kamu pasti punya mata kan? Lain kali hati-hati ya kalo jalan," sahutku, mengangkat kepala perlahan sambil memaksakan senyum tipis yang terasa getir di bibirku.
"OMG! Lo udah punya nyali ya buat ngejawab?" Matanya melotot tajam, seolah ingin menerkamku. "Temuin gue di atap sekolah, pas jam istirahat," bisik Shintya ke telingaku.
tringg... Suara lonceng yang nyaring dan tegas membahana di seluruh sekolah, menandakan dimulainya hari pelajaran.
Siswa-siswi berlarian dan berdesakan di koridor sekolah yang ramai. Aku berjalan sendirian, langkahku gontai dan berat, mengendong tas besar yang terasa semakin berat karena beban pikiran. "Kenapa aku harus bertemu orang kayak mereka, kenapa harus aku..." Suaraku hampir tak terdengar di tengah hiruk pikuk koridor sekolah. Aku merasa terisolasi, terasingkan dari dunia sekitar, dihantui oleh rasa sakit dan ketidakadilan.
****************
Jangan lupa vote, komen n follow sebelum lanjut ke bab berikutnya.
--- 🦢🤍 ---
KAMU SEDANG MEMBACA
Identitas Tersembunyi
Misterio / SuspensoAnya dan Luna adalah anak kembar yang non-identik dengan kepribadian yang bertolak belakang. Luna, yang lembut dan sensitif, menjadi korban bullying yang kejam di sekolah. Perlakuan buruk yang diterimanya, ditambah dengan pengaruh negatif dari lingk...
