Udara malam yang sejuk membuai Samuel saat ia berjalan-jalan mengenakan topinya. Di kejauhan, ia melihat Luna berdiri sendirian di tepi jembatan, menatap sungai yang tenang dengan pandangan kosong. Kegelapan malam menyelimuti sungai, hanya cahaya bulan yang lembut yang memantul di permukaan air, menciptakan kilauan magis yang kontras dengan kesunyian dan kesedihan Luna.
Melihat Luna yang berdiri termenung, ia bergumam pelan, "Wah... nggak waras tuh bocah." Meski kalimatnya terdengar ketus, kekhawatiran jelas terasa di nada suara Samuel. "Woi!" panggilnya sedikit lebih keras, berharap Luna sadar dan menoleh ke arahnya.
Tatapan Luna yang kosong akhirnya beralih ke sosok Samuel yang tinggi. Seketika ia menghampiri Luna dengan langkah kaki yang begitu cepat. Luna tampak lemah, bahunya merosot dan wajahnya pucat. "Hah... Kenapa kamu di sini?" tanyanya dengan suara lirih, hampir tak terdengar.
Samuel menggeleng heran. "Seharusnya gua yang nanya, lo ngapain berdiri di sini? Kayak orang mau bundir aja. Hampa banget ya hidup lo?" ujar Samuel dengan melipat kedua tangannya di depan dada.
Luna tidak membalas sepatah katapun. Tanpa menatap Samuel, ia berbalik perlahan dan melangkah pergi. Langkahnya pelan, berat, seakan setiap gerakan menguras sisa tenaga yang ia punya. Rambutnya sedikit tertiup angin, dan bahunya yang menurun menunjukkan betapa lelahnya ia menahan semuanya sendirian.
Samuel hanya bisa memandangi punggung Luna yang semakin menjauh. Ia menghela napas panjang, rasa bingung dan khawatir bercampur menjadi satu. "Lah kocak, malah pergi," ujarnya pelan, hampir seperti berbicara kepada dirinya sendiri.
Beberapa menit kemudian, Samuel sudah tak lagi melihat keberadaan Luna. Namun, sebuah suara yang sangat familiar-suara deru mobil-mendadak menggema di telinganya. Ia menoleh, dan jantungnya berdebar kencang saat melihat Luna yang akan menyebrang jalan, dengan sebuah mobil yang melaju sangat cepat ke arahnya.
Lampu mobil yang sangat terang menyinari wajah Luna, membuat matanya membulat terkejut. Dia tersentak mundur, ingin menghindar, namun terlambat.
Braak...
Suara benturan keras menggema di udara saat mobil menabrak Luna dengan hantam. Tubuhnya terlempar ke udara sebelum jatuh dengan keras ke aspal. Tetapi, seperti ada yang janggal... entahlah.
Sebuah teriakan tertahan keluar dari mulut Samuel. Ia menyaksikan Luna tertabrak mobil dan terpelanting ke aspal. Dengan langkah tergesa-gesa dan penuh kepanikan, ia berlari menghampiri Luna yang tergeletak tak berdaya.
"Luna?! Lun? Sadar Lun!" Sejumlah orang berkerumun, tetapi ada juga yang hanya menonton dari kejauhan, bahkan ada yang sibuk merekam kejadian tersebut dengan ponsel mereka, tanpa menunjukkan rasa empati.
Seolah takdir mempertemukannya, Papa Luna menyaksikan kecelakaan itu dari kejauhan. Tanpa ragu, ia segera keluar dar pintu mobil dan membantingnya begitu keras, ia berlari menuju Luna, raut wajahnya menggambarkan kepanikan dan keterkejutan yang luar biasa.
Meskipun panik luar biasa, Papa Luna berusaha tetap tenang. Ia memeluk Luna erat-erat, berbisik, "Luna? Tenang ya, Papa ada di sini, kita bakal pulang."
Dengan penuh kepedulian, Samuel mendekati Om Andi, ayahnya Luna. Namun, nadanya menjadi lebih serius. "Maaf Om, sebaiknya sekarang kita bawa dulu Luna ke rumah sakit. Kalo dibiarin aja, nanti kondisinya makin parah."
Wajah Om Andi menunjukkan penolakan yang keras. Dia tetap kekeh ingin Luna dirawat di rumah mereka. "Ini anak saya, saya tau apa yang terbaik untuknya. Dia punya trauma di rumah sakit, dari pada semakin memburuk, lebih baik dia dirawat di rumah dengan bantuan medis. Kamu bisa bantu saya membawa Luna?" jawab Om Andi dengan suara tegas, tak tergoyahkan oleh permintaan Samuel.
Meskipun tak begitu dekat dengan Luna, Samuel tentu saja masih mempunyai rasa empati, apa lagi melihat kondisi Luna yang sedang sekarat. Namun, dia juga harus menghormati keputusan Om Andi, ia mengangguk dan bersedia membantu membawa Luna pulang.
Tanpa bicara sepatah kata pun, Papa Luna langsung menggendong Luna dan membawanya masuk ke rumah. Ia tampak begitu fokus pada putrinya sehingga mengabaikan kehadiran orang lain.
Di luar, senyum Tante Nita tampak tulus, dan ia sengaja meletakkan tangannya di lengan Samuel seakan menunjukkan kekhawatiran. "Terima kasih, Nak," katanya, suaranya lembut namun penuh penekanan. "Sebaiknya kamu pulang sekarang."
Samuel masih terpaku di tempatnya, pikirannya berputar cepat. "Masa iya orang bisa ganti baju secepat itu? Terus juga perasaan... Luna tadi ngelewatin arah yang berbeda dari tempat kecelakaannya," batin Samuel yang tak henti memikirkan hal ini. Matanya menatap ke arah luar, seolah mencari jawaban dari kebingungannya.
Lamunan Samuel buyar seketika oleh suara wanita paruh baya itu. "Maaf, nak...?" Pertanyaan itu membuatnya tersentak dan kembali fokus.
Samuel menoleh, menunjukkan raut wajah yang masih tampak bingung. "Ah, iya... maaf, Tante," katanya dengan sedikit terbata-bata.
Setelah Samuel pergi, Tante Nita hendak menutup pintu. Namun, sebuah tangan kecil, dengan gerakan yang cepat dan pasti, menahan pintu dari luar. Tangan itu kecil, namun terlihat kuat dan kokoh. Jari-jarinya yang ramping mencengkeram erat gagang pintu, menolak untuk melepaskan.
"Tunggu, Tan! Jangan ditutup dulu." Ia muncul di samping pintu, wajahnya pucat pasi, memegang erat pinggiran pintu.
Alis wanita itu bertaut, wajahnya menunjukkan ketidaksukaan. "Mau apa lagi kamu ke sini?" tanyanya dengan judes.
Ia menatap mata Tante Nita dipenuhi dengan kekhawatiran, suaranya sedikit gemetar saat berbicara. "Saya liat berita di sosmed kalau Luna kecelakaan, apa itu benar? Kalo iya... boleh saya jenguk Luna?"
"Luna harus istirahat sekarang, dia nggak bisa diganggu. Pulang selagi saya masih bersikap baik ke kamu," jawab Tante Nita, lalu menarik gagang pintu dengan keras sehingga tertutup.
Kepalan tangannya mengepal erat, kukunya menancap di kulit. Anya menarik napas dalam-dalam, menahan amarah yang hampir meledak. "Sialan," desisnya pelan.
Dengan berat hati, Anya memutuskan untuk pulang. Dia berharap yang terbaik bagi Luna dan berjanji untuk tetap mendukungnya secara diam-diam.
Rumah terasa sunyi saat Anya masuk. Namun, di dalam hatinya, berbagai emosi bercampur aduk. Kecemasan akan kondisi Luna, kemarahan terhadap Tante Nita, dan rasa bersalah karena tidak bisa berbuat lebih banyak, memenuhi pikirannya.
"Gue harus cari tau siapa orang yang udah nabrak Luna. Hidupnya nggak bakal tenang selagi berurusan sama gue," ujarnya dengan tatapan tajam. Ia berdiri di depan jendela kamar dengan pandangan yang terfokus ke arah langit malam yang terasa mendung.
****************
Jangan lupa vote, komen n follow sebelum lanjut ke bab berikutnya.
--- 🦢🤍 ---
KAMU SEDANG MEMBACA
Identitas Tersembunyi
Mistero / ThrillerAnya dan Luna adalah anak kembar yang non-identik dengan kepribadian yang bertolak belakang. Luna, yang lembut dan sensitif, menjadi korban bullying yang kejam di sekolah. Perlakuan buruk yang diterimanya, ditambah dengan pengaruh negatif dari lingk...
