Chapter 1

170 52 15
                                        

Tujuh tahun berlalu, Waktu memang tak pernah berhenti berjalan, tetapi tidak semua luka ikut tertinggal di belakang. Malam yang menghancurkan keutuhan keluarga mereka telah lama menjadi masa lalu, namun bayangannya masih menetap di sudut-sudut ingatan, tumbuh diam-diam bersama dua gadis kembar yang kini menjalani kehidupan di tempat yang berbeda.

Keheningan rumah terus bertahan sampai suara seorang pria terdengar dari lantai bawah.

"Luna! Cepetan, klien Papa sudah nunggu."

Luna yang masih merapikan isi tasnya langsung tersentak. Ia segera menutup tasnya, menyampirkannya ke pundak sambil meraih buku pelajaran, lalu berlari menuruni anak tangga. "Iya, Pa! Sebentar."

Napasnya sedikit memburu saat berhasil mencapai ruang depan.

"Maaf, Pa... bikin nunggu."

Papa hanya melirik sekilas sebelum kembali melihat jam tangan di pergelangan kirinya. Tanpa mengatakan apa pun, ia masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin.

Sepanjang perjalanan, tak ada percakapan yang mengisi ruang di antara mereka. Hanya deru mesin, sesekali disusul suara klakson kendaraan lain yang terjebak kemacetan pagi. Keheningan itu bukan lagi sesuatu yang canggung. Sudah terlalu sering terjadi hingga keduanya seolah sama-sama menganggapnya sebagai hal yang biasa.

Sesampainya di depan gerbang sekolah, Luna membuka pintu mobil perlahan.

"Terima kasih, Pa," ucapnya. Namun, tak ada balasan.

Bahkan sebelum pintu mobil benar-benar tertutup, kendaraan itu sudah kembali melaju meninggalkan lingkungan sekolah.

Dirinya memandang mobil itu beberapa saat sebelum akhirnya mengembuskan napas pelan. Jemarinya meraih tali tas yang menggantung di pundak, lalu ia mulai melangkah memasuki area sekolah.

Baru beberapa meter berjalan, langkahnya melambat. Ia melihat beberapa pasang mata menoleh ke arahnya. Awalnya hanya satu atau dua orang... lalu semakin banyak.

Bisik-bisik pelan mulai terdengar di sela keramaian koridor. Sebagian siswa hanya melirik sekilas, sebagian lagi memandang tanpa berusaha menyembunyikan rasa ingin tahunya.

Luna berjalan dengan kepala tertunduk, matanya terpaku pada ujung sepatunya. Ia tak tahu sejak kapan tatapan orang-orang di sekitarnya berubah menjadi setajam ini.

Ia berusaha menelan segala rasa canggung, memeluk erat bukunya di dada, dan terus melangkah lurus tanpa berani menoleh. Ia hanya ingin segera sampai di kelas sebelum bisik-bisik itu berubah menjadi suara yang lebih menyakitkan.

Namun, baru beberapa langkah kakinya melangkah, sebuah bahu menghantam tubuhnya dengan keras.

Bruk!

Tubuhnya kehilangan keseimbangan, hingga jatuh tak berdaya. Tas besar di pundaknya ikut terlepas, sementara tumpukan buku yang dipeluknya erat berhamburan, berjatuhan di atas lantai keramik yang dingin dan licin.

Tawa pelan terdengar dari beberapa siswa yang menyaksikan kejadian itu. Tak seorang pun berniat membantu. Sebagian hanya berdiri menonton, sebagian lagi saling bertukar pandang sambil menahan senyum, seolah apa yang baru saja terjadi adalah hiburan di pagi hari.

Kepalanya perlahan mendongak ke atas.

Di hadapannya, Shintya berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Wajahnya tampak tenang, bahkan sudut bibirnya masih menyisakan senyum tipis yang sama sekali tak menunjukkan rasa bersalah.

"Nggak sengaja." Ucapan itu terdengar ringan, seolah apa yang baru saja terjadi benar-benar sebuah kecelakaan.

Ia tahu. Tak ada satu pun bagian dari kejadian itu yang terjadi secara tidak sengaja.

Identitas Tersembunyi Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang