Udara pagi yang sejuk membelai kulit Anya, semilir angin membawa aroma tanah basah. Ia meluncur dengan motor kesayangannya, suara mesin berpadu dengan kicau burung yang riang menuju sekolah.
Di dalam kelas, suara riuh rendah berubah menjadi bisikan-bisikan yang semakin intens. Beberapa siswa terlihat mencatat sesuatu di buku mereka, suara pena mereka terdengar samar di antara bisikan-bisikan itu.
Riuh rendah kelas seketika terhenti oleh suara langkah kaki tergesa-gesa dari luar. Pintu terbuka, memperlihatkan seorang wanita paruh baya yang tampil tegas di hadapan kelas. "Maaf mengganggu, ada pengumuman penting!" ucapnya dengan suara lantang.
"Baik, Bu." Ruang kelas langsung meredup, mata-mata terpaku pada sosok guru yang tengah memberikan pengumuman.
"Hari ini kita akan melakukan pertukaran murid dengan kelas sebelah. Keputusan ini diambil oleh semua guru dan kepala sekolah untuk meningkatkan kemampuan adaptasi kalian. Di sini ibu bakal pilih 15 anak. Jadi saya harap kalian nanti bisa akur di sana ya," jelas Bu Inka dengan nada tegas namun ramah.
"Yahh Buu..." Beberapa siswa menghela napas, wajah mereka menunjukkan kekecewaan.
Setelah jeda singkat, Bu Inka melanjutkan, "Anya, Shintya, Gea, Kayla, Samuel, dan Luna. Nanti tolong berikan informasi ini kepada Luna dan pastikan dia mengetahuinya." Ia lalu melanjutkan dengan menyebutkan sembilan nama siswa lainnya. "Selanjutnya..."
Tatkala pengumuman berakhir, siswa-siswi yang terpilih bergegas merapikan barang-barang mereka, bersiap-siap menuju kelas baru dengan penuh semangat. Percakapan hangat dan candaan mengisi ruang kelas, mencerminkan antusiasme dan sedikit kegelisahan menjelang petualangan baru yang menanti.
Setelah tiba di kelas baru, Anya mendapati dirinya bertemu dengan Kiera dan beberapa temannya yang lain. Suasana di kelas baru terasa berbeda.
"Anyaa!" panggil lembut Salwa, sambil mengayunkan tangannya untuk mengundang Anya duduk di dekat mereka berempat.
Senyum ceria melintas di antara mereka, menyambut kedatangan Anya dengan hangat. Tak disangka, mereka bisa sekelas bersama.
"Haii guys," sapa Anya dengan sudut bibir terangkat, lalu mencari tempat duduk kosong di dekat mereka.
Namun, di sisi lain, ketidaksenangan menyelinap di hati yang iri. Shintya mendengus, lalu berkata dengan nada sinis, "Cih, nggak salah tuh lo pada dekat-deket sama dia." Suara kursi yang ditariknya berbunyi keras, menambah nuansa ejekan yang mengisi udara.
"Nggak cocok ih!" tandas Kayla, menatap Anya dengan tatapan tajam dan menunjukkan gigi, bibirnya tertarik ke atas dalam ekspresi mengejek.
Kiera membalas Shintya dengan tatapan menantang. "Kita sih lebih jijik buat temenan sama orang kaya kalian," cetusnya penuh amarah.
"Dih?" Rahangnya mengeras menahan amarah. Ia ingin membalas, tetapi guru sudah memasuki kelas. Desisan "Huh" terdengar dari bibirnya, alisnya bertaut rapat, menahan gejolak emosi yang membuncah.
****************
KAMU SEDANG MEMBACA
Identitas Tersembunyi
Mystery / ThrillerAnya dan Luna adalah anak kembar yang non-identik dengan kepribadian yang bertolak belakang. Luna, yang lembut dan sensitif, menjadi korban bullying yang kejam di sekolah. Perlakuan buruk yang diterimanya, ditambah dengan pengaruh negatif dari lingk...
