Manusia misterius bertopeng hitam menyerangnya dengan cepat, namun Anya mengandalkan keahlian bela dirinya untuk mengatasi serangan tersebut. Dia menghindar serangan pertama dengan gerakan yang luwes.
Dengan tangkas, Anya berhasil menangkap erat kedua tangan orang tersebut dari belakang, mengamankan situasi. Anya menggerakkan tubuhnya dengan cepat, berusaha menjatuhkan orang itu ke tanah.
Tiba-tiba, seseorang tidak dikenal memukul kepala gadis itu dari belakang dengan benda keras, membuatnya terhuyung mundur sehingga jatuh ke lantai. Pandangannya berkunang-kunang.
"Sial," gerutunya sembari merasakan sakit di kepala. Sosok misterius itu berhasil lolos dari cengkeramannya. Dia tidak menyangka bahwa ada orang lain yang membantu orang bertopeng itu.
"Aduh... Kepala gue..." lirih Anya memegang atas kepalanya, sembari berdiri kembali. Pusingnya masih terasa, tapi dia berusaha untuk mengabaikan rasa sakit itu.
Dia duduk di kursi meja makan, memandangi area sekitar. "Orang tadi siapa sih...?" gumamnya yang masih meraba kepalanya.
"Huh, gue harus cek dulu, takutnya ada yang hilang." Anya menghela napas kecil sembari melangkah mengelilingi rumah dengan menatap secara detail setiap sudut.
"Kamar gue!" Sontak Anya berlari menuju kamarnya, hatinya berdebar kencang. Dia dengan cepat memeriksa kotak rahasia dan ruangan khususnya. Napasnya terengah-engah, matanya mencari tanda-tanda keberadaan orang itu. Namun, segala sesuatu terlihat normal. Tidak ada yang hilang, tidak ada jejak langkah, tidak ada apapun. Anya menarik napas dalam-dalam, merasa lega.
Pandangannya tiba-tiba tertuju pada satu arah, seperti ada yang janggal dengan boneka beruang di samping bantalnya. Boneka itu sendiri tampak biasa, namun matanya… Ada sesuatu yang aneh pada manik-manik matanya.
"Perasaan... gue nggak punya boneka ini," gumamnya, jari-jarinya dengan ragu menyentuh bulu-bulu lembut boneka itu. Keanehan di matanya semakin membuatnya tak nyaman.
Tiba-tiba, seberkas cahaya memantul dari salah satu mata boneka, dan Anya merasakan jantungnya berdebar kencang. Saat ia mengamati lebih dekat, ia menyadari ada sebuah perangkat kecil yang tersembunyi di dalam matanya. "Kamera?" bingungnya sembari mengerutkan kening. Tanpa berpikir panjang, Anya langsung membanting boneka itu ke lantai. Suara keras terdengar saat boneka itu menghantam lantai, bulu-bulunya berhamburan, dan bagian dalamnya terlihat rusak.
"Gue harus lebih waspada. Orang itu pasti taruh kamera nggak cuma satu doang di sini." Dengan naluri tajamnya, ia mulai memeriksa setiap sudut ruangan. Bayangan-bayangan kecil di pikirannya memandu langkahnya, menuntunnya ke tempat-tempat yang mungkin disembunyikan kamera.
Anya menemukan tiga kamera pengintai tersembunyi di tempat yang berbeda-beda. Dua sudah hancur berkeping-keping di bawah pukulan palunya. Tinggal satu kamera yang belum dia hancurkan.
Dia menatap kamera itu dengan pandangan dingin. "Bye, kamera. Eits salah, bye fans!" ucapnya dengan seringai kecil sebelum menghantam kamera itu dengan sangat keras. Suara retakan yang keras dan memuaskan memenuhi ruangan, pertanda berakhirnya pengawasan.
Dengan hati lega, Anya mengunci pintu dan jendela rumahnya satu per satu, memastikan semuanya aman sebelum kembali ke dalam kamar.
"Kira-kira apa tujuan orang itu masang kamera di rumah gue? Apa ada orang lain yang curiga? Atau jangan-jangan... ada yang naksir sama gue kayak di film-film? Ih amit-amit." Seulas senyum geli terkembang di bibirnya saat ia terkekeh pelan, menepis pikiran itu sambil memandang langit-langit kamar.
****************
KAMU SEDANG MEMBACA
Identitas Tersembunyi
Mystère / ThrillerAnya dan Luna adalah anak kembar yang non-identik dengan kepribadian yang bertolak belakang. Luna, yang lembut dan sensitif, menjadi korban bullying yang kejam di sekolah. Perlakuan buruk yang diterimanya, ditambah dengan pengaruh negatif dari lingk...
