22. Toko Bunga

9.4K 1.2K 163
                                        

Hello! Good morning, afternoon, evening semuanyaaah!! Kapanpun kalian baca bab ini.

Sumini aku sehat walafiat?

Sumini sumini aku darimana aja nih asalnyaaa??!

Untuk bab ini jangan lupa vote dulu yaaa sebanyak banyaknya! Dan bom coment💅🏻

Happy reading Sumini's

22. Toko Bunga

Siang ini, Bianca disuruh Bundanya untuk membeli bucket bunga di toko bunga yang jaraknya lumayan jauh. Tiga kilometer Bianca menempuhnya dengan motor vespa yang jarang ia gunakan. Helmnya tak menutupi sengatan matahari di kepalanya serta wajahnya. Tembus hingga terasa sangat panas.

Saat di lampu merah, Bianca membuka ponselnya. Ia menghela napas saat melihat cuaca hari ini 36 derajat celcius.

"Buset dah! Serasa di rebus gue siang-siang begini." Ucapnya sambil mengelap keringatnya dengan ujung sweaternya.

Kebiasaan rakyat-rakyat Jakarta. Siang-siang bolong dan terik matahari yang menyengat, bukannya memakai pakaian yang menyerap keringat serta yang tipis biar nggak gerah, justru sebaliknya. Bahkan ada yang memakai jacket. Itu manusia kebal banget ya.

Kalau Bianca ditanya pasti jawabnya begini,

"Biar nggak panas lah! Gue susah payah putihin badan eh malah gosong! Sia-sia sunscreen gue yang harganya semahal kolornya Mahmud!"

Yaelah, Bi, Bi. Kolornya Mahmud aja lima puluh ribu dapet tiga. Sunscreen apaan tuh? Tanah liat apa sunscreen neng?

Setelah menempuh perjalanan yang cukup membuatnya lelah. Akhirnya Bianca sampai juga.

Sebenarnya, mau naik motor sejauh apapun kalau cuacanya mendukung bakalan nggak capek. Ini udah panas, banyak polusi. Lengkap sudaah! Berasa diuji emosinya.

Bianca turun dari atas motornya. Ia berdoa dalam hati semoga tidak bertemu dengan Mahmud di sini.

"Permisi!" Panggil Bianca namun tidak ada sahutan.

"Permisi! Beli!" Teriaknya lagi.

Tak lama dari itu, seseorang keluar dari dalam ruangan.

"Eh, Bianca? Mau ngapain, Bi?"

Bianca membelalakkan matanya. Ia bersumpah agar tidak bertemu dengan siluman kadal hutan itu, eh malah dipertemukan di toko bunga. Mahmud, cowok itu ada di tempat yang sama.

"Elo? Lo ngapain di sini? Lo mau beli bunga seabrek dan mau ngasih ke gue lagi besoknya?" Tanya Bianca menduga-duga.

Mahmud tertawa kecil. "Aduh, Bianca! Ini toko bunga kan milik Ibu aku. Jadi aku yang jagain. Dan bunga-bunga yang aku kasih, itu aku ambil dari sini, Bianca."

Sudah terkejut dengan keberadaan Mahmud yang seperti jelangkung, ditambah lagi dengan kejutan ternyata bunga-bunga yang dibawakan Mahmud hampir setiap harinya itu adalah miliknya sendiri.

"Oooh, pantesan kagak ada abis-abis ya, Mud, bunga lo. Keren, keren." Bianca bertepuk tangan kecil sambil menggelengkan kepalanya.

Dalam hatinya ia ingin menyumpahi Mahmud.

"Oh, iya, Bianca mau cari apa ke sini? Mau cari bunga apa mau cari Mahmud?"

Bianca meringis. Ini manusia super kepedean banget, sih! Batinnya. "Mau cari bunga kuburan, ada nggak?"

"Bunga kuburan?" Mahmud nampak kebingungan. "Ini kan toko bunga, atuh Bianca. Nggak ada bunga tabur untuk kuburan. Bianca kalau mau cari bunga kuburan, Bianca cari aja di pasar banyak. Atau biasanya di dukun-dukun gitu."

Hello, Aksara!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang