Mereka bertiga melangkah menyusuri lorong rumah yang temaram hingga tiba di sebuah kamar dengan pintu yang sedikit terbuka. Aroma obat-obatan samar memenuhi udara, bercampur dengan wangi lavender dari pengharum ruangan yang terasa terlalu pekat, seolah sengaja disemprotkan untuk menutupi suasana berat di dalamnya.
Di atas ranjang, Luna terbaring diam dengan wajah pucat dan napas yang terdengar pelan teratur. Tubuhnya nyaris tak bergerak, seolah gadis itu hanya sedang tertidur sangat lelap. Menyaksikan kembarannya sekaku itu, sepasang mata Anya otomatis melembut sesaat.
"Sampai sekarang... Luna belum juga sadar," ucap Tante Nita lirih. Jemarinya mengusap pelan punggung tangan Luna sebelum mengembuskan napas panjang yang terdengar begitu lelah.
Samuel ikut memandang ke arah ranjang dengan raut prihatin. "Kita doain aja yang terbaik, Tan."
Anya tidak ikut menanggapi. Sepasang matanya justru bergerak taktis, menguliti setiap sudut kamar, mulai dari lemari pakaian, meja samping ranjang, botol-botol obat, pigura foto, hingga jendela yang sedikit terbuka. Tak ada satu pun yang luput dari pengamatannya.
Ada yang janggal. Insting Anya berbisik kuat.
Gadis itu melangkah mendekat ke sisi ranjang, memperhatikan kondisi fisik Luna dengan lebih saksama. Hanya ada seutas selang infus dan selang makan transparan yang terpasang di tubuh Luna. Tak ada monitor pemantau detak jantung, tidak ada alat rekam medis, bahkan tabung oksigen pun diletakkan jauh di sudut ruangan dalam keadaan tidak terhubung.
Kamar itu terasa terlalu hening untuk ukuran tempat perawatan pasien koma. Luna seolah dibiarkan terbaring begitu saja, sekadar dijaga agar napasnya tidak putus, tanpa ada usaha pemantauan kondisi yang layak.
Kening Anya berkerut dalam. "Luna nggak pake alat pemantau medis atau monitor gitu, Tante?"
Pertanyaan sederhana itu seketika membuat gerakan tangan Tante Nita membeku sepersekian detik.
"Oh... ada, kok." Sebuah senyuman kaku dipaksakan terbit di wajah wanita paruh baya itu. "Dulu sempat dipasang lengkap. Tapi kata dokter kondisinya sudah stabil, jadi sekarang alat-alat itu sudah disimpan." Jawabannya terdengar wajar bagi orang awam yang tidak paham medis.
Sayangnya, bahasa tubuh wanita itu berkata sebaliknya. Tatapan matanya terus menghindar, jemarinya saling meremas tanpa sadar, bahkan ritme napasnya mendadak berubah lebih pendek.
Anya menangkap seluruh gelagat mencurigakan tersebut. Ia mengangguk-angguk paham, lalu menyahut dengan nada kelewat lempeng seolah sedang membicarakan cuaca, "Oh... kirain emang lagi mau dibunuh secara halus."
Atmosfer di dalam kamar langsung membeku seketika. Samuel tersentak kaget, refleks menoleh cepat dan menyenggol lengan Anya dengan sikutnya. "Anya..." bisiknya tertahan, memberi isyarat lewat mata. "Ngomong apaan, sih lo?"
Bukannya panik, Anya justru mengulas cengiran tipis tanpa dosa. "Hehe... bercanda, Tante. Jangan tegang gitu, dong, mukanya," kilahnya santai, walau tatapan matanya sama sekali tidak ikut tersenyum.
Raut wajah Tante Nita sempat mengeras sesaat sebelum ia buru-buru menata kembali ekspresinya yang hampir pecah. "Saya cuma... terlalu kepikiran keadaan Luna. Namanya juga ibu," sahutnya dengan suara yang agak bergetar, menggenggam jemari Luna semakin erat.
Sambil melengkungkan bibirnya ke bawah, Anya menaikkan kedua alisnya lalu mengangguk-angguk lambat. Gestur malas yang ngenye itu menunjukkan dengan jelas kalau ia tidak memercayai bualan itu sedikit pun.
Menyadari situasi yang mulai berjalan di atas benang tipis, Samuel langsung berdeham pelan demi memecah kecanggungan. "Kalau gitu... kami pamit dulu ya, Tan. Makasih banyak udah diizinin mampir."
KAMU SEDANG MEMBACA
Identitas Tersembunyi
Mystery / ThrillerSemua orang bilang itu hanya kecelakaan. Namun, Anya tak ingin mempercayainya. Setiap petunjuk yang ia temukan di sekolah ini, justru menggoyahkan semua hal yang selama ini ia yakini. Sebab, di balik wajah-wajah tanpa dosa, tersembunyi sesuatu yang...
