Setelah beberapa jam pelajaran berlangsung, bel istirahat bergema di ruang kelas, suaranya berdentang nyaring menembus keheningan. Para siswa-siswi bergerak sibuk dengan urusan masing-masing, menandai waktu istirahat yang dinanti-nanti, suara riuh mereka bercampur dengan aroma jajanan yang menggoda.
Di tengah hiruk-pikuk siswa yang bergegas keluar kelas, Anya segera membereskan buku-bukunya ke dalam laci, lalu mengalihkan pandangannya sejenak ke arah Natalie dan Leo yang duduk di barisan belakang, memantulkan pandangan tajam yang penuh pertanyaan.
Sementara itu, Kiera menepuk pelan bahu Anya yang sedang duduk di kursi. "Ayo Nya, mau ikut ke kantin nggak?"
"Kalian duluan aja, nanti gue nyusul," jawab Anya, sambil tersenyum kecil, matanya masih tertuju ke arah Natalie dan Leo. Kiera mengangguk seraya tersenyum tipis, lalu pergi meninggalkan kelas bersama Salwa, Mika, dan Nabila.
Dalam kesunyian ruang kelas, Anya berdiri tegap dari kursi yang dia tempati, raut wajahnya serius. Ia melangkah dengan mantap menghampiri meja tempat Natalie dan Leo duduk. "Ikut gue, ada yang mau gue tanyain," ajaknya kepada mereka berdua ke tempat yang lumayan sepi dan aman, menjauh dari pandangan orang lain.
Alis Nata terangkat sedikit, ekspresi wajahnya mencerminkan rasa ingin tahu yang polos.
Mereka bertiga berdiri di sebuah sudut yang sepi. Anya menatap Natalie dan Leo dengan ekspresi yang sulit diartikan. "Lo pada ngapain ikut pindah kesini? Mana nggak ngabarin dulu lagi," ujarnya, suaranya terdengar ragu-ragu.
Leo terkekeh pelan, bahunya bergetar sedikit. Dengan senyuman lebar, ia menjawab, "Tau tuh, kata Nanatt sih mau ngawasin lu, haha."
"Ngawasin ape sih? Emang gue ngapain coba?" Anya kembali bertanya, menekankan setiap katanya. Ia mengerutkan alis dengan tatapan yang curiga akan kehadiran mereka di sekolah ini.
Bahu Natalie menegang, matanya berkedip cepat, mencerminkan kegugupannya. "Gue..." Nafasnya tersengal, seperti menahan sesuatu.
Udara terasa dingin dan berat. Ketegangan yang tiba-tiba itu membuat jantung berdebar kencang, sementara keheningan yang mencekam seakan membekukan waktu.
"Gue takut lo kayak... Luna." Nata menundukkan kepala, suaranya bergetar saat ia melanjutkan, "Ya, lo tau sendiri kan ya, kita sayang sama lo, kita nggak mau lo kenapa-kenapa. Dan juga nggak mungkin dong kalo kita nggak bantu sahabat sendiri buat cari kebenarannya." Sebuah tawa kecil dan sedikit dipaksakan keluar dari bibir Natalie, usaha patal untuk meredakan ketegangan yang masih terasa berat di udara.
"Bener, Nya. Lagi pula niat kita ke sini baik, malah lebih bagus kalo rame-rame cari buktinya, ya kan?" Leo berkata dengan yakin, jari-jarinya menopang dagu dengan santai.
"Dramatis." Anya ragu-ragu sejenak. Meskipun masih ada keraguan dalam hatinya, ia memutuskan untuk mempercayai mereka. "Iya sih," gumamnya pelan.
Mereka ada benarnya, jika bekerja sama akan lebih efektif. Tetapi, bisa jadi malah kebalikannya, kita tidak tahu pasti siapa pelaku sebenarnya, di mana banyak yang mungkin bersembunyi di balik jaket kulit domba. Hanya waktu yang bisa menjawab.
****************
KAMU SEDANG MEMBACA
Identitas Tersembunyi
Mystery / ThrillerAnya dan Luna adalah anak kembar yang non-identik dengan kepribadian yang bertolak belakang. Luna, yang lembut dan sensitif, menjadi korban bullying yang kejam di sekolah. Perlakuan buruk yang diterimanya, ditambah dengan pengaruh negatif dari lingk...
