Hai hai ....
Jantra back again!
Kalau nemuin typo langsung kabarin aku, ya. Ngetiknya malam-malam, meskipun udah dibaca berulang, tapi aku bacanya mode dikejar mantan jadi mungkin ada beberapa kata yang typonya mis.
Akhir kata, selamat kembali ikut dalam petualangan si penerbang tengil ini.
Selamat membaca.
_________________
"Bagaimana bisa pangkalan militer kita di serang drone?" tanya Presiden Faizal geram. Ia bahkan memukul meja kerjanya dengan napas yang memburu dan kedua mata melotot tajam. Ia menatap panglima tni dan kepala staff dari ketiga matra serta kepala kepolisian yang saat ini sedang melakukan rapat koordinasi di ruang kerjanya.
"Izin, Bapak, saya menyarankan pada pasukan untuk tidak melakukan apapun jika melihat hal yang mencurigakan. Menurut laporan tim patroli yang bertugas menyisir lokasi, ada pergerakan drone di sekitaran luar Pulau Andaan yang sempat tertangkap oleh tim patrolu udara kita. Namun, karena tidak berpotensi serangan, saya meminta mereka untuk memantau saja," ucap Panglima tegas.
Presiden Faizal kembali menggeram. "Saya merasa sudah di sepelekan! Republik Vessel bahkan secara terang-terangan menuduh negara kita melakukan penyerangan padahal sudah jelas menurut laporan Kapten Jantra pada petugas dan tim pencari fakta mengenai tragedi jatuhnya pesawat tempurnya jelas jika pesawat kita mendapatkan serangan. Saat ini mereka bahkan secara terang-terangan menyerang kita dengan menggunakan drone! Tidak bisa dibiarkan! Saya mau kita lakukan serangan balasan!"
"Izin, Bapak, hal itu dapat memicu perang."
"Negara lain sudah mulai menginjak-injak harga diri kita bahkan terang-terangan mengklaim wilayah kita masuk menjadi bagian wilayah negaranya. PBB saja sampai detik ini belum juga memberikan putusan tegas mengenai batas kontinen negara kita dengan Republik Vessel. Hal itu jelas karena pengaruh barat, bapak-bapak sekalian! Mereka ingin mengintimidasi kita! Saya sudah pernah katakan, jika negara kita terancam, saya akan berdiri paling depan untuk membela negara saya!"
Semua orang di ruangan itu diam. Mereka menegakkan posisi duduknya dan menatap tajam ke arah Presiden Faizal.
"Kami siap menerima perintah!" ucap panglima seolah mewakili anak buahnya.
"Kita akan memberikan serangan balik! Saya mau mereka berpikir dua kali bahkan seribu kali jika ingin mengusik negara kita!" ucap Presiden Faizal tegas.
***
"Barikade, amankan hangar pesawat!" ucap salah seorang komandan tim penyerangan.
Ia dan anggotanya menyebar di berbagai titik untuk mengamankan lokasi markas militer tersebut, termasuk hangar pesawat tempur, logistik, dan gudang senjata. Sebagian dari pasukan lainnya bergabung dengan tim yang menjaga banker tempat para keluarga prajurit bersembunyi.
"Menurut lo drone itu aktif atau cuma bom aja, Suh?" tanya Swarga saat ia menengadah dan melihat drone yang masih beterbangan dan menyerang wilayah markas tersebut.
Jantra memicingkan matanya, ia menatap dengan saksama, Jantra juga mengeluarkan kamera ponselnya dan mulai mengambil gambar untuk mendapatkan detail dari drone yang beterbangan tersebut. Jantra menatap beberapa gambar yang berhasil ia ambil dan memperbesarnya untuk lebih mendapatkan detail yang ia inginkan.
"Suh ...."
Jantra menunjukkan hasil gambar tersebut kepada Swarga. Seketika kedua orang itu membulatkan mata sambil saling menatap satu dengan yang lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
SAYAP GARUDA
General FictionDeclaimer : Cerita ini hanya fiktif belaka, nama tokoh, tempat, karakter tokoh, latar, serta alur dalam cerita ini dibuat berdasarkan imajinasi penulis. Mohon maaf jika terjadi ketidakcocokan dan ketidaksesuaian di dunia nyata. Pulau Andaan adalah...
