25

3.2K 312 6
                                        




.


.


.


Chenle menggigit-gigit jarinya resah. Dirinya sedang berjalan mondar-mandir di hadapan sofa ruang tamu sejak setengah jam yang lalu.

Ia mengkhawatirkan tuannya yang daritadi mengurung diri di kamar setelah pulang sekolah. Tidak ada tanda-tanda tuannya akan keluar dari sana. Tentu membuat Chenle khawatir jika saja Jisung berbuat yang tidak-tidak di dalam sana.

Tentu ia tidak tahu penyebab tuannya seperti itu. Tetapi setelah keluar dari ruangan kepala sekolah, Jisung tidak mau hanya sekedar berbicara padanya. Melirik saja tidak. Pasti ada sesuatu yang tidak beres, pikir Chenle.

Pemuda itu jadi tidak bisa mandi dan berganti pakaian karena ulah Jisung. Ia mendudukkan pantatnya ke atas sofa, lelah berpikir dan mondar-mandir selama setengah jam.

Ia akan berjaga supaya jika Jisung berbuat yang aneh-aneh, ia sudah siap mendobrak pintu kamar.

Namun baru sepuluh menit, Chenle sudah jatuh tertidur dengan posisi duduk. Bersamaan dengan itu, pintu kamar terbuka menampakkan Jisung dengan tampilan acak-acakan, masih berseragam sekolah, namun jas dan dasi sudah ia tanggalkan.

Vampir itu melirik Chenle yang tertidur di sofa, berjalan menuju dapur dan mengambil sekantung darah segar untuk ia minum, berharap akan mendinginkan kepalanya.

Pikirannya melayang pada saat di ruang kepala sekolah. Ia meremas kantung bekas darah yang isinya sudah tandas dan melemparnya ke dalam keranjang sampah dengan agak kasar.

Flashback

Kepala sekolah Neo High School, Moon Taeil menyambut baik kedatangan asisten Lee di ruangannya, walaupun tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

"Silahkan duduk asisten Lee."

Jeno pun duduk di sofa berhadapan dengan sang kepala sekolah. Mark yang merasa tidak diperlukan lagi, hendak pamit undur diri dari sana. Tetapi Jeno malah menyuruhnya untuk ikut duduk disana. Mark mana bisa untuk tidak menuruti perintah vampir Lee itu.

"Suatu kehormatan bagi sekolah atas kedatangan anda ke sini. Jadi, apa yang akan anda bicarakan dengan saya tuan Lee?"

Taeil sebenarnya ingin menyuguhkan mereka berdua jamuan teh, tetapi ia lupa kalau yang di hadapannya adalah seorang vampir. Mana disana tidak ada stok darah lagi. Kalau mengambil ke kantin, tidak ada yang bisa disuruh-suruh karena hanya ia sendirian yang menempati ruangan ini.

Jeno tidak masalah, yang terpenting sekarang adalah mengatakan maksud kedatangannya menemui sang kepala sekolah. Ia menyampaikan semua yang dikatakan oleh Jaehyun. Taeil sesekali mengangguk dan mengernyit sebagai respon.

Sedangkan di luar, Jisung terhenti sekitar lima langkah dari ruangan kepala sekolah. Pendengarnya yang tajam mampu mendengar seluruh percakapan di dalam sana tanpa terlewat satu katapun.

Ia bersyukur karena dugaan buruk Chenle tidak terjadi. Dirinya berbalik hendak menuju ke kelas karena sebentar lagi jam istirahat berakhir, namun suara Jeno menyuruhnya untuk masuk ke ruang kepala sekolah. Kakak tertuanya tahu bahwa dirinya tengah berada di luar ruangan. Karena ada hal yang juga akan dibicarakan kepada adik bungsunya, jadi Jeno sekalian menyuruhnya masuk agar tidak menjelaskan untuk yang kedua kalinya.

Netranya bersitatap sekilas dengan Mark yang duduk di samping Jeno. Ia bertanya-tanya mengapa mantan ketua dewan siswa itu bisa ada disini.

"Semua sudah berkumpul di sini. Sesuai dengan apa yang ketua dewan suruh, jika kepala sekolah saja yang bertindak mungkin akan memakan waktu yang lama. Maka dari itu kita harus bekerjasama."

Jeno mengalihkan pandangannya pada Jisung yang masih belum mengerti situasi. "Kau, pasti kewalahan jika bergerak sendirian bukan?"

Jisung hampir membuka mulutnya untuk memprotes jika ia masih belum mengerti apa maksud perkataan sang kakak, tetapi Jeno langsung menyela, "Bekerjasama lah dengan Mark."

Jisung menggulirkan bola matanya ke arah Mark yang menampilkan raut terkejutnya. Taeil yang sedari tadi hanya menyimak pembicaraan ketiga vampir disana akhirnya membuka suara.

"Jisung, kau tahu aku seorang manusia yang tidak punya kekuatan apa-apa untuk mendeteksi anggota Traitor. Aku hanya diminta asisten Lee untuk sekedar mewaspadai orang baru yang masuk ke sekolah, khususnya guru. Aku tidak bisa mengecek satu persatu siswa yang jumlahnya ribuan. Maka dari itu kau dan Mark sebagai siswa yang bisa bergerak bebas untuk mengawasi seluruh siswa Neo High School. Apalagi Mark yang merupakan mantan ketua dewan siswa, ia pasti mengetahui seluk-beluk sekolah ini dengan baik."

Jeno tersenyum puas setelah mendengar penjelasan kepala sekolah itu yang menurutnya tepat sekali. Mungkin narasi darinya terlalu tinggi untuk dipahami oleh seorang siswa.

"Bagaimana adik bungsu?" tanya Jeno kepada Jisung yang masih betah mengatup mulutnya.

"Kenapa harus dia? Aku bersama Chenle pun sudah cukup." ucap Jisung dengan nada tidak setuju.

"Apa kau tidak menyimak dengan baik perkataan kepala sekolah barusan?" heran Jeno. Ia bingung kenapa anak itu terlihat tidak suka dengan Mark.

"Dia itu merepotkan."

"Merepotkan? Tapi apa kau lupa vampir Jung itu pernah merelakan perutnya tertusuk pisau beracun untuk melindungimu?"

Ya, Jeno tahu perihal Mark yang ikut terlibat dalam penangkapan salah satu anggota Traitor yang membuat keributan di depan mall.

Waktu ia mengeksekusi supir truk di sel tahanan, pria itu mengatakan jika ia berhasil melumpuhkan teman dari adiknya. Jeno langsung mencari tahu siapa sebenarnya 'teman' yang pria itu maksud. Sempat mengira itu Chenle, tetapi dari pengakuan orang suruhan dewan yang pergi ke tempat kejadian langsung, mereka melihat Jisung tengah menggendong seorang vampir bersurai biru terang yang tentu dikenali orang dewan sebagai anak bungsu bangsawan Jung.

Jisung mengepalkan tangannya. Ia tentu tidak melupakan kejadian itu. Namun bukan berarti itu bisa meruntuhkan keras kepalanya untuk menolak mentah-mentah bekerjasama dengan Mark. Ia tidak akan melupakan perkataan vampir Jung itu di toilet saat pertama kalinya mereka berbicara empat mata.

Entah kenapa, saat pikirannya mengingat Mark akan merebut Chenle darinya, mampu memercikkan emosi di dalam hatinya.

Walaupun Mark sekarang agak segan berdekatan dengannya karena peristiwa tertusuk pisau beracun itu, tetap saja itu tidak akan menurunkan tingkat kewaspadaannya terhadap Mark.

"Tidak, aku tetap tidak mau." kekeuh Jisung.

"Beri aku satu alasan logis atas ketidaksetujuanmu Lee."

Jisung bungkam. Tidak ada alasan kuat untuknya menolak perintah itu. Ia hanya tidak suka pada vampir alis camar itu! Dari awal vampir itu memberikan kesan yang buruk padanya. Jika saja pertemuan mereka aman damai tentram sejahtera, pasti ia tidak akan bersikap sampai seperti ini.

Mark tidak bisa merespon apa-apa dan hanya terdiam di tempat menyaksikan perdebatan dua Lee bersaudara di hadapannya.

Jeno menghela nafas, "Diammu aku anggap sebagai persetujuan. Apapun alasanmu tidak menyukai bekerja sama dengan Mark Jung, perintahku mutlak."

Flashback end

"Sial!"

PRANG!

Pecahan vas bunga keramik mengotori lantai dapur. Jisung tidak sengaja melesatkan kekuatannya pada benda itu. Ia mengacak-acak rambutnya frustasi sampai Chenle yang tertidur di sofa pun terbangun seketika.



Tbc.


😊😊

Master! [JiChen]✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang