Hai, hai, haiiii!!!
Selamat malam, pagi, siang, soree, gengsss!!
Apakabar kalian semuaaa?! Sudah seminggu ini aku nggak update Aksara. Akhirnya aku update juga.
Masih setia nggak nih nungguin aku?
Sebelum baca cerita ini, yukkk vote dulu! Jangan lupa tambahin cerita Aksara ke library kamu, dan juga jangan lupa follow akun aku agar nggak ketinggalan notifikasi.
Untuk mulmed cerita ini putar lagu:
Hivi- Mata ke hati
Happy Reading!
****
28. Menyerahkan Diri
Decitan pintu berbunyi membuat cowok yang tengah memakan kue sambil memandang foto depannya itu menoleh. Perempuan paruh baya itu mengangkat papper bag yang dipegangnya.
"Aksara, ayo kita makan di bawah, sayang. Mama sudah belikan kamu makanan kesukaan kamu dari kecil. Mama belikan kamu kue brownies sama Papa tadi. Mama beli banyak banget, yuk makan bareng," ajak Bu Indana dengan penuh harap.
Aksara diam, ia meletakkan brownies yang baru saja ia makan. Menatap Mamanya tanpa arti. Pandangan mata Bu Indana turun pada sekotak brownies di depan Aksara. Aksara nampak nikmat memakannya hingga---- brownies tersebut tersisa dua slice saja.
"O-ooh, kamu sudah beli sendiri?"
Aksara menggeleng. "Dari Bianca,"
Dahi Bu Indana berkerut bingung. "Bianca? Siapa Bianca?"
"Mama gak perlu tau." Jawab Aksara.
Bu Indana menahan air mata yang hendak jatuh ke pipinya. Setiap hari----Bu Indana selalu menangis. Sudah dari lama ia merindukan anaknya, Aksara. Padahal saja---mereka satu rumah. Akan tetapi---- Bu Indana merasa sangat jauh dengan Aksara.
"Maafin Mama ya, sayang. Mama nggak merhatiin kamu akhir-akhir ini,"
"Udah biasa. Gak perlu minta maaf pun saya Paham," balas Aksara.
"Aksara, Mama----"
"Bukan akhir-akhir ini aja. Tapi memamg dari dulu gak pernah ada akhirnya." Aksara memotong ucapan Bu Indana.
"Maaf, Ma. Mama makan aja sama dia. Aksara mau tidur, boleh?" Aksara berdiri dari tempat duduknya.
Mata Bu Indana terlihat merah setelah mendengar Aksara menyebut Papanya dengan sebutan "Dia" tak sudikah ia menyebutnya dengan sebutan Papa?
"Aksara sayang, itu Papa kamu, nak,"
"Selama saya hidup, saya gak pernah dapet peran seorang ayah seperti dia."
"Aksara---"
"Ma! Aksara mau tidur, Aksara capek. Aksara pengen istirahat. Seharian Aksara disuruh belajar, belajar dan belajar. Aksara butuh tidur!" Ucap Aksara tak sengaja meninggikan suaranya.
Bu Indana tertegun untuk sesaat. Aksara yang menyadari itu segera memalingkah wajahnya tak kuasa melihat Mamanya yang hendak menangis karenanya.
"Keluar, Ma," usir Aksara.
Tanpa sepatah kata, Bu Indana segera menutup pintu kamar Aksara. Namun sebelum ia keluar, ia sempat melirik ke arah meja belajar Aksara yang terpajang foto seorang gadis yang sangat cantik dan terlihat anggun di dalam bingkai tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello, Aksara!
أدب المراهقينIni cerita tentang dua remaja yang saling berbeda perasaan. Yang satu menjatuhkan hatinya kepada sosok laki-laki pujaannya dan yang satu menutup hatinya rapat-rapat. Tentang Bianca dan Aksara. Siswa SMA Dharmawangsa yang sama-sama memiliki tingkat...
