12. Thanks For Saving Me

226 6 0
                                        

Riyonal menyesap sampanye miliknya dengan sekali teguk, tatapannya tak lepas menatap Lyora yang saat ini tengah mengerjap-ngerjapkan mata, menyesuaikan retina penglihatan dengan cahaya di sekitarnya.

Setelah matanya terbuka sempurna, objek yang pertama kali di lihatnya adalah sebuah ruangan besar dengan langit-langit kamar, tapi warnanya tidak putih, seperti keinginan Lyora. Ya, Lyora berpikir dia sudah mati dan gadis itu sedang berada di surga sekarang, tapi melihat ruangan tempatnya saat ini, Lyora yakin bahwa ia masih belum mati.

Lyora dengan perlahan mendudukan diri, gadis itu meringis kecil memegang kepalanya yang berdenyut-denyut karena kemarin rdi tarik oleh Anggara, si psikopat.

Mata Lyora mengedar ke sekitar, tatapannya berhenti tatatkala menatap seseorang yang saat ini sudah tidak asing baginya tengah menatapnya dengan pandangan tajam. Ya, Lyora saat ini bukan berada di surga tapi gadis itu sedang berada di neraka. Neraka yang di ciptakan oleh Riyonal.

"Kenapa aku ada di sini?" gumam Lyora dengan bertanya pada dirinya sendiri. Lyora sedikit meringis, merasakan sakit pada sudut bibirnya yang robek.

Riyonal yang mendengar gumaman kecil dari Lyora hanya terdiam, tak bereaksi. Pria itu berdiri dari duduknya, meletakkan botol sampanye yang ada di tangannya ke atas meja dan mendekati Lyora yang saat ini juga tengah mengawasi pergerakannya. Lyora memang harus waspada, karena saat ini ia sedang berada di tempat, devil!

Lyora menghembuskan nafas lega ketika Riyonal hanya mengambil segelas air yang ada di atas meja nakas, dekat dengan ranjang yang saat ini di tidurinya.

Riyonal menyodorkan segelas air tersebut pada Lyora,

"Minum!" titahnya tanpa bantahan, tapi Lyora yang memang keras kepala menggeleng, pertanda menolak.

"Aku tidak mau," tolak Lyora sedikit meringis kecil, merasakan sakit pada sudut bibirnya yang robek karena berbicara.

Riyonal terdiam tak bereaksi, tatapannya menajam, penuh selidik. Lyora yang di tatap seperti itu memalingkan wajahnya. Walaupun ia sudah sering melihat tatapan tajam Riyonal, tetap saja gadis itu masih gugup.

Riyonal menghela nafas sejenak, pria itu kembali menaruh air tersebut kembali di atas meja nakas dan meninggalkan Lyora seorang diri.

Lyora bernapas lega ketika si devil itu akhirnya keluar juga, tapi bibir Lyora sedikit mengeluarkan kekehan kecil ketika ingat bahwa Riyonal sepertinya marah hanya dengan masalah air.

Lyora kembali melirikan matanya menatap air itu setelah kekehan kecilnya sudah mereda. Lyora meneguk ludahnya dengan susah payah. Sebenarnya ia ingin meminum air itu, tapi bibirnya sedikit perih. Ia juga tidak sudi meminum air itu jika Riyonal yang mengambilnya.

Lyora mengehela nafas, gadis itu benar-benar haus karena dari kemarin terus berteriak dan menangis.

Tangan Lyora pun hendak terulur, mengambil air putih tersebut kembali. Tapi ia mengurungkan niat dan langsung meletakkan tangannya kembali di atas ranjang ketika mendengar langkah kaki yang mendekat di tengah keheningan itu.

Lyora memalingkan wajahnya, berpura-pura tidak melihat jika Riyonal kini berjalan mendekatinya dengan membaca sebuah ... sendok?

'Untuk apa?' batin Lyora

Riyonal terus melangkahkan kaki mendekati ranjang Lyora tanpa peduli dengan wajah Lyora yang dengan terang-terangan menunjukkan raut ketidak sukaannya.

Riyonal menghentikan langkah ketika sudah sampai di ranjang gadis itu, pria itu mendudukan diri di tepi ranjang Lyora yang saat ini tengah memiringkan tubuh menghadap ke jendela kamar, tidak sudi menatap wajah devil, Riyonal.

Riyonal melirikan mata sejenak menatap gadis itu sebelum mengambil gelas yang berisi air putih tersebut di atas meja nakas.

Riyonal mengambil sesendok air dari gelas itu dan kembali menyodorkannya tepat di bibir Lyora yang masih tertutup rapat.

Lyora memalingkan wajah ke samping, masih enggan meminum air tersebut.

Riyonal yang sudah jengah dengan kelakuan Lyora pun mencengkram pelan pipi gadis itu hingga Lyora di buat meringis, tanpa kata Riyonal pun memasukan sendok yang berisi air tersebut di dalam mulut Lyora hingga gadis itu terbatuk-batuk.

"Aku bisa melakukannya sendiri!" cetus Lyora dan berusaha melepas tangan Riyonal yang mencengkram pipinya.

Riyonal masih belum melepas cengkramannya, pria itu terus memasukkan sesendok demi sesendok air ke dalam mulut Lyora, hingga yang kelima kalinya Lyora berteriak dengan suata tidak jelas karena Riyonal yang masih mencengkram erat pipi gadis itu.

"Lepas! Ini sakit .... " Lyora berkata dengan suara lirih. Riyonal mengalah, pria itu melepas cengkraman tangannya pada pipi gadis itu.

Lyora terbatuk-batuk, gadis itu menghirup udara sebanyak-banyaknya karena tadinya ia terus menahan nafasnya, ia takut jika air masuk ke dalam hidungnya.

"Sakit! Kau sangat kasar!" aku Lyora dengan mendorong dada Riyonal dengan kasar.

Tapi dorongan Lyora tak berarti sedikit pun karena Riyonal tidak terdorong sama sekali.

Riyonal menatap datar Lyora yang langsung menyambar gelas tersebut dari tangan Riyonal dan meneguknya  dalam sekali teguk hingga tandas tanpa mempedulikan bibirnya yang terasa sakit. Lyora ingin menunjukkan pada Riyonal bahwa ia baik-baik saja.

Lyora menatap mata Riyonal dengan tajam, "Kau hampir membunuhku devil!" teriak Lyora menggema di seluruh ruangan kamar berwarna dark itu. Gadis itu bahkan tidak mempedulikan bibirnya yang semakin nyeri.

Riyonal tetap diam, menganggap angin lalu ucapan Lyora. Tatapan pria itu menelisik wajah Lyora. Ternyata pipi Lyora masih merah bekas tangan Anggara kemarin malam.

Tangan Riyonal terulur, menyentuh pipi merah gadis itu.

Lyora menahan napas, jantungnya berdebar kencang. Ia ingin melepas tangan Riyonal dari pipinya tapi Lyora tidak sanggup melepas tangan hangat pria itu.

Tangan Riyonal perlahan turun menyentuh sudut bibir gadis itu yang kembali mengeluarkan sedikit darah karena terus berbicara.

"Kau sangat cerewet," tukas Riyonal tanpa menatap sedikitpun ke arah Lyora yang mengepalkan tangannya tidak terima.

"Apa saja yang pria itu lakukan padamu?" Riyonal menatap Lyora dengan mata yang berubah melembut.

Hal itu sukses menggetarkan hati Lyora hingga membuat gadis itu terbuai oleh kelembuatan Riyonal.

"Apa dia menamparmu?" tanya Riyonal memastikan.

Lyora mengangguk kecil, masih menatap mata Riyonal yang masih lembut.

"Apa lagi yang telah dia lakukan padamu?"

"Dia menarik rambutku, dan dia ..."-- Lyora menjeda,--"dia hampir menembakku," jelas Lyora dengan mata yang kembali berkaca-kaca. Saat itu ia mengira dia akan mati. Ia masih belum ingin mati sebelum membuat pria yang ada di hadapannya saat ini tunduk padanya dan membalaskan dendamnya.

Riyonal mengangguk mengerti, tangan pria itu terulur menghapus air mata yang keluar dari sudut mata Lyora.

"Maaf,"--Riyonal mendekatkan wajahnya,--" karena terlambat menyelamatkanmu." Setelahnya Riyonal menempelkan bibirnya pada kening gadis itu, mengecupnya dengan sangat lembut, bersamaan dengan itu Lyora memejamkan mata.

"Terimakasih, telah menyelamatkanku," gumam Lyora dengan suara kecil.

Riyonal tak menjawab ucapan Lyora lagi. Pria itu mulai menjauhkan bibirnya dari kening gadis itu.

"Bersihkan dirimu. Aku akan memerintahkan pelayan untuk menyiapkan pakaianmu," setelah mengucap kalimat itu Riyonal berlalu dari hadapan gadis itu. Lyora terpaku, gadis itu menatap punggung Riyonal yang menghilang di balik pintu.

Lyora menghela nafas panjang, gadis itu menatap langit-langit kamarnya. Gadis itu melamun, ia masih memikirkan kejadian kemarin. Hampir saja ia mau mati. Kembali, untuk kedua kalinya ia merelakan mobilnya yang sepertinya masih tertinggal di hotel Lucero's Company.

Love From MafiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang