"Lepaskan aku!"
Keisha memberontak karena dua pria tak dikenal tiba-tiba menangkapnya, padahal malam ini dia sedang bersama dengan Eric. Dia menatap sekitar, mencari keberadaan Eric yang tak kunjung kembali, padahal tadi dia hanya pamit untuk pergi ke toilet.
"Kalian siapa hah?! lancang sekali, lepaskan tanganku sialan!" teriak Keisha dengan penuh amarah.
Hilanglah sudah sifat lemah lembut dan rapuh yang dia miliki selama ini, dia tidak peduli lagi karena sekarang tangannya terasa sakit akibat cengkeraman dari dua pria aneh yang sedari tadi hanya diam.
Keisha memekik saat ditarik paksa oleh kedua orang itu, dia senantiasa menatap kebelakang berharap Eric datang dan menyelamatkan dirinya. namun, sepertinya tak ada harapan, ia pasrah diseret masuk kedalam mobil oleh orang-orang tak dikenalnya itu.
Di lain tempat, Eric baru saja keluar dari toilet, ia terlihat merapikan pakaiannya dan memperhatikan apakah ada yang kurang atau tidak. setelahnya ia memutuskan untuk kembali menyudul Keisha yang masih menunggunya di taman tak jauh dari tempatnya.
Baru beberapa langkah, ponselnya berbunyi, dengan segera Eric menjawab telfon yang diketahui dari niskala, sahabatnya. Niskala adalah prioritas baginya, jadi dia tak mungkin menunda panggilan masuk dari sahabatnya itu, dia harus melindungi dan menjaga Niskala karena ia tau Niskala sangat membutuhkan dirinya.
"ada apa?"
"Apa kau masih bersama keisha?"
Eric mengerutkan kening saat mendengar suara Niskala yang sedikit lemah, ada apa?.
"Ya aku bersamanya, apa kau baik-baik saja? mengapa suaramu aneh?"
"Aku ada di rumah sakit, saat kau pergi entah kenapa perutku rasanya sakit sekali, sampai akhirnya aku berakhir disini"
"Apa?! kenapa kau tidak memberitahuku sejak awal? aku akan segera kesana!" ucap Eric dengan begitu khawatir.
"tidak, tidak perlu. kau masih ada urusan dengan keisha, aku tidak ingin mengganggu waktu kalian, aku tidak masalah"
Eric menghela nafas pelan "Aku akan tetap kesana, kau ada di rumah sakit mana?"
"Aku di rawat di rumah sakit angelus"
"Baiklah, tidak jauh dari sini, aku akan segera sampai"
"Hati-hati, Eric... maaf aku selalu merepotkan mu"
"Tidak masalah, kau prioritasku"
Eric memutuskan panggilan itu dan segera melangkah pergi meninggalkan taman, urusan Keisha akan dia cari nanti, yang terpenting sekarang dia harus melihat keadaan Niskala.
Di sisi lain, Samuel menunggu dengan pandangan lurus kearah pintu IGD tempat Zyfara sedang ditangani oleh dokter. dia menggenggam ponselnya, memikirkan sesuatu.
"Jadi aku harus menelepon Xavier? manusia tempramen dan kaku itu?" gumam Samuel dengan nada malas.
Mau tak mau, Samuel menekan tombol panggilan untuk menghubungi Xavier yang entah memiliki hubungan apa dengan Zyfara, sehingga Zyfara sangat memikirkannya padahal dalam kondisi yang tidak baik.
Anehnya, panggilan yang baru saja masuk itu langsung diterima oleh Xavier.
"katakan!"
Samuel mengeraskan rahangnya mendengar suara Xavier yang menurutnya tidak mengenakkan.
"Zyfara ada di rumah sakit, akan ku kirimkan alamatnya padamu" ucap Samuel tanpa basa-basi.
"Sialan! Apa yang-"
Samuel memutuskan sambungan telepon tanpa mendengarkan balasan dari Xavier, dia tau pasti pria itu akan marah atau bertindak lebih padanya? entahlah, biar dia jelaskan nanti saat Xavier sudah tiba disini.
Xavier sendiri yang mendengar bahwa Zyfara ada di rumah sakit pun merasa marah sekaligus khawatir, dia marah kepada Samuel, dan sangat khawatir akan kondisi Zyfara. Apa yang terjadi padanya? apa yang telah Samuel lakukan hingga Zyfara masuk rumah sakit.
"sial" umpat Xavier
Xavier menatap kearah Gill "Ikut aku, kita ke rumah sakit sekarang, " perintahnya telak.
Kemudian matanya beralih menatap Helen yang masih menunduk, tentu saja maid nya itu merasa takut karena telah dia marahi soal Zyfara yang pulang tanpa izin darinya. Untung saja Helen sedikit bodoh, jadi masih ada rasa kasihan untuknya.
"Kau!"
Helen terkesiap dan mendongak menatap Xavier dengan takut menunggu ucapan tuannya itu.
"ku maafkan kali ini" lanjut Xavier.
Helen tersenyum mengangguk dengan semangat "Terima kasih, tuan!"
Xavier melangkah meninggalkan ruang kerjanya diikuti Gill yang tak lupa memberikan kepalan tangan kepada Helen seolah mengatakan semangat. Helen yang melihat itu pun tersenyum kearah Gill, kemudian ikut keluar dari ruangan kerja milik Xavier.
*Tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
Protagonist's Wife
FantasySaat membuka matanya, Cesha merasa bingung karena berada di tempat yang begitu asing. Hingga dia menyadari bahwa dirinya masuk ke dalam sebuah novel berjudul My destiny yang mana diakhir cerita sang antagonis wanita akan mati ditangan suaminya sendi...
