26

3.2K 330 24
                                        




.


.


.


Dering ponsel memenuhi ruangan bernuansa biru pastel itu sedari 7 menit yang lalu hingga pemuda manis yang tengah terlelap di kasurnya terganggu. Dengan nyawa yang masih terkumpul seperempat, Chenle meraih benda metal persegi itu di atas meja nakas. Ia berusaha membuka matanya lebar-lebar guna melihat siapa gerangan yang menelponnya sore-sore begini.

"Kak Renjun?"

Jemarinya menekan ikon berwarna hijau, seketika panggilan pun tersambung.

"Halo kak?"

"Halo Chenle, kau ada dimana?"

Chenle mengernyit heran, kenapa Renjun menanyakan keberadaannya. Tentu ia ada di asrama.

"Aku di asrama sekolah kak."

"Oh? Kau pindah tempat tinggal?"

"Iya kak. Memangnya ada apa?"

"Pantas kost milikmu kosong. Aku barusan datang ke kostmu, tapi kata pemilik kost kamarnya sudah tidak ada yang menempati lagi."

Chenle terdiam sejenak. Seketika ia teringat jika dirinya sama sekali belum memberitahu Renjun maupun Haechan kalau dirinya sudah tidak tinggal di kost lamanya lagi. Dia sekarang tinggal di asrama sekolah khusus vampir.

Gawat kalau Renjun tahu ia tinggal disini. Apalagi jika menemukan dirinya tinggal berdua dengan Jisung. Bukan apa-apa, hanya saja ia harus menutup identitas barunya sebagai vampir dari kedua temannya itu. Cukup Mark saja yang tahu, mereka jangan.

"Um, ehehe.. iya kak. Omong-omong kakak ada perlu apa mencariku?"

"Aku ingin kau mencoba kue kering buatanku. Jadi kamar asramamu nomor berapa? Biar aku yang mengantar kesana."

"Ah tidak usah kak, biar aku yang kesana. Kakak tunggu saja disitu, jangan kemana-mana!"

"Tapi Chenle-"

"Tidak kak. Kakak pasti lelah sudah berjalan jauh. Tunggu ya kak! Aku tidak akan lama kok!"

Tanpa menunggu jawaban Renjun di seberang telepon, Chenle mematikan panggilan dan segera meraih celana panjang serta hoodie hitam miliknya yang tersampir di kursi. Saat ia tertidur barusan, ia hanya mengenakan kaos putih berlengan pendek dan celana pendek diatas lutut saja.

Saat melintasi sofa tamu, Chenle melihat Jisung yang tengah duduk membelakanginya sambil menghadap ke televisi.

"Tuan, aku keluar sebentar ya!" seru Chenle setengah berteriak saat dirinya telah berada di luar kamar asrama. Tanpa menunggu respon dari Jisung, ia melesat cepat menuju kost lamanya dengan melewati jalan terdekat agar ia bisa cepat sampai.

Jisung hanya melongo di tempat sambil menatap pintu yang sudah tertutup rapat.

Waktu Chenle keluar, langit sudah kehilangan cahayanya. Ia seketika dilanda kekhawatiran pada Renjun yang mungkin tengah sendirian disana. Peralihan hari biasanya rawan akan bahaya yang mengintai dibalik gelapnya malam. Apalagi pemerintah juga sudah menghimbau kepada masyarakat agar jangan keluar rumah melewati jam 7 malam, apalagi sendirian.

Semoga Renjun tidak kenapa-kenapa.



***



Sedangkan disisi lain, setelah panggilan terputus secara sepihak, Renjun kembali mengantongi ponselnya dan menunggu Chenle datang di depan kost lama pemuda itu.

Sebenarnya Renjun agak bingung juga dengan Chenle. Beritahu ia nomor kamar asramanya apa susahnya sih? Kenapa harus repot-repot datang kesini lagi?

Pemuda bermata rubah itu pun menggeleng-gelengkan kepalanya. Ada-ada saja tingkah aneh adik manisnya itu.

Master! [JiChen]✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang