19

3K 176 8
                                        

Malam harinya, terlihat Seorang pria paruh baya tampak serius membaca informasi yang diberikan oleh asistennya, dia membanting lembaran itu ke meja kemudian menatap seorang pria yang berdiri tak jauh dari tempatnya.

"Apa ini?"

"Informasi yang aku dapatkan"

"Susah payah aku menutup masalah ini, lalu ada orang yang ingin menyelidikinya lagi? apa yang dia inginkan dengan ini huh"

"alasannya adalah putrimu Zyfara"

"Lelaki itu sangat ... ck! Aku sedikit kesal dengannya"

"Tapi tuan, kita juga bisa mendapat keuntungan"

Zion menatap asistennya yang bernama Reon itu dengan serius "Apa maksudmu?"

"Xavier bukanlah orang sembarangan, jika dia berusaha mengungkap kasus itu demi nama baik nona Zyfara maka nama baik keluarga Xeysa pun terselamatkan. Jadi saya menyarankan jika anda bekerja sama dengan ehm calon menantu anda" Jelas Reon

Zion memberikan tatapan sinis.

"Saya setuju apabila nona Zyfara bersama dengan-"

"Yayaya... Xavier memang cocok dengan Zyfara. Mereka sama-sama keras kepala dan egois, jadi bayangkan jika keduanya bertengkar hmm" Balas Zion dengan senyuman manis.

"Apa anda tidak menyukai Xavier, tuan?"

"Tentu saja, aku hanya menyukai istriku Caterine"

Reon menghela nafas pelan mendengar jawaban Zion.

"Ah lihat, baru ku sebut namanya saja dia langsung menelfon ku"

Dengan wajah berseri, Zion menerima panggilan dari sang istri "Halo sayang, apa kau merindukanku?"

Reon yang ada disana hanya bisa memalingkan wajah.

"Tidak, aku hanya ingin mengatakan sesuatu. Tadi aku bertemu dengan Eric dan juga seorang gadis, kalau tidak salah namanya Niskala. Gadis itu sangat tidak sopan, dia menyenggolku kemudian berpura-pura kesakitan, padahal jelas bahuku yang terluka karena manik-manik tajam dipakaiannya. Kau harus membalasnya sayanggg.... Jika tidak, malam ini kau tidur diluar! "

Tut!

"Hahhh... "

"Apa ada masalah tuan?" Tanya Reon.

"Ada pekerjaan untukmu, cari tau dimana Eric sekarang! "

"Baik"

Zion mengusap wajahnya dengan kasar "Ternyata sikap Zyfara seperti sekarang karena menurun gen ibunya" gumamnya pelan.

****

Zyfara terlihat menuruni tangga mansion dengan mengendap-endap, sekarang dia berada di mansion Xavier karena paksan dari lelaki itu tentunya. Untungnya saat ini Xavier sedang sibuk di ruang kerjanya, jadi Zyfara mencoba untuk kabur. Di dalam kamar hanya diam itu sangat membosankan.

"Nona, kenapa sepatu anda tidak anda pakai? Kenapa dibawa menggunakan tangan? Dan juga apakah kaki anda sakit hingga jalan berjinjit? Jika iya saya akan memanggilkan dokter"

Zyfara memejamkan matanya sejenak, kemudian tersenyum kearah Helen yang baru saja datang entah dari mana.

"Helen... Aku sangat sehat, jadi tidak perlu bersikap berlebihan"

"Tapi nona, kenapa anda jalan seperti itu? "

"Itu karena aku hanya ingin mencoba hal baru" Jawab Zyfara.

"Saya akan meniru anda! Karena saya adalah fans berat anda nona"

"Terserah kau saja, aku ingin segera pergi sebelum Xavier selesai dengan pekerjaannya" Ucap Zyfara dengan wajah serius.

Helen mengerutkan keningnya "Pergi? Untuk apa? Bukankah nona tinggal disini selamanya?"

"Aku juga punya rumah sendiri"

"Oh begitu ya, baiklah saya akan mengatakannya pada tuan Xavier"

"Tidak!"

Helen terlihat kebingungan.

"Tidak perlu, aku sudah pamit dengannya"

"Tapi, tuan Xavier berpesan kepada seluruh pelayan dan bodyguard untuk tidak membiarkan nona keluar dari mansion sendirian" Ucap Helen dengan wajah polosnya.

"Bagaimana jika kau mengantarku sampai gerbang? Bukankah artinya aku keluar mansion tidak sendirian?"

Helen tersenyum lebar "Benar, dengan senang hati saya akan menemani anda sampai gerbang utama, nona" Ujarnya.

Mendengar hal itu, Zyfara tersenyum lebar, dengan semangat dia memakai kembali heels nya dan berjalan beriringan bersama Helen keluar dari mansion besar itu.

Sedangkan di ruang kerja, Xavier sedang berkutat dengan laptopnya, memunculkan foto-foto Eric sejak masih kecil hingga dewasa, Xavier melihat itu dengan seksama. Dia membaca tentang identitas Eric dan mencari tahu tentang latar belakang pria itu.

"bahkan sejak kecil aku lebih tampan darinya" gumam Xavier dengan sombong.

Xavier mengerutkan keningnya saat menemukan sesuatu yang aneh "dia memiliki saudara?"

"Gill, aku ingin informasi lebih rinci tentang lelaki tidak tau malu itu dan juga wanita yang bernama Niskala" perintah Xavier kepada Gill yang sejak tadi juga ada di ruangan itu.

Gill menganggukkan kepala "Baiklah."

Xavier menghela nafas lelah "Aku juga ingin tau tentang Samuel, dan alasan keluarga itu berusaha melenyapkan semua bukti" ujarnya.

"Maaf tuan, Apa anda mau mendengar pandangan saya terhadap masalah ini?"

Xavier menatap Gill dengan satu alis terangkat.

"Saya memiliki firasat," jelas Gill singkat.

"Hmm ... katakan!"

"Jadi... "



***

Tbc.

Protagonist's WifeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang