- Prolog

317 57 29
                                        

Bayangan senja merambat perlahan melewati jendela kamar, membiaskan cahaya jingga yang hangat ke setiap sudut ruangan. Sinar itu jatuh di antara rak-rak buku tua yang tersusun rapi, memanjang hingga menyentuh meja kerja yang dipenuhi berbagai barang rakitan. Di dalam kamar kecil itu, aroma kayu, logam, dan debu yang samar berpadu menjadi kehangatan yang sudah begitu akrab.

Di dekat jendela, Luna duduk bersila dengan sebuah robot kecil di pangkuannya. Ia memperlakukannya begitu hati-hati, seolah benda itu bukan sekadar mainan, melainkan sesuatu yang jauh lebih berharga. Jemarinya memutar baut yang mulai longgar, lalu mengusap debu yang menempel di sana menggunakan sapu tangan lusuh pemberian Bunda yang sejak dulu selalu ia simpan.

Kriik...

Suara berderit pelan terdengar ketika salah satu lengan robot itu digerakkan. Cat di beberapa sisinya telah memudar, sementara bagian logamnya mulai dipenuhi bercak karat.

Namun semua itu tak sedikit pun mengurangi kelembutan tatapan Luna. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis, menatap lurus seolah ada memori yang berputar di sana.

Tak jauh darinya, Anya menopang dagu sambil memperhatikan setiap gerakan sang kakak. "Masih bisa dibenerin?" tanyanya penasaran.

Luna mengangguk pelan. "Kalau dirawat, semua pasti bisa bertahan lebih lama."
Tangannya kembali mengusap kepala robot itu dengan penuh kehati-hatian. "Apalagi... ini hadiah dari Papa."

Anya hanya tersenyum kecil. Sejujurnya, ia tak pernah benar-benar mengerti mengapa Luna begitu menyayangi robot tua itu. Baginya, robot tersebut hanyalah mainan usang yang catnya mulai mengelupas dan tak lagi secantik dulu.

Namun setiap kali melihat sorot mata Luna yang selalu berubah lembut saat memegangnya, Anya tahu... bahwa benda itu menyimpan sesuatu yang tak bisa digantikan oleh mainan baru semahal apa pun.

Memang sejak kecil Luna selalu berbeda. Ketika anak-anak lain menghabiskan sore dengan berlari di luar rumah atau bermain bersama teman-teman mereka, Luna justru lebih senang tenggelam di antara buku-buku pengetahuan, membongkar mainan yang rusak hanya untuk melihat isi di dalamnya, atau duduk berjam-jam memikirkan bagaimana sebuah benda dapat bekerja.

Tak sedikit orang yang menganggap kebiasaan itu aneh untuk anak seusianya. Namun, Anya selalu memandang kakaknya dengan cara yang berbeda. Ia menganggap Luna adalah sosok yang selalu memiliki jawaban untuk hampir semua hal.

Saat Luna berdiri untuk mengambil obeng yang tergeletak di atas meja, pandangan Anya kembali jatuh pada robot kecil di hadapannya. Senyum jahil perlahan menghiasi wajahnya. Diam-diam ia menjulurkan tangan, lalu menekan tombol bundar yang berada tepat di dada robot itu.

Bip! Bip!

Robot itu mendadak mengangkat kedua lengannya sambil mengeluarkan suara mekanis yang terdengar lucu.

"Yaah! Jangan dipencet sembarangan, dong," omel Luna sambil buru-buru merebut robotnya kembali.

Anya justru tertawa renyah, sengaja meledek kakaknya yang mulai panik. "Hehe... maap."

Melihat wajah adiknya yang begitu polos, ia hanya mampu menggeleng pelan. Kekesalannya tak pernah bertahan lama jika berhadapan dengan Anya.

Tak sampai beberapa detik, keduanya justru tertawa bersama. Tawa mereka memenuhi kamar kecil itu, berpadu dengan cahaya senja yang perlahan memudar di balik jendela, seolah sore itu ingin bertahan sedikit lebih lama.

Namun, kehangatan yang menyelimuti ruangan itu perlahan mulai terasa rapuh... Di balik pintu kamar, terdengar suara langkah kaki yang berat, diikuti samar-samar bunyi sesuatu yang bergeser dari ruang tamu.

Identitas Tersembunyi Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang