Sosok bertopeng hitam itu menerjang tanpa aba-aba. Namun, Anya sudah lebih dulu memasang kuda-kuda. Begitu kepalan tangan lawannya meluncur, tubuh Anya berputar ringan ke samping, membiarkan pukulan itu hanya membelah udara.
Anya langsung melancarkan serangan balasan. Ia mengayunkan sikutnya dengan kasar ke arah wajah lawan. Namun, karena matanya masih sepet dan pandangannya agak buram, sikutnya hanya menghantam angin dan justru menyenggol pigura foto di dinding hingga jatuh. Prakkk!
"Anjir, meleset," umpat Anya spontan.
Memanfaatkan celah saat si penjahat sempat bengong melihat kefailan itu, Anya langsung mengambil kesempatan. Ia menarik kerah jaket si topeng hitam, lalu menyundul jidat lawan dengan keningnya sendiri kuat-kuat.
Duk!
"Rasain tuh takjil batok kelapa!" cibir Anya sambil mengedipkan matanya sebelah, berusaha menahan denyut pening di jidatnya sendiri akibat adu jidat barusan. Sementara itu, si penjahat sudah oleng duluan akibat sundulan maut tersebut.
Dalam satu gerakan cepat, Anya memutar tubuh, menyergap dari belakang dan mengunci kedua tangan orang tersebut dalam dekapan erat. Keadaan sempat terkendali. Anya mengerahkan tenaganya, bersiap membanting penyusup itu ke lantai.
Namun, sial. Bugh!
Satu hantaman keras mendarat telak di tengkuk Anya dari arah belakang. Seseorang yang tak diduga muncul dari kegelapan, memukulnya dengan benda tumpul. Anya terhuyung mundur, cengkeramannya terlepas, dan tubuhnya ambruk ke lantai.
Dunia di hadapannya langsung bergoyang. Pandangannya pecah menjadi bayangan-bayangan buram, sementara denging nyaring memenuhi telinganya.
...
"Sial..." gerutu Anya lirih, mencengkeram kepalanya yang berdenyut pening. Di sela pandangannya yang mengabur, ia bisa melihat kedua sosok misterius itu bergegas kabur lewat jendela yang terbuka. Anya sama sekali tidak menyangka kalau penyusupnya berjumlah dua orang.
"Aduh... pala gue..."
Dengan sisa tenaga yang ada, Anya bangkit berdiri sambil bertumpu pada railing tangga. Kepalanya pusing luar biasa, membuat pandangannya berputar.
Sambil memegangi tengkuknya yang mulai membengkak, Anya melangkah gontai menuruni anak tangga satu per satu, mencari tempat untuk bersandar. Begitu sampai di lantai bawah, ia menarik salah satu kursi dan terduduk lemas di meja makan, mencoba mengatur napas dan mengumpulkan kesadarannya yang sempat hilang.
Ia memandangi area sekitar yang sunyi. "Siapa mereka...?" gumamnya lirih.
Detik berikutnya, adrenalin mendadak menyengat otaknya kembali. Kesadaran penuhnya terpicu. "Kamar gue!"
Sontak Anya berlari kencang menuju kamarnya dengan jantung yang berdebar karuan. Langkahnya langsung tertuju pada sudut lemari, memeriksa kotak rahasia dan ruangan khususnya. Dengan napas terengah-engah, matanya menyapu sekeliling, mencari jejak kaki atau tanda-tanda kerusakan.
Ganjilnya, semua terlihat normal. Tidak ada yang hilang, tidak ada barang yang bergeser. Ia menarik napas dalam-dalam, sedikit lega.
Namun, naluri detektifnya menolak tenang. Tatapannya mendadak terkunci pada jam beker digital di atas meja samping tempat tidurnya. Jam itu memang miliknya, tapi ada seberkas pantulan cahaya aneh yang tidak biasa dari sudut angka digitalnya.
Anya melangkah mendekat, menyipitkan mata. Saat ia mengamati celah kecil di sudut badan jam tersebut, jantungnya mendadak berdegap kencang. Ada kilatan lensa mikro yang sangat tipis tersembunyi di sana.
"Kamera pengintai?" bisik Anya, keningnya mengkerut dalam. Tanpa ragu, Anya langsung meraih jam itu dan membantingnya sekuat tenaga ke lantai.
Pranng! Plastik dan mesinnya hancur berkeping-keping, menampilkan papan sirkuit modifikasi ilegal di dalamnya.
Rahang Anya mengeras. "Sialan, mereka nggak mungkin cuma taruh satu."
Didorong oleh rasa geram dan naluri tajamnya, Anya mulai menggeledah setiap jengkal kamarnya. Bayangan-bayangan tempat strategis di kepalanya memandu langkahnya. Dan benar saja, dia menemukan dua kamera mikro lainnya, satu tersembunyi di sela lubang stopkontak dinding, dan satu lagi di dalam kap lampu tidurnya.
Dua kamera pertama sudah hancur lebur digilas tumit sepatu bot yang langsung di ambil dari rak. Kini, tinggal satu kamera terakhir yang melekat di stopkontak.
Anya berjongkok di depannya, menatap lensa mikro itu dengan pandangan sedingin es. "Bye, kamera. Eh, salah... bye, fans!" ucapnya dengan seringai tipis yang sarkas.
Pranngg!!
Ujung palu kecil yang ia ambil dari laci perkakas menghantam stopkontak itu dengan sangat keras. Suara retakan yang memuaskan bergema di dalam kamar, menandakan berakhirnya pengawasan tak terlihat itu.
Setelah memastikan keadaan benar-benar bersih, Anya mengitari rumah untuk mengunci semua pintu dan jendela seketat mungkin. Dia memastikan tidak ada celah lagi sebelum kembali ke kamarnya.
Anya merebahkan diri telentang, menatap langit-langit kamar yang sunyi. "Kira-kira apa tujuan mereka masang kamera di rumah gue? Apa ada orang yang mulai curiga sama penyelidikan gue? Atau jangan-jangan..." Anya terkekeh pelan, mencoba mengusir ketegangan, "...ada stalker gila yang naksir gue kayak di film-film psikopat? Ih, amit-amit."
Tawa tipis itu menghilang secepat ia datang. Tatapan mata Anya kembali menajam, lurus menembus kegelapan kamar.
"Yang pasti, gue lagi diintai."
**************
--See you on the next chapter! 🦢🤍--
KAMU SEDANG MEMBACA
Identitas Tersembunyi
Mystery / ThrillerSemua orang bilang itu hanya kecelakaan. Namun, Anya tak ingin mempercayainya. Setiap petunjuk yang ia temukan di sekolah ini, justru menggoyahkan semua hal yang selama ini ia yakini. Sebab, di balik wajah-wajah tanpa dosa, tersembunyi sesuatu yang...
