Zyfara mengajak Samuel untuk duduk di kursi yang ada di taman belakang mansionnya. Selain tenang, tempat ini juga nyaman untuk dijadikan tempat bersantai, dan lagi disini tidak ada siapa pun selain mereka berdua.
Samuel terlihat menatap sekelilingnya dengan senyuman tipis "Tempat ini sangat nyaman, seleramu bagus juga," ujarnya sambil menatap kearah Zyfara.
"seleraku memang bagus, " balas Zyfara dengan gayanya yang sombong.
Samuel terkekeh kecil sembari menggelengkan kepalanya.
"Apa kau tidak mengingatku sama sekali?" tanya Samuel penasaran.
Zyfara menghela nafas pelan "aku tidak tau," jawabnya singkat.
"Itu memang sudah sangat lama, jadi wajar jika kau lupa. Dulu kita pernah berteman sampai kau menghilang, aku juga tidak tau, aku hanya anak kecil yang kehilangan teman bermainnya. Tapi melihatmu sekarang, aku ikut senang, kau tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik"
Zyfara terdiam mendengar ucapan Samuel, jika dipikirkan memang hal itu masuk akal juga, apalagi dulu orang tuanya dan orang tua Samuel pun cukup akrab.
"Aku kesini ingin menjelaskan sesuatu padamu Zy, ini tentang Keisha" ucap Samuel lagi dengan menghela nafas pelan.
"Dia bukanlah kekasihku seperti apa yang kau pikirkan, dia hanya orang asing yang sayangnya begitu penting untuk papa, semua... demi reputasi"
Zyfara mengerutkan keningnya menatap Samuel dengan tatapan bingung "Maksudmu?"
"Aku tidak tau papa memungut wanita ular itu dimana, sampai akhirnya mereka terikat hubungan yang aku sendiri sangat menentang hal itu"
Samuel terkekeh "Kau tau Zy, hidupku sangat berantakan, aku tidak memiliki siapapun selain diriku sendiri, aku selalu dituntut untuk melindunginya karena apapun kesalahannya pasti aku lah yang paling salah di mata papa."
Zyfara terdiam memikirkan sesuatu, kisah hidup Samuel sangat jauh berbeda dari apa yang diceritakan dalam novel.
"Persetan! aku anggap semua yang terjadi didepanku adalah kenyataannya," batin Zyfara mengumpat.
"Aku sangat membenci wanita itu, jika bisa aku pasti sudah membunuhnya, hanya saja masih banyak hal yang harus aku urus, papa juga membutuhkanku jadi aku tak mungkin mengambil keputusan yang akan memberikan dampak yang cukup besar untuk kehidupan ku"
Samuel memberikan sebuah flashdisk kepada Zyfara "Semua bukti kejahatan Keisha ada di dalam sini, aku ingin memberikan ini padamu, " ucapnya dengan penuh keyakinan.
"Kau yakin?" tanya Zyfara sedikit tak percaya dengan apa yang Samuel lakukan.
Samuel mengangguk mantap "Selama ini reputasi keluarga mu buruk karena dia, dan sayangnya keluarga ku ikut andil, sebagai permintaan maaf aku memberikan semua bukti-bukti ini padamu, terserah mau kau apakan dia, sepenuhnya ada ditanganmu, dan keluarga mu... " jelasnya.
Zyfara kemudian mengangguk dan mengambil flashdisk itu dengan tersenyum menatap Samuel.
"aku akan menghubungi papa soal ini"
Samuel mengangguk setuju dengan perkataan Zyfara. Keduanya dilingkupi keheningan sampai suara dering ponsel menyadarkan mereka.
Zyfara menatap ponselnya yang menunjukkan bahwa Xavier menelpon, pasti pria itu sudah tau bahwa dirinya diam-diam kabur dari mansion, salahnya sendiri sebagai kekasih terlalu overprotective kepadanya.
"apa aku baru saja mengakui bahwa Xavier adalah kekasihku eh?" gumam Zyfara sangat pelan merasa lucu dengan pikirannya.
"Kau tidak berniat menjawabnya?"
Zyfara tersadar, menatap Samuel dengan kikuk "tentu aku akan menjawabnya."
Zyfara segera menggeser tombol berwarna hijau untuk menjawab panggilan itu.
"Kau meninggalkanku, Zy!"
Zyfara sedikit terkejut hingga menjauhkan ponsel itu dari telinganya, kemudian menghela nafas pelan.
"Aku hanya pulang ke mansionku, apa salahnya?"
"Jelas salah! karena ini juga mansionmu," jawab Xavier dengan nada yang sedikit marah.
"Tidak Vier... kita bukan suami istri, jadi aku harus pulang" balas Zyfara berusaha sabar menghadapi sikap Xavier yang sedikit emosian itu.
"Baiklah, kita menikah malam ini juga!"
Ingin sekali Zyfara mengumpati Xavier jika dalam mode seperti ini, seperti anak kecil.
Sedangkan Samuel hanya diam menatap ekspresi wajah Zyfara yang berubah-ubah, meskipun dia tidak mendengar ucapan Xavier, dia dapat menyimpulkan apa yang sedang terjadi dari ucapan yang dilontarkan oleh Zyfara.
"Dengar Vier..., aku hanya pulang untuk beristirahat, lagipula ini adalah mansionku, rumahku disini. kau mengerti?"
Terdengar helaan nafas diseberang sana
"Tapi kau meninggalkanku Zy... aku tidak menyukai itu!"
"Aku tidak meninggalkanmu!"
"Oke, aku akan-"
"Permisi nona, ini makanan yang anda inginkan" ucap seorang maid yang tiba-tiba datang membawa dua jenis makanan dan juga minuman.
Zyfara mengangguk "Terima kasih," ucapnya.
"Seharusnya kau tidak perlu repot seperti ini, Zy" Samuel merasa tidak enak kepada Zyfara.
Zyfara menatap Samuel dengan satu alis terangkat "Repot? aku tidak repot, ada maid yang dibayar untuk membuat ini semua, jadi aku tak masalah lagipula aku juga lapar dan aku ingin makan"
"Zy! Kau bersama Samuel?" Suara Xavier terdengar tidak terima.
Astaga, Zyfara sampai melupakan bahwa panggilan diponselnya masih terhubung.
"Ya dia datang ke mansionku untuk menjelaskan sesuatu, besok aku akan memberitahumu. Jangan berfikir yang bukan-bukan, aku tidak melakukan apapun, dan setelah ini Samuel akan pulang" jelas Zyfara panjang lebar berharap Xavier dapat mengerti dan tidak menyusul ke mansionnya.
Tanpa Zyfara ketahui, disana Xavier sudah mengeluarkan aura yang begitu dingin, rahangnya mengeras, tangannya terkepal dengan tatapan tajam yang menyorot lurus kedepan.
"Baiklah hanya untuk kali ini, jika aku tau ada hal yang tidak menyenangkan, kau akan mendapat hukuman sayang"
Zyfara merinding mendengar suara rendah yang terkesan dingin dari Xavier, bahkan Xavier langsung memutuskan panggilan secara sepihak tanpa menunggu jawaban dari Zyfara.
"Sepertinya dia benar-benar marah kali ini" gumam Zyfara menghela nafas pelan.
Samuel menghentikan kunyahan makanannya "Apa ada masalah?"
Zyfara hanya menggeleng, tak lagi bersuara dan mulai memasukkan makanan kedalam mulutnya. Samuel yang mendapat respon seperti itu pun tak berani untuk bertanya lebih, karena dia tau itu bukan ranahnya.
Tak berselang lama, Zyfara merasa ada sesuatu yang aneh, namun saat menatap Samuel sepertinya makanan Samuel tidak ada masalah. Sejenak, dia menatap makanannya dengan rumit, merasa ada yang tidak beres. Sampai akhirnya, dia bangkit dan berlari menuju wastafel yang tak jauh dari tempatnya, memuntahkan semua makanan yang sempat masuk kedalam perutnya.
Dengan nafas tersengal, Zyfara memegang tenggorokan nya yang tercekat, nafasnya mulai tidak teratur, keringat dingin muncul dipelipisnya. Dia sekuat tenaga berpegangan pada wastafel agar tidak jatuh, merasa ada tangan yang meraih tubuhnya dia pun menoleh kepada sang empu dengan penglihatan yang memburam.
"S-sam... hubungi Xavier" ucap Zyfara dengan susah payah karena merasa tubuhnya makin melemah.
Samuel terlihat begitu panik dan khawatir, terlebih saat keluar darah dari hidung Zyfara, dia segera menggendong Zyfara dan berniat segera membawanya ke rumah sakit.
"Bertahanlah, Zy..."
***
Tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
Protagonist's Wife
FantasySaat membuka matanya, Cesha merasa bingung karena berada di tempat yang begitu asing. Hingga dia menyadari bahwa dirinya masuk ke dalam sebuah novel berjudul My destiny yang mana diakhir cerita sang antagonis wanita akan mati ditangan suaminya sendi...
