Kelopak matanya terasa berat ketika ia membuka mata, sementara aroma khas obat-obatan yang samar memenuhi indera penciumannya. Langit-langit berwarna putih menyambut pandangannya, disusul hembusan angin dari kipas angin yang berputar pelan di sudut ruangan. Butuh beberapa saat hingga ia menyadari bahwa dirinya sedang berbaring di atas ranjang UKS.
Kepalanya masih terasa berdenyut, sementara tenggorokannya seperti terbakar setiap kali menelan ludah. Jemarinya tanpa sadar menyentuh lehernya sendiri.
"Udah siuman?" Suara lembut itu membuat Luna menoleh. Di kursi yang berada di samping ranjang, seorang gadis berambut hitam panjang sedang menutup buku yang sejak tadi dibacanya. Senyumnya kecil, tetapi cukup hangat hingga membuat suasana ruangan yang sunyi terasa sedikit lebih nyaman.
"Itu, Nabila? Kenapa aku di sini?" batin Luna, sembari memandang Nabila dengan tatapan bingung, pikirannya masih melayang-layang, mencoba mengingat apa yang barusan terjadi.
Nabila bangkit dari duduknya, lalu menyodorkan segelas air putih yang sejak tadi berada di atas meja kecil. "By the way, gimana keadaan kamu sekarang?"
Luna menerima gelas itu dengan kedua tangan. "Makasih..."
"Nggak usah dipikirin." Nabila tersenyum tipis. "Yang penting sekarang keadaan kamu gimana? Masih pusing?"
"Sedikit," jawabnya, sembari menundukkan pelan kepalanya.
"Kalau masih nggak enak badan, istirahat aja dulu. Bu UKS tadi bilang, kamu boleh pulang kalau memang nggak kuat."
Beberapa detik berlalu tanpa percakapan. Luna hanya menatap air di dalam gelas yang digenggamnya. Ia tahu Nabila sedang menunggunya bercerita, tetapi bibirnya terasa terlalu berat untuk sekadar mengucapkan apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku nggak apa-apa," ucapnya akhirnya sambil memaksakan senyum kecil.
Nabila tidak langsung membalas. Tatapannya sempat berhenti pada bekas kemerahan yang masih samar terlihat di leher Luna, tetapi ia memilih menghela napas pelan daripada memaksanya menjawab.
"Kalau suatu saat kamu butuh teman cerita..." katanya lirih, "...aku nggak keberatan dengerin."
Kalimat sederhana itu justru membuat dada Luna terasa semakin sesak. Baginya, sudah terlalu lama tidak ada yang mengatakan hal semacam itu kepadanya.
Namun, seperti biasanya, ia hanya membalas dengan anggukan kecil. Perlahan ia menurunkan kedua kakinya dari ranjang UKS, merapikan seragam yang sedikit kusut, lalu berdiri sambil mengembuskan napas pelan.
"Makasih ya... sekali lagi."
"Jangan dipaksain kalau masih pusing," balas Nabila lembut.
Luna hanya mengulum senyum tipis sebelum melangkah keluar dari UKS. Pintu itu menutup perlahan di belakangnya, menyisakan keheningan singkat di dalam ruangan.
Nabila masih berdiri di tempatnya. Tatapannya sempat berhenti pada pintu yang baru saja tertutup, lalu ia mengembuskan napas pelan.
Hari itu, pihak sekolah menghubungi Papanya setelah Luna ditemukan tak sadarkan diri di lingkungan sekolah. Penjelasan yang diterimanya tidak banyak. Guru hanya mengatakan bahwa Luna mendadak pingsan saat jam istirahat dan menyarankan agar ia beristirahat selama beberapa hari hingga kondisinya benar-benar pulih.
Andy datang menjelang sore untuk menjemput putrinya. Sepanjang perjalanan pulang, ia hanya menanyakan apakah kepala Luna masih pusing, sebelum kembali sibuk menjawab panggilan dari klien yang tak henti-hentinya berdatangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Identitas Tersembunyi
Mystery / ThrillerSemua orang bilang itu hanya kecelakaan. Namun, Anya tak ingin mempercayainya. Setiap petunjuk yang ia temukan di sekolah ini, justru menggoyahkan semua hal yang selama ini ia yakini. Sebab, di balik wajah-wajah tanpa dosa, tersembunyi sesuatu yang...
