Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Chapter 6

109 45 8
                                        

Anya dan Shintya berjalan beriringan menuju ruang Kepala Sekolah dengan jarak aman satu meter. Di belakang mereka, Pak Samsul mengekor ketat bagai algojo, lengkap dengan dua gulungan kapas berlumuran darah yang menyumbal lubang hidungnya.

Setiap beberapa langkah, Anya dan Shintya saling melempar lirikan tajam. Saling mengukur, siap menyulut ronde kedua kalau saja tidak ingat ada guru piket yang siap mengamuk di belakang.

Begitu pintu ruang Kepala Sekolah terbuka, aroma dingin pendingin udara berpadu bau essential oil kayu cendana langsung menyergap. Di balik meja jati berukuran besar, Bu Leila sudah duduk dengan punggung tegak kaku. Wajahnya sedingin es.

Melihat kondisi hidung Pak Samsul, Bu Leila memijit pelipisnya pelan. "Huft."

"Saya permisi, Bu," pamit Pak Samsul dengan suara sengau yang memprihatinkan. Sebelum berbalik, guru piket itu sempat mengacungkan tinjunya diam-diam ke arah Anya dan Shintya—janji mati akan menguras poin pelanggaran mereka nanti.

Klek.

Pintu kembali tertutup rapat. Ruangan seketika hening mencengkeram.

Bu Leila mengutak-atik pulpen di jarinya, mengetuk-ngetukkannya ke atas meja. "Duduk."

Tanpa ekspresi bersalah sedikit pun, Anya dan Shintya menarik kursi secara bersamaan. Anya bahkan sengaja bersedekap, menyandarkan punggungnya dengan santai, seolah menantang.

"Hari pertama jam pertama sekolah," suara Bu Leila mengalun datar, namun sarat penekanan. "Dan kalian berdua sudah memutuskan untuk bertindak seperti murid tidak berpendidikan? Luar biasa."

Keduanya tetap bungkam. Keheningan yang membeku itu justru makin memancing emosi di wajah Bu Leila.

BRAK!

"Saya nanya dijawab!" bentak Bu Leila sembari menggebrak meja jati itu keras-keras.

"Dia duluan yang mulai, Bu," sahut Anya cepat. Wajahnya dibuat sesopan mungkin, meski matanya melirik sinis ke samping.

Shintya melotot tidak terima. "Maksud lo?! Sadar diri dong, anak baru nggak usah belagu!"

"Cukup, Shintya!" potong Bu Leila dengan nada memekik. "Kamu ini sudah kelas dua belas! Bukannya ngasih contoh yang benar buat siswa baru, malah bikin malu!"

"Tapi Bu, dia yang-"

"Saya bilang cukup!" Bu Leila mengangkat tangannya tegas, menghentikan protes Shintya. Pandangan tajamnya kini beralih sepenuhnya pada Anya. "Dan kamu, Anya. Ini hari pertama kamu menginjakkan kaki di Angkasa Raya. Kalau sekali lagi saya dengar kamu bikin ulah, saya tidak akan segan memanggil orang tua kamu dan langsung memberikan surat skors. Mengerti?"

"Iya, Bu. Maaf," jawab Anya lempeng. Dalam hati, ia hanya ingin adegan drama ini cepat selesai.

Bu Leila mengibaskan tangannya gusar. "Kamu boleh keluar, Anya." Raut wajah ketat Bu Leila mendadak agak aneh, lalu matanya melirik tajam pada gadis di sebelah Anya. "Kecuali kamu, Shintya. Tetap di sini."

Tanpa melirik Shintya sedikit pun, Anya langsung bangkit dan melangkah keluar dari ruangan.

Begitu pintu jati itu tertutup rapat di belakangnya, sudut bibir Anya terangkat tipis. Tangan kanannya meraba saku blazer, menekan tombol play pada aplikasi pemantau di ponselnya. Sebelum disuruh keluar tadi, dengan gerakan secepat kilat, Anya sudah menyelipkan perekam suara mikro di balik lipatan tirai jendela dekat meja Bu Leila.

Anya menyandarkan punggungnya ke dinding koridor yang sepi, memasang sebelah earphone ke telinganya.
Dari balik sambungan frekuensi mikro, suara Bu Leila terdengar menggelegar tanpa saringan.

"Sudah berapa kali saya bilang?! Jaga sikap kamu! Apa sih yang bisa dibanggain dari kamu, Shintya? Nilai semester lalu anjlok, sekarang malah bikin keributan! Saya malu!"

Suara decakan muak Shintya terdengar jelas dari balik earphone. "Cuma itu kan yang mau Ibu omongin?! Malu punya anak kayak aku?! Aku udah berusaha mati-matian, Bu!" Suara Shintya mulai bergetar, menahan tangis.

"Berusaha keras kata kamu? Mana hasilnya?!" cibir Bu Leila dingin. "Kamu selalu gagal karena kamu keras kepala! Seharusnya kamu bisa ngalahin prestasinya Luna!"

Napas Anya mendadak tercekat. Ia merapatkan earphone-nya lebih dalam.

"Hasil Ibu bilang?!" pekik Shintya frustrasi, suaranya pecah sepenuhnya. "Apa Ibu pernah lihat aku? Ibu bahkan nggak pernah ngucapin selamat pas aku juara! Ibu cuma mau aku jadi nomor satu! Aku nggak mau dibanding-bandingin terus sama si kutu buku itu!"

KLACH!

Gagang pintu bergerak kasar. Anya dengan refleks kilat mencabut earphone dan mematikan aplikasi, menegakkan tubuhnya seolah hanya murid yang sedang menanti jemputan.

Shintya keluar dengan langkah seribu, menundukkan kepala dalam-dalam demi menyembunyikan wajahnya yang merah dan basah oleh air mata.

Anya menatap punggung Shintya yang menjauh hingga menghilang di belokan koridor.

"Jadi... anak dan ibu?" gumam Anya lirih. Kepingan puzzle baru itu mendadak tersusun di kepalanya.

Rasa penasaran yang makin membakar membuat Anya enggan langsung kembali ke kelas. Ia memilih berbelok ke arah koridor menuju perpustakaan lantai satu yang terbilang lengang, sampai matanya menangkap sosok siswi berkacamata tebal yang berjalan mendekap tumpukan buku paket.

Ia mempercepat langkah, menyejajarkan posisi di sampingnya. "Hai. Nama lo siapa?"

Gadis itu sedikit terlonjak kaget. Dari balik kaca mata tebalnya, ia menoleh ragu. "H-hai... Maya," jawabnya pelan, hampir tak terdengar.

"Gue Anya. Anak baru," sahut Anya mencoba mencairkan suasana. "Btw, lo dulu kelas sebelas berapa, May?"

"Sebelas enam," jawab Maya singkat, matanya kembali lurus menatap lantai.

Jantung Anya berdegup dua kali lebih cepat. Sebelas enam. Kelasnya Luna.

"Gue sempet denger gosip pas di ruang guru..." Anya menurunkan intonasi suaranya, berpura-pura penasaran layaknya murid baru pada umumnya. "Katanya anak kelas sebelas enam ada yang pernah kecelakaan tragis ya? Itu gegara apa, sih?"

Langkah Maya mendadak berhenti total. Ia menelan ludah dengan susah payah, matanya berkedip cepat menatap Anya dengan tatapan penuh kecurigaan sekaligus ketakutan. "Kenapa... tiba-tiba nanya itu?"

Anya terkekeh renyah, berusaha menetralisir ketegangan. "Ya nggak ada apa-apa, sih. Cuma penasaran aja sama rumor-rumor horor di sekolah baru."

Maya mengerutkan keningnya dalam-dalam. Ia melirik kanan-kiri, memastikan koridor benar-benar sepi sebelum akhirnya membuka suara dengan volume sangat kecil. "Namanya Luna. Tapi selebihnya aku nggak tahu apa-apa."

Maya mengembuskan napas berat, menatap lekat-lekat ke dalam mata Anya.
"Mumpung kamu masih anak baru, aku cuma mau kasih tahu satu hal," bisiknya, suaranya bergetar. "Jangan pernah berurusan sama Shintya dan gengnya kalau kamu masih mau aman di sekolah ini."

Anya menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa emang?"

"Jauhi mereka," pangkas Maya cepat, matanya menyiratkan ketakutan mendalam. Bibirnya gemetaran sebelum ia menyambung kalimat terakhirnya. "Luna... dulu juga hancur gara-gara mulai dari situ."

Tanpa memberi kesempatan Anya untuk membalas, Maya langsung berbalik dan setengah berlari meninggalkan koridor.
Anya berdiri mematung di tengah koridor yang sepi. Angin berhembus pelan lewat sela jendela, membawa hawa dingin yang menusuk.

"Luna... lo sebenarnya ngadepin apa aja di sini?" bisik Anya pelan, tatapannya menajam.

****************

Jangan lupa vote sebelum lanjut ke bab berikutnya.


--- 🦢🤍 ---

Identitas Tersembunyi Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang