7. Don't Do It, Yora

315 5 0
                                        

"Don't do it, Yora," gumam Riyonal tanpa sadar, ia bisa merasakan tubuh yang berada di dekapannya itu pun menegang atas kalimat yang ia ucapkan.

"Lepaskan aku!" lalu tak lama gadis itu mendorong tubuh Riyonal dengan kasar tapi tenaga gadis itu tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan Riyonal.

Riyonal menatap tajam Lyora, hal itu membuat Lyora diam tak berkutik.

"Jangan lakukan hal bodoh seperti lagi," gumam Riyonal dengan penuh penekanan. Memperingati Lyora dengan sungguh-sungguh.

"Tidak ada urusannya denganmu!" balas Lyora dengan tatapan sengit.

Riyonal memilih untuk tidak menjawab ucapan gadis itu, tapi tangannya yang tengah merengkuh pinggang Lyora, terkepal erat.

Riyonal melepaskan kungkungannya pada tubuh gadis itu. Lyora yang mendapat ruang untuk lepas pun segera menjauhkan tubuhnya dari tubuh Riyonal.

"Kau memang devil, Riyonal!"

Setelah mengucapkan kalimat itu, Lyora pun berlalu pergi dari hadapan Riyonal.

Riyonal menatap kepergian gadis itu dengan tatapan datar, tanpa ekspresi.

"Apa yang terjadi dengan tanganmu!" tanya Adrian terkaget melihat tangan Riyonal yang kini berlumuran darah dan pisau yang tergeletak di lantai dengan ujung yang runcing terdapat bercak darah. Riyonal diam tak menjawab, ia hanya melirikan mata sejenak menatap Adrian dan mendudukan dirinya di tepi ranjang yang beberapa menit lalu menjadi tempat istirahat Lyora.

"Dimana Lyora?"

"Pergi,"

"Bagaimana bisa?"

Riyonal tak menjawab lagi, tangan pria itu terulur mengambil beberapa lembar tisu yang terdapat di atas meja nakas untuk membersihkan darah yang terus-menerus mengalir dari telapak tangannya.

"Apa perlu aku panggilkan dokter, lagi?"

Riyonal memincing tajam menatap Adrian, seolah memberi peringatan agar pria itu menutup mulut rapat-rapat.

Adrian yang  mendapat tatapan mematikan itu pun bergidik ngeri dan memilih diam.

Adrian beralih menatap kaleng bir yang ada di tangannya. Pria itu mendekati Riyonal dan menyerahkan kaleng bir tersebut di atas meja nakas. Tanpa kata, Riyonal mengambilnya, membuka kaleng dan meneguk minuman tersebut hingga tandas.

"Untuk apa kau ke sini?" tukas Riyonal tanpa berbasa-basi. Ia tidak suka jika ada seseorang yang mengganggu ketenangannya untuk saat ini.

"Aku telah mendapatkan informasi dari Felix, bahwa besok Martinez akan menghadiri pesta bisnis perusahaan yang akan di adakan oleh kerabat dekatnya. Tapi kali ini Martinez akan melakukan penyamaran. Akan sangat sulit menemukannya. Tapi aku menemukan beberapa fakta bahwa Martinez sudah di rekrut menjadi ketua mafia Italy yang kemarin menyerang gudang persenjataan bagian selatan kita," jelas Adrian secara detail.

"Aku tidak yakin dengan kemampuannya." Riyonal terkekeh dengan ekspresi mengejek.

"Mungkin, dia memang tidak punya kemampuan menggunakan pistol seperti dirimu. Tapi di ingat, ia juga bisa lebih licik darimu. Bahkan kau sudah beberapa kali menangkapnya tapi ia tetap berhasil lolos, right?"

Riyonal menatap Adrian dengan tatapan memincing. Ia merasa saat ini Adrian tengah meremehkan kemampuannya.

"Aku pasti akan mendapatkannya, besok."

***

Tatapan Riyonal kini fokus pada laptop yang ada di hadapannya dengan jemarinya yang bergerak seirama di atas keyboard.

Tok... Tok...

"Masuk."

Ketukan pintu dari arah luar terdengar, Riyonal tetap fokus pada laptop yang ada di hadapannya tanpa melirikan matanya sedikitpun menatap orang yang datang.

Adrian mendudukan dirinya di depan kursi Riyonal,

"Produk baru kita sudah selesai di luncurkan.  Tinggal melakukan pemasaran. Brand ambassador yang akan melakukan pemotretan untuk memasarkan barang dari perusahaan kita kali ini telah datang. Apa kau ingin melihat hasilnya?" Jelas Adrian.

Riyonal tak menjawab, tapi ia berdiri dari duduknya untuk melihat secara langsung siapa model yang akan menjadi ambasador barang-barang luncuran dari perusahaannya.

Langkah lebarnya terus menuntunnya untuk memasuki ruang pemotretan. Riyonal menghentikan  langkahnya ketika telah sampai di dalam ruangan pemotretan. Semua para karyawan yang melihat keberadaan sang boss besar menunduk hormat, Riyonal melirikan matanya sekilas menatap seorang model yang kini sedang melakukan pemotretan dengan membelakangi dirinya.

Riyonal terdiam di tempat ketika melihat model yang menjadi ambasador pakaian keluaran terbaru mereka berbalik menatap dirinya.

"Lyora." Gumam Riyonal dengan tanpa sadar.

Riyonal terdiam di tempat sambil menatap ke arah Lyora yang saat ini juga tengah menatap ke arahnya. Ia melirikan matanya, menatap ke arah
tangan gadis itu mengepal hingga buku-buku jarinya memutih, menunjukkan seberapa dendamnya ia pada Riyonal. Napasnya memburu, gadis itu bahkan tidak lagi mempedulikan arahan dari fotographer yang terlihat bingung menatapnya.

"Sepertinya dia butuh istirahat sekarang," ujar Lea yang sedaritadi terus memperhatikan Lyora yang sepertinya ada yang sedang tidak beres dengannya.

"Tapi pemotretannya belum selesai,--"

"Bisakah di tunda nanti saja! dia sedang lelah sekarang dan sangat butuh istirahat. Kalian mengertilah!" sela Lea dengan suara yang sedikit naik beberapa oktaf.

Para karyawan yang ada di sana juga fotografer dengan terpaksa menurut dan beristirahat untuk sementara waktu.

Riyonal menatap ke arah Lea yang dengan perlahan mendekat, gadis itu memegang bahu Lyora.

"Aku tidak apa-apa. Kita lanjutkan saja pemotretannya." Potong Lyora dengan cepat membuat para karyawan yang sempat menghilang di balik pintu jadi terhenti ketika mendengar ucapan Lyora ditengah ke heningan yang mendera.

Riyonal melipat kedua tangannya di dada sambil memperhatikan ke arah Lyora yang mulai membalikkan tubuhnya untuk mulai kembali melakukan pemotretan. Gadis itu pun mulai kembali melakukan berbagai pose.

Riyonal tersenyum miring menyaksikan itu, ternyata Lyora juga memiliki sifat yang profesional dalam bekerja, dan Riyonal sangat menyukai hal itu.

Riyonal tidak menyangka, gadis itu yang dulunya masih berusia enam belas tahun itu sekarang sudah menjadi gadis yang sangat cantik dengan tubuh yang proporsional. Bahkan yang lebih mengejutkan lagi, kini mereka di pertemukan kembali dengan gadis itu yang kini menjadi brand ambasador pakaian terbaru keluaran perusahaan mereka.

Di sini, mereka pertama kali di pertemukan bukan sebagai musuh, melainkan sebagai parter bisnis.

"Aku tidak menyangka gadis itu semakin cantik saja, usianya bahkan sudah semakin matang. Sepertinya ia sudah cocok untuk menjadi pasangan hidupku," ujar Adrian dengan terkekeh kecil sambil terus memperhatikan body seksi milik Lyora, benar-benar sangat menggoda.

"Apa kau sudah selesai?" tanya Riyonal dengan mata yang memincing tajam.

"Sure,"

"Apa sekarang aku punya jadwal untuk rapat?"

"Tidak, kau tadi sudah membatalkannya, kau bilang kau ingin istirahat untuk sekarang. Lagi pula aku masih ingin menatap gadis itu." Adrian mendudukan dirinya di atas sofa, pria itu melipat kedua tangannya di dada sambil menatap ke arah Lyora dengan menjilat bibir bawahnya.

"Kembali atur pertemuannya sekarang," titah Riyonal dengan meninggalkan tempat itu, hal itu membuat Adrian berdecak kesal. Ia terpaksa harus menghentikan aksinya untuk menatap ke arah Lyora karena harus kembali menjalankan tugasnya  untuk mengatur kembali pertemuan yang tadinya di batalkan oleh Riyonal.

Ck! Sepertinya pria itu sengaja menggagalkan rencananya untuk menyaksikan ke arah Lyora yang sedang melakukan pemotretan.

Love From MafiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang