Langkah kaki beritme memecah keheningan koridor kelas. Bunyi ketukan sepatu hak tinggi beradu dengan gelak tawa renyah. Empat gadis modis melangkah masuk, memotong jalur langsung menuju meja Anya.
Anya bergerak cepat, menyelipkan secarik kertas ancaman tadi ke dalam laci meja sebelum mendongak.
"Hai?"
respons Anya sedikit terjeda. Matanya berkedip pelan, berusaha menyembunyikan keterkejutan di balik ekspresi tenangnya.
Kiera yang berambut highlight cokelat langsung menduduki kursi kosong di depan Anya, diikuti tiga temannya yang ikut mengambil posisi memutari meja tersebut.
"Gue Kiera. Dan ini anak-anak," ucapnya seraya mengulurkan tangan dengan senyum tulus.
Ketiga gadis yang duduk mengitari meja itu bergantian menyahut, "Mika." "Salwa." "Nabila."
Uluran tangan itu dibalas sekilas oleh Anya. Ia memaksakan seulas senyum tipis, meski ketegangan di bahunya belum sepenuhnya sirna. "Salam kenal."
Sambil menumpukan kedua tangan di atas meja, Salwa menatap Anya dengan mata berbinar antusias. "Gue lihat lo di kantin tadi. Gila... keren abis!"
"Asli! Puas banget coy gue liat muka si Shintya pas diguyur Thai tea," timpal Mika heboh sambil mengacungkan dua jempol.
Berbeda dengan dua temannya yang heboh, Nabila justru menanggapi dengan pembawaan kalem seraya tersenyum kecil. "Tapi emang bener, sih. Kamu menarik."
Mendengar respons positif itu, pertahanan Anya sedikit melunak. "Ah... thanks," gumamnya, melirik mereka satu per satu.
Kepuasan terpancar dari wajah Kiera setelah melihat respons tersebut. "Epik sih itu moment."
Anya hanya menanggapi dengan senyum tipis, membuat Kiera kembali mencondongkan tubuh ke arahnya.
"Eh, tapi enggak usah canggung gitu kali, Nya," lanjut Kiera, nadanya terdengar bersahabat. "By the way, lo mau gabung sama kita-kita gak? Nongkrong bareng gitu."
Anya terdiam sejenak. Alih-alih merasa tersanjung, ia justru menopang dagunya dengan satu tangan, menatap keempat cewek populer di depannya dengan pandangan menilai.
Toh, punya relasi sama anak-anak ini bakal mempermudah jalannya buat nyari informasi soal Luna.
"Boleh~" sahut Anya dengan nada malas yang terseret santai, lengkap dengan senyum tipisnya yang misterius.
Cih!
Dengusan sinis mendadak terdengar dari arah pintu. Shintya berjalan masuk, sengaja menendang kursi di dekatnya hingga menimbulkan suara decit nyaring yang memekakkan telinga.
"Turun kelas ya selera lo pada? Sekarang malah numpuk sampah di circle sendiri," cibir Shintya sengit, melempar tatapan meremehkan ke arah Kiera dan kawan-kawan.
Gea yang mengekor tepat di belakangnya langsung bersedekap dada. Ia menimpali dengan nada malas, "Katanya circle elit."
"Ya tambah elit, lah," sahut Mika cepat dengan nada kelewat santai.
Bukannya ketakutan, Salwa justru sengaja menggeser posisi bersandar di meja Anya. Ia menaikkan sebelah alis, membalas dengan senyum yang tak kalah menyebalkan. "Daripada circle lo? Isinya cuma penakut yang cuma bisa nyari aman di ketek emaknya."
"Lo-" Rahang Shintya seketika mengeras. Tangannya sudah mengepal, siap melangkah maju untuk melabrak Salwa. Namun, langkahnya terhenti tepat saat Bu Guru mendadak melangkah masuk ke dalam kelas.
Shintya hanya bisa mendesis jengkel. Dengan sisa harga diri yang runtuh, ia terpaksa berbalik dan berjalan menuju bangkunya dengan hentakan kaki penuh amarah.
Suara nyaring bel pulang sekolah akhirnya menggema, seketika disambut sorak gembira murid-murid yang langsung berhamburan ke area parkir.
Di antara deretan kendaraan roda empat, sedan merah milik Nabila tampak paling mencolok. Begitu melihat Anya berjalan mendekat ke area motor, Nabila langsung menurunkan kaca jendela mobilnya.
"Anya! Mau balik bareng nggak?"
Anya menghentikan langkah sambil menenteng helm. "Eh, thanks tawarannya, Bil. Tapi lain kali aja ya, soalnya gue bawa motor hari ini," tolaknya halus.
"Oh, oke deh. Duluan ya, Nya," pamit Nabila dengan lambaian tangan santai sebelum melajukan mobilnya membelah gerbang sekolah.
Belum sempat sedan merah itu menjauh dari pandangan, bunyi klakson nyaring mengejutkan Anya dari arah samping.
Tinnn!
Seorang lelaki dengan jaket kulit hitam sengaja menghentikan motor besarnya tepat di sebelah motor Ninja Anya. Begitu kaca helmnya dinaikkan ke atas, terpampanglah wajah Samuel yang sedang cengengesan tanpa dosa.
"Dih?" Tanpa minat untuk meladeni obrolan yang tidak penting, Anya hanya meliriknya datar sebelum kembali fokus memasukkan kunci ke lubang motor.
"Kok nggak kaget, sih? Nggak seru ah," keluh Samuel, sengaja mematikan mesin motornya agar obrolan mereka tidak tenggelam oleh deru mesin. "Ayo balik bareng, gue kawal."
Anya mendengus pendek. Tangannya langsung memutar kunci kontak hingga mesin motornya menderu halus. "Gue ada urusan. Duluan aja," tolak Anya telak, memutus kalimat tanpa memberi celah untuk didebat.
"Sakit juga ya ditolak."
**************
--See you on the next chapter! 🦢🤍--
KAMU SEDANG MEMBACA
Identitas Tersembunyi
Mistério / SuspenseSemua orang bilang itu hanya kecelakaan. Namun, Anya tak ingin mempercayainya. Setiap petunjuk yang ia temukan di sekolah ini, justru menggoyahkan semua hal yang selama ini ia yakini. Sebab, di balik wajah-wajah tanpa dosa, tersembunyi sesuatu yang...
