Chapter 12

81 43 4
                                        

Deru mesin Ninja milik Anya akhirnya mereda di pekarangan rumah setelah ia memilih mengambil jalur memutar, sengaja memisahkan diri dari Samuel di persimpangan jalan tadi.

Gadis itu turun dari motornya, melangkah masuk melewati pintu depan yang sunyi, lalu bergegas menuju kamarnya di lantai atas. Setelah memastikan pintu kamarnya terkunci rapat, barulah ia bergeser ke sudut ruangan.

Keheningan langsung menyergap begitu Anya melangkah masuk ke dalam ruangan tersembunyi yang tertata rapi dengan nuansa gelap tersebut, sebuah ruangan yang hanya diketahui dan bisa dibuka oleh dirinya sendiri.

Di sana, seberkas cahaya remang dari lampu meja langsung menerpa garis wajahnya yang tampak tegang. Anya berdiri di depan cermin besar yang kini telah dipenuhi oleh tempelan foto-foto penyelidikan serta coretan garis merah dari spidol permanen. Jemarinya dengan teliti menambahkan selembar foto baru di sana, foto Maya.

"Gue masih heran. Kenapa setiap gue nanya soal Luna, reaksinya langsung aneh," gumamnya pada kesunyian kamar.

Ia mengangkat tangan kanannya, menunjuk tepat pada wajah gadis di dalam foto tersebut dengan ujung telunjuknya. "Apa Maya tahu sesuatu tentang kejadian Luna?" Ia memiringkan kepala, otaknya berputar keras menyusun kepingan teka-teki yang buram. Tatapannya kemudian bergeser, tertuju intens pada foto Tante Nita yang tersemat tak jauh di sebelahnya. "Atau mungkin... ada kaitannya dengan dia?"

Anya sangat yakin ada benang merah yang mengikat Maya dengan Luna. Namun, keraguan masih menahannya, terlebih gerak-gerik Tante Nita juga tak kalah mencurigakan. Ia menarik napas panjang, sadar bahwa dirinya butuh bukti yang jauh lebih solid sebelum gegabah menarik kesimpulan sendiri.

Ting! Ting!

Keheningan di dalam ruangan itu mendadak pecah oleh rentetan getaran di atas meja. Ia melirik ponselnya yang menyala.

Sambil menghela napas, Anya meraih benda pipih itu dan membuka group

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sambil menghela napas, Anya meraih benda pipih itu dan membuka group.

Sambil menghela napas, Anya meraih benda pipih itu dan membuka group

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ada-ada aja

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ada-ada aja.

Namun, tawa tipis Anya langsung pudar saat sebuah spanduk notifikasi WhatsApp mendadak muncul dari atas layarnya, memotong obrolan grup mereka yang masih ramai.

Namun, tawa tipis Anya langsung pudar saat sebuah spanduk notifikasi WhatsApp mendadak muncul dari atas layarnya, memotong obrolan grup mereka yang masih ramai

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Anya tertegun sejenak. Belum sempat ia membalas ketikan itu, ponsel di genggamannya langsung bergetar panjang seiring dengan panggilan masuk yang sesungguhnya. Ia segera menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya.

"Halo, Bun? Maaf, Bun... Tadi nggak keluar notif di HP Anya pas Bunda nelpon, nggak tau kenapa," sapa Anya cepat, berusaha menetralkan suaranya agar terdengar biasa saja.

"Bunda hari ini nggak bisa pulang, ada urusan mendadak di kantor. Jadi kamu sendirian di rumah, jangan lupa kunci semua pintu maupun jendelanya, ya." Suara Bunda terdengar dari seberang sana, mengalun cepat dibalut nada khawatir yang kentara.

"Iya, nanti Anya kunci semua," jawab Anya pelan sebelum sambungan itu akhirnya terputus.

Suasana rumah mendadak terasa berkali-kali lipat lebih sunyi setelah telepon itu berakhir. Anya menurunkan ponselnya, kembali menatap cermin di hadapannya. Dengan gerakan tegas, ia menarik selembar kain gelap untuk menutupi permukaan cermin sekaligus seluruh foto orang-orang yang tengah ia selidiki agar tersembunyi dari pandangan luar.

Ia kemudian merogoh saku, mengeluarkan sebuah kunci khusus yang hanya ia genggam sendiri. Dengan penuh kehati-hatian, Anya mengunci pintu ruangan rahasia tersebut, lalu menyimpan anak kunci itu ke dalam kotak ber-password di sudut lemari pakaiannya. Malam ini, dia benar-benar sendirian di dalam rumah.

"Aman. Mau dibobol gimanapun juga nggak bakal bisa," gumamnya dengan senyum puas setelah mengunci rapat kotak tersebut.

Anya menarik napas dalam-dalam, berusaha mengusir sisa ketegangan di kepalanya. Dia melangkah menuju ranjang, melempar ponselnya sembarangan ke atas seprai, lalu merebahkan tubuhnya yang terasa remuk.

"Merem bentar deh, capek banget," ucapnya lirih pada langit-langit kamar, membiarkan kedua tangannya rileks di atas perut seiring matanya yang perlahan terpejam.

Saat malam makin larut dan rumah tenggelam dalam kesunyian, sebuah bunyi asing mendadak terdengar dari arah luar. Anya masih tertidur pulas, terbuai dalam lelapnya.

Kreeekkk...

Suara gesekan halus itu membuat kelopak mata Anya bergerak. Ia membuka mata perlahan, nyawanya belum terkumpul sepenuhnya. "Siapa sih..." gumamnya seraya meraba kasur, mencari ponselnya untuk memeriksa jam.

Dengan nyawa yang baru kumpul setengah, Anya bangkit dari tempat tidur. Langkahnya agak gontai menuju pintu kamar yang memang sengaja dibiarkan terbuka. "Mang? Mang Udin?" panggil Anya, berdiri di ambang pintu sambil menyipitkan mata, berusaha menembus kegelapan rumahnya yang pekat.

Hening. Tak ada sahutan sama sekali.

Ia mengucek matanya, lalu menepuk jidatnya pelan. "Oh iya, Astagfirullah... Mang Udin kan lagi pulang kampung," gumamnya sendiri. Kesadaran mendadak menyengat otaknya. Begitu ingat kalau ART-nya itu sedang pulang untuk menjenguk keluarga, bulu kuduk Anya langsung berdiri.

Mata Anya seketika terbelalak sempurna. Kantuknya hilang total. "Loh, terus tadi...?"

Sret!

Belum sempat Anya menyelesaikan ucapannya, sesosok bayangan hitam mendadak melintas cepat di dinding ruang tengah, lalu menghilang di balik tikungan lorong.

"Woi!" teriak Anya.

Tanpa ragu sedikit pun, Anya langsung berlari kencang mengejar bayangan tersebut. Naluri waspadanya aktif kilat. Di ujung lorong, sosok misterius itu berbalik hendak menyerang, namun Anya bergerak jauh lebih gesit. Anya merendahkan tubuhnya, menggocek sergapan lawan dengan lincah, lalu berputar cepat memanfaatkan sudut dinding untuk memotong jalur pelarian orang tersebut.

Langkah Anya mengunci pergerakan lawan, mendarat dengan kuda-kuda mantap yang siap menghajar. Setiap lekuk tubuhnya kini dipenuhi ketegangan siap tempur, tatapan matanya tajam, alisnya menukik dalam, memancarkan keberanian mutlak tanpa ada rasa takut sedikit pun.

Kini, mereka saling berhadapan dalam jarak dekat. Atmosfer di sekitar mereka mendadak mencekam, mengikat keduanya dalam ketegangan yang nyaris meledak.
"Siapa lo?!" tuntut Anya dengan suara rendah yang tegas dan menusuk.

Siapakah sosok bertopeng hitam di hadapannya ini? Dan apa tujuannya menyusup ke rumah Anya malam-malam?

**************

--See you on the next chapter! 🦢🤍--

Identitas Tersembunyi Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang