Chapter 3

139 52 14
                                        

Udara malam yang sejuk menemani langkah Samuel menyusuri trotoar yang sepi. Kedua tangannya tenggelam di dalam saku hoodie, sementara topi hitam yang dikenakannya sedikit ditarik ke bawah, menyembunyikan sebagian wajahnya.

Dari kejauhan, matanya menangkap sosok gadis yang berdiri sendirian di tepi jembatan. Gadis itu bergeming, menatap kosong aliran sungai di bawah sana. Cahaya bulan memantul samar di permukaan air, sementara angin malam mengibaskan rambut panjangnya yang tergerai.

Samuel mengernyit heran. "Wah... kagak waras tuh bocah," gumamnya pelan. Ia memperhatikan gadis itu beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas panjang. "Woi!" teriaknya sedikit keras sambil melambaikan tangan.

Tatapan kosong Luna akhirnya beralih pada sosok Samuel yang berdiri tak jauh darinya. Menyadari dirinya diperhatikan, Samuel segera menghampiri gadis itu dengan langkah cepat.

Begitu jarak di antara mereka semakin dekat... Samuel baru menyadari betapa pucatnya wajah gadis itu, dengan kedua bahu yang turun lemas kehilangan daya.

"Hah... kamu kenapa di sini?" tanya Luna dengan suara lirih.

 kamu kenapa di sini?" tanya Luna dengan suara lirih

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Samuel menggeleng pelan. "Harusnya gue yang nanya. Lo ngapain malem-malem sendirian di sini? Mau nyari angin apa nyari masalah?" katanya sambil melipat kedua tangan di depan dada. "Hampa banget ya idup lo?"

Luna tidak menjawab. Ucapan Samuel terdengar jelas di telinganya, tetapi ia sudah terlalu lelah untuk memikirkan apakah perkataan itu menyakitkan atau tidak. Saat itu, satu-satunya hal yang ingin ia lakukan hanyalah pergi sejauh mungkin dari tempat itu.

Perlahan, ia membalikkan badan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Luna kembali melangkah meninggalkan jembatan. Langkahnya pelan, nyaris tanpa suara, sementara angin malam terus memainkan ujung rambutnya yang tergerai.

"Lah, kocak! Malah pergi," gumamnya pelan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Samuel mengembuskan napas panjang. Dalam pikirannya, Luna mungkin hanya sedang ingin menyendiri. Lagi pula, mereka juga tidak sedekat itu. Kalau ia terus mengejar gadis itu, bukannya membantu, bisa-bisa malah dianggap mengganggu.

Ia pun memutuskan untuk kembali melanjutkan langkah. Kedua tangannya kembali masuk ke dalam saku, sementara pandangannya sesekali turun ke layar ponsel, membalas beberapa pesan yang sejak tadi memenuhi kolom notifikasi.

Beberapa menit berlalu. Deretan lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di atas aspal yang masih sedikit basah setelah diguyur hujan sore tadi. Sayup-sayup, suara mesin kendaraan di kejauhan saling bersahutan.

Sreeeettt!!

Tiba-tiba suara decitan ban yang memekakkan telinga membelah keheningan malam. Samuel refleks menegakkan kepalanya. Detak jantungnya seolah berhenti sesaat, sebelum suara benturan keras yang mengguncang udara menyusul tak lama kemudian.

Identitas Tersembunyi Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang