Chapter 8

88 40 7
                                        

Bel istirahat berdentang nyaring, memicu hiruk-pikuk instan di sepanjang koridor sekolah. Murid-murid langsung berhamburan keluar kelas, memenuhi lorong yang tadinya sepi.

Menatap jam dinding, Anya yang memang sudah mengincar waktu ini segera bangkit. Langkah kakinya bergerak cepat, membelah kerumunan menuju kelas XII.1.

Begitu sosok berkacamata yang dicarinya melangkah keluar dari pintu kelas sebelah, Anya buru-buru memotong jalurnya.

"Maya!"

Panggilan itu sukses membuat Maya menoleh dengan raut penuh tanda tanya. Jemari gadis itu refleks menyentuh tangkai kacamata tebalnya dengan ragu. "Kenapa?"

Tanpa membuang waktu untuk berbasa-basi, Anya langsung mencekal pergelangan tangan Maya. Dibawanya gadis itu setengah berlari menyusuri koridor menuju kantin. Maya yang tubuhnya lebih kecil hanya bisa pasrah mengekor dengan napas terengah-engah.

Suasana kantin sudah sangat ramai saat mereka tiba. Berbagai aroma makanan tercium di udara, beradu dengan riuh suara obrolan. Namun, di sudut tempat Anya dan Maya duduk, atmosfernya mendadak terasa dingin. Keduanya sempat membisu, saling menyelidiki lewat pandangan mata.

Sambil memajukan tubuhnya sedikit, Anya berbisik lirih. "Gue mau nanya sesuatu."
Gerakan Maya yang tengah memegang cangkir minuman seketika membeku. Jemarinya tampak sedikit bergetar di permukaan gelas yang dingin. "T-tanya apa?"

"Hubungan Shintya sama Ibu Leila itu... ibu dan an—"

"Iya!" potong Maya cepat dengan nada tinggi yang kedengaran gugup. Sepasang bola matanya bergerak gelisah, menatap Anya dengan napas yang mulai naik-turun. "Cuma itu yang mau kamu tanya?"

Reaksi histeris itu sempat membuat Anya terkesiap. Namun, sedetik kemudian ia lekas memasang senyum ramah, meski terlihat dipaksakan.

"Nggak, sebenernya gue mau nanya yang ini... Sejak kapan Shintya mulai nge-bully kalian?" Volume suara Anya sengaja direndahkan, memberi kesan rahasia. "Gue cuma takut bakal jadi korban berikutnya," lanjutnya, berpura-pura meringis canggung.

Sayangnya, topik tentang perundungan itu justru bagai bom waktu bagi Maya. Ketakutan di sepasang mata gadis berkacamata itu mendadak naik berkali-kali lipat.

"Sepuluh," jawab Maya tergesa-gesa dengan suara tertahan. Tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut, ia langsung bangkit dari kursi.

"Permisi." Langkah seribu langsung diambil Maya untuk meninggalkan area kantin. Ia mengabaikan panggilan Anya, membiarkan gadis itu terpaku sendirian dengan tumpukan teka-teki baru yang kian menggunung.

Sepuluh? Maksudnya kelas sepuluh? Atau apa? batin Anya frustrasi karena pertanyaannya diputus sepihak.

Belum sempat rasa penasarannya terjawab, lamunan Anya buyar seketika. Tiga gadis tiba-tiba muncul dan berdiri mengitari mejanya. Shintya yang memimpin di depan, dengan gerakan kilat sengaja membalikkan mangkuk baksonya. Kuah panas bercampur kecap itu tumpah tepat ke atas piring makanan Anya.

"Ups! Sorry, nggak sengaja... tapi boong," cibir Shintya dengan tawa sinis yang kentara.

Di belakangnya, Kayla dan Gea kompak tertawa terbahak-bahak, sengaja memancing perhatian anak-anak kantin agar ikut menonton.

Anya menarik napas panjang, lalu mengembuskannya dengan kuat demi menjaga urat sabarnya agar tidak putus. Alih-alih menangis atau ketakutan, ia justru menghentakkan piringnya ke meja hingga menimbulkan suara dentingan keras yang sukses membungkam tawa ketiga mak lampir itu.

Detik berikutnya, tangan Anya bergerak taktis menyambar gelas besar berisi es Thai tea pekat miliknya. Lewat gerakan santai namun penuh tenaga, ia mengguyur minuman manis itu tepat ke bagian depan seragam putih bersih milik Shintya, Kayla, dan Gea secara merata.

Syuuuut!

Cairan cokelat pekat langsung membanjiri seragam ketat mereka.

"Eh, kena ya? Sengaja," desis Anya dengan wajah lempeng, tanpa sisa ekspresi ramah sedikit pun. Sebelah alisnya terangkat, memandangi noda lengket yang kini melebar di baju ketiga lawannya dengan tatapan meremehkan. "Tambah bagus tuh baju lo bertiga, jadi ada corak Thai tea kekinian. Nggak usah makasih, gue ikhlas kok."

Sebuah dengusan kasar lolos dari hidung Anya. Kaki kursinya ditendang ke belakang hingga berdecit nyaring di lantai kantin, membuat beberapa murid refleks menoleh kaget.

"Buat mood gue hancur aja," gumamnya ketus. Tanpa melirik mereka lagi, ia segera berbalik dan melangkah pergi dengan aura permusuhan yang kental.

Noda manis nan lengket dikombinasikan dengan suhu air yang dingin sukses membuat Shintya, Kayla, dan Gea tersentak kaget di tempat. Mata mereka melotot tak percaya, memandangi penampilan mereka yang kini hancur lebur.

"Kurang ajar lo!!!" teriak Kayla histeris, jari telunjuknya menunjuk-nunjuk punggung Anya yang berjalan menjauh tanpa beban.

Langkah kaki Anya membawa tubuhnya kembali ke kelas yang masih sepi. Namun, baru saja mau melewati ambang pintu, sosok Samuel tiba-tiba sudah menghadang jalannya.

Sebutir roti cokelat berbungkus plastik disodorkan lelaki itu tepat di depan wajah Anya, menghalangi pandangannya yang masih mendung sisa kejadian di kantin. "Nih, buat lo," ujar Samuel santai.

Anya menghentikan langkah. Tatapannya bergerak bergantian antara bungkusan roti dan wajah tanpa dosa milik Samuel dengan dahi berkerut dalam. "Eh? Atas dasar apa?"

"Pertemanan level satu," kekeh Samuel pelan. Tanpa menunggu balasan atau penolakan, ia itu langsung berputar balik dan melenggang santai menuju bangkunya sendiri.

Decakan pelan lolos dari bibir Anya melihat tingkah ajaib itu. Diliriknya roti cokelat di genggamannya, rasa dongkol akibat kejadian di kantin sedikit terdistraksi. "Gue nggak minta, tapi... thanks," gumamnya pelan, lalu berjalan menuju mejanya sendiri.

Namun, saat tangannya hendak memasukkan buku ke dalam laci meja, jemarinya tidak sengaja menyentuh selembar kertas kecil yang terlipat rapi di bagian sudut yang gelap.

Kerutan heran langsung tercetak di kening Anya. Ditariknya kertas itu keluar, lalu dibukanya perlahan. Detik itu juga, napasnya sempat tertahan sejenak.
Di atas permukaan kertas putih tersebut, tertera sebuah tulisan tangan berantakan nan agresif yang digores menggunakan spidol merah darah...

PERGI DARI SINI! ATAU HIDUPMU AKAN KACAU!

Bukannya gemetar ketakutan, seulas senyum hambar justru terbit di bibir Anya.

Hidup gue udah kacau dari dulu, kali.

Kertas putih itu seketika berubah mengenaskan dalam remasan telapak tangannya. Perlahan, Anya mendongak, mengedarkan pandangan dinginnya ke sekeliling kelas yang mulai terisi satu per satu, mencari siapa bajingan yang bertanggung jawab atas tulisan ini.

**************

--See you on the next chapter! 🦢🤍--

Identitas Tersembunyi Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang