Mereka bertiga menuju ruangan Luna yang sedang dirawat, didampingi oleh Tante Nita. Saat memasuki ruangan, atmosfer hening terasa di sekeliling mereka.
"Sampai sekarang Luna belum sadarkan diri..." ucap Mama Luna (Tante Nita) dengan suara lembut dan ekspresi murung, matanya tertuju pada wajah Luna yang terbaring di kasur.
"Kita doa kan aja yang baik-baik buat Luna, Tan," sahut Samuel dengan prihatin.
Sementara itu, Anya memperhatikan sekeliling dengan tatapan tajam, matanya memperhatikan setiap detail di sekitar ruangan. "Kaya ada yang aneh," batinnya, merasa ada sesuatu yang tidak beres di ruangan itu. Dia mengabaikan percakapan Samuel dan Tante Nita, seolah ingin menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya.
Anya berjalan mendekati kasur tempat Luna terbaring, seolah ingin mencari petunjuk dari kondisi Luna. "Luna... emang nggak pakai alat kayak orang yang sedang di rawat, atau apa itu?" Pertanyaan itu muncul dalam benak Anya, dia mengamati dengan teliti.
"Eh... Iya, Luna... dia pakai kok, tapi karena keadaannya sudah mulai membaik, jadi disarankan dokternya untuk dilepas." Keringat dingin bercucuran mengenai wajahnya, dia berbicara dengan gagap, seakan menyembunyikan sesuatu.
Mata Anya memang jeli, dia selalu terpakuh jika seseorang sedang ketakutan akan sesuatu. Anya mencoba membaca bahasa tubuh Tante Nita, seolah ingin menemukan petunjuk tentang apa yang sedang terjadi.
"Oh, saya kira kalian mau bunuh Luna secara halus," celetuk Anya sembari melihat Luna yang sedang terbaring di tempat tidurnya.
Semua mata tertuju kepada Anya, siapa yang menyangka jika dia akan berbicara seperti itu.
"Anya, nggak sopan lo bicara gitu sama orang tua, apa lagi baru kenal," bisik Samuel dengan khawatir, karena takut Tante Nita merasa tidak nyaman dengan perkataan Anya barusan.
Anya tertawa kecil, merasa situasi ini sangatlah lucu. "Duh bercanda doang Tante, maaf ya. Eh... tapi kalo diliat-liat kenapa Tante keliatan panik gitu ya?" Anya menatap Tante Nita dengan tatapan yang usil.
Nita menarik napas dalam-dalam, berusaha untuk tetap tenang menghadapi sikap Anya. "Saya seorang ibu, kekhawatiran saya terhadap Luna itu besar, bagaimana saya tidak khawatir? Jika anak saya masih belum sadarkan diri." Tangan Tante Nita mencengkeram tangan Luna dengan erat, jari-jarinya menekan lembut kulit Luna, seolah ingin memberikan kekuatan dan kesembuhan melalui sentuhannya.
"Maaf ya Tante, saya takut Tante merasa nggak nyaman... Tapi, kami udah mau pulang kok," ucap Samuel, mencoba menenangkan situasi yang sedikit tegang.
Samuel memegang tangan Anya, seolah ingin menarik Anya keluar dari rumah Tante Nita. "Permisi ya, Tante." Mereka berjalan menuju pintu pagar, seolah ingin menghindari percakapan yang semakin memanas.
"Gila lo, gue malu banget sial. Kenapa lo seberani itu?" tanya Samuel dengan sangat heran. Dia bahkan sampai menggeleng-gelengkan kepala, seolah tak percaya dengan keberanian Anya.
Anya mengaruk kepalanya dengan santai. "Dan kenapa elo setakut itu? Lagian gue juga cuma bercanda doang." Anya tertawa kecil, seolah menyindir Samuel yang terlalu perhatian dan takut.
"Terserah lo dah, Ceprik. Cewe freak," ejek Samuel sambil hendak menduduki jok motor. Samuel menenteng helm nya, seolah ingin memakai helm dan siap untuk berangkat. Dia melanjutnya berbicara. "By the way, ayo pulang bareng."
Perempuan itu menghembus kecil napasnya. "Tapi, gue..." Belum sempat ia melanjutkan perkataan, tetapi sudah dipotong oleh Samuel.
"Ssstt... barengan aja lah, lagian satu arah juga. Gua temenin dah kalo lo ada urusan, mumpung ada waktu luang," pinta Samuel sembari meletakkan satu jari ke bibir sendiri (ssstt...).
Anya tak bisa menolak tawaran dari Samuel, "Oke lah, urusan gue juga di cancel," balas gadis cantik yang siap mengendarai motor kesayangannya.
Tanpa banyak basa-basi lagi, mereka langsung tancap gas menuju arah rumah masing-masing. Udara sore yang sejuk menembus kulit mereka saat mengendarai motor, menikmati pemandangan pohon-pohon yang menjulang tinggi di sepanjang jalan.
****************
KAMU SEDANG MEMBACA
Identitas Tersembunyi
Misterio / SuspensoAnya dan Luna adalah anak kembar yang non-identik dengan kepribadian yang bertolak belakang. Luna, yang lembut dan sensitif, menjadi korban bullying yang kejam di sekolah. Perlakuan buruk yang diterimanya, ditambah dengan pengaruh negatif dari lingk...
