13

3.4K 338 9
                                        


.

.

.

Chenle bergerak gelisah di tempatnya. Pasalnya sedari 15 menit yang lalu Jisung izin pergi ke toilet, tuannya itu tidak juga kembali sampai sekarang. Ia mendadak khawatir terlebih dengan perasaan resah yang tiba-tiba muncul. Ia takut tuannya kenapa-napa hingga Chenle memutuskan untuk menyusul Jisung ke toilet khusus siswa tingkat pertama yang terletak di ujung kelas lantai bawah.

Matanya menatap awas ke sekitar koridor yang ia lewati. Hatinya tak tenang kala langkahnya semakin mendekati tempat tujuan. Chenle seketika terkejut mendapati aura dominan lain yang terasa asing namun familiar di dalam sana, bercampur dengan aura pekat milik tuannya.

Terasa kuat dan menyesakkan hingga langkahnya ia pelankan seraya memasang mode waspada. Siapa tahu itu merupakan vampir jahat yang berhasil menerobos sistem keamanan di sekolah ini.

PRANG!!

Chenle refleks menyembunyikan kepalanya agar serpihan kaca tidak mengenai wajahnya. Ia berjongkok dengan dada bergemuruh.

"A-apa itu barusan?" Ia menepuk-nepuk dadanya supaya dirinya dapat tenang. Lalu setelah itu ia teringat jika tuannya masih berada di dalam toilet. Segera saja ia bangkit dengan tergesa menghampiri bilik toilet yang hanya berjarak satu meter dari tempatnya tadi.

"TUAN! TU- EH JISUNG! ANDA DI DALAM??"

Dengan tanpa aba-aba tubuhnya ia bawa menghantam pintu hingga hampir lepas dari engselnya.

Dengan nafas yang masih ngos-ngosan, ia terdiam melihat tuannya berdiri di dekat jendela yang kacanya sudah pecah dengan ekspresi yang sulit diartikan.

Chenle melihat sekeliling bilik toilet, jika saja ada sesuatu yang sedang mengganggu tuannya itu. Tetapi tidak ada apa-apa disana.

"Jisung? Kau tidak apa-apa?"

Netra merah sang tuan hanya menatap tanpa ekspresi ke arah Chenle yang berjalan menghampirinya. Tangan mungil itu ingin meraih bahu sang tuan, namun kalah cepat dengan tarikan kuat Jisung di tangannya hingga wajah Chenle menabrak dada bidang vampir itu.

"Aduh.. tu-tuan kenapa?"

"Apa hubunganmu dengan vampir bersurai biru itu?"

Chenle mengerjap sebentar, ia mendongak menatap wajah tampan Jisung dari bawah.

"Vampir bersurai biru? Maksudnya kak Mark? Aku hanya menganggapnya seperti kakak kandungku sendiri."

"Hanya?"

Pemuda itu pun mengangguk dengan segala rasa bingungnya.

"Jauhi dia." ucap Jisung dingin. Seketika tubuh Chenle merinding kala matanya bersitatap dengan netra tajam tuannya.

"Ke-kenapa? Memangnya apa yang sudah terjadi dengan tuan?" Ia memberanikan diri untuk bertanya begitu. Ia masih belum paham situasi yang sedang melanda tuannya ini.

"Turuti saja dan jangan pernah membantah."

Chenle meringis kala pundaknya diremat kuat oleh Jisung. Setelah itu Jisung pergi dari sana tanpa kata, meninggalkan Chenle yang hanya bisa terdiam bersama rasa bingungnya pada sikap sang tuan barusan.

Bangsawan Lee memang penuh dengan kemisteriusan.


***


Bunyi bel berkumandang menandakan berakhirnya seluruh pelajaran hari ini. Siswa-siswi disana berhamburan keluar menuju asrama masing-masing, begitu pula dengan Chenle dan Jisung.

Master! [JiChen]✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang