Chapter 16
[Winter]
Aku terbangun.
Tempat ini dingin sekali. Aku membuka mata. Dan melihat langit yang gelap.
Langit?
Aku tidak ada ditempat itu. Aku melihat kesamping. Kakakku dan yang lain sedang berlari menghampiriku, kecuali Cali.
Henry yang pertama memelukku. Aku memeluknya juga. Malam ini dingin sekali.
"Winter? Kau kemana?"tanya Henry khawatir.
"He's back."jawabku. "Killian is back."jawabku.
Kakakku langsung melepas pelukanku pada Henry dan melihat seluruh wajahku. "You okay?"
Aku mengangguk. Aku merasa tubuhku diangkat. Bukan Henry. Tapi Dennis.
Aku tau aku tidak ada didalam rumah tapi aku mau tau dimana Cali.
Sesampainya di kamarku. Aku segera menutupi badanku dengan selimut. Luke dan Lohan memeriksa keadaanku. Semua orang *kecuali Cali* yang tinggal dirumah ini ada dikamarku sekarang.
Kakakku dengan khawatirnya menungguku. Dia benar benar kakak penyayang. Aku bersyukur punya kakak seperti dia.
"Dia baik baik saja. Cuma demam biasa. Aku akan ambil obatnya. Dan seseorang harus berjaga disini." Lohan menjelaskan.
"Kami semua akan menjaganya disini. Kau dan Cindy ambil saja obatnya."jawab Luke. Lohan dan Cindy keluar dari kamarku. "Lizzaz dan Mundane bisa minta tolong buatkan makanan untuk Winter?"tanya Luke.
"Okay."jawab Mundane. Alizzi hanya mengikuti Mundane.
Kakakku menghampiriku. "Kenapa?"tanyanya.
"Aku tidak tau."jawabku.
Aku berusaha menyembunyikan ini. Tapi seandainya kau tau, kak, aku lakukan ini untuk kita, ucapku dalam hati.
Kakakku duduk disebelahku. Aku melihatnya. Dan terpantul dari kacamata kakakku. Wajahku hampir menjadi full memar. Entah apa yang dilakukan Killian padaku.
Kakakku mengelus rambutku. "Bisa keluar sebentar? Aku mau bicara pada Winter."tanya Kakakku pada semua yang ada di kamar Henry.
"Henry dan Dennis tetap disini."ucap kakakku lagi.
Dennis dan Henry duduk dikursi dekat meja belajarku. "Aku mohon sama kamu bilang sama aku Madilene, apa yang terjadi?"tanya kakakku memohon.
Aku tau kalau aku bilang sama kakakku dia bakal kebingungan.
"Ngga tau, kak."jawabku berusaha menenangkan kakakku.
Kakakku mencium dahiku lalu duduk disampingku. Dia duduk dilantai. Entah apa yang dipikirkannya?
Dennis duduk disamping kakakku, lalu memeluknya. Dennis sepertinya juga ingin tau apa yang ada di pikiran kakakku.
Henry berbaring disebelahku. Henry memeluk pinggangku. Aku juga mau tidur. Aku lelah sekali hari ini.
******************
"Wint?"
Seseorang membangunkanku. Bukan Killian. Untunglah...
Dennis yang membangunkanku. "Makanannya sudah jadi."ucap Dennis. Aku melihat kesampingku. Kakakku tidur disofa sebelah meja belajarku dan Henry, entah sejak kapan sofa itu ada disana.
Dennis membantuku duduk. Dia juga yang menyuapiku. Dennis baik juga. Pantas kakakku suka sama dia.
"Kamu ingat sesuatu?"tanya Dennis sambil menyuapiku.
"Apa?"aku balik tanya.
"Kakakmu lakukan segalanya buat kamu. Bahkan dia rela jadi pembunuh." Dennis menjelaskan.
Kakakku bukan pembunuh. Killian dan Cali yang pembunuh, Dennis.
"Kenapa kamu diam, waktu kakakmu nanya? Dia yang paling bingung kalau kamu hilang." Dennis melanjutkan.
"Aku nggak tau juga. Aku bisa berkorban buat dia tapi dia malah berkorban buat aku. Jadi aku bingung mau ngapain."jawabku sambil memakan bubur yang disuapkan Dennis.
"Kamu tau apa yang hilang dari dia sejak korbanin dirinya buat kamu?" Dennis berhenti menyuapiku. Aku menggeleng. "Hidupnya."
"Aku bingung. Dia masih hidup."
"Tapi dia hampir kehilangan semuanya. Keluarga. Teman. Dan... Aku."
"Kamu sayang kakakku?"tanyaku serius.
"Kalau tidak sayang dia aku mungkin ngga bakal ke bar dan minum wine tiap malam. Dan jangan lupa soal Carmie yang terus godain aku." Dennis menjelaskan.
Aku tertawa pelan. Walau dadaku sedikit sesak untuk bernafas. Dennis memberikanku segelas air yang ada di meja di sebelah kasur.
"Thanks."ucapku. Dennis membalasnya dengan senyuman.
Dennis terus menyuapiku bubur. Sampai makananku habis. Lalu Dennis memberikanku obat.
"Mana Cali?"tanyaku saat Dennis selesai memberiku obat.
"Dia kembali ke London bersama Carry."jawab Dennis santai.
London? Bersama Carry?
Apa Carry juga pembunuh?
"Kamu mikirin apa?"tanya Dennis.
"Nothing."jawabku.
"Okay. Kalau gitu tidur sudah... Besok baru kamu cerita sama kakakmu, okay?"tanya Dennis sambil mengelus rambutku.
"Ya, kakak ipar."jawabku sedikit mengejek.
Dennis duduk disofa sambil memangku kakakku. Dennis tidur tidak lama kemudian. Aku melihat jam dinding yang ada di atas pintu kamar. Sudah jam 2 malam. Pantas mereka semua mengantuk.
Aku ikut tertidur.
#ToBeCountinued
Date : Senin, 1 Juni 2015
KAMU SEDANG MEMBACA
Wine Part 2 (SOHL #3)
RomanceHAPPILY EVER AFTER Hal yang kuinginkan selama ini.
