.
.
.
Chenle duduk di tepi ranjang UKS sembari menunggu jasnya kering yang digantungkan di dekat AC supaya lekas kering. Tidak mungkin ia kembali ke kelas dan belajar dalam keadaan basah. Jadilah ia pergi ke UKS dengan dalih ingin mengeringkan jasnya yang basah karena tak sengaja tersiram air keran saat diletakkan di dekat wastafel.
Petugas kesehatan percaya-percaya saja karena Chenle merupakan siswa baik-baik, makanya dia tidak curiga jika anak itu tengah membohonginya.
Chenle mana pernah mengadukan perbuatan buruk yang diterimanya di sekolah kepada pihak guru. Kadang Haechan, Renjun dan Mark pun tidak diberitahu. Ia tidak mau ketiga temannya ikut terseret ke dalam masalahnya.
Lama ia termenung bersama pemikiran melalang buana sedari tadi, bel istirahat berbunyi nyaring mampu menyeretnya kembali ke kesadarannya.
Ia meraih jas yang tersampir di sandaran kursi dan mengeceknya. Lumayan kering, ia masih bisa memakainya sampai jam pulang tiba.
Chenle pergi dari UKS tak lupa mematikan AC dan menutup pintu. Ia segera kembali ke kelas untuk mengejar ketertinggalan pelajaran.
"Darimana saja?"
Baru hendak mendaratkan bokongnya pada kursi, Jisung langsung menyerangnya dengan pertanyaan bernada datar. Chenle menggaruk pelipisnya.
"Dari UKS, maaf tidak memberitahumu sebelumnya."
Jisung memicing curiga. "Tadi izin ke toilet, kenapa malah jadi ke UKS? Kau membohongi guru."
"I-itu, aku benar ke toilet kok. Tapi tidak sengaja jasku basah terkena air keran waktu kuletakkan di samping wastafel. Jadi aku ke UKS dulu sampai jasku kering. Aku tidak bisa fokus belajar jika dalam keadaan basah."
Jisung jelas tidak bodoh untuk tidak mengetahui jika alasan panjang itu adalah kebohongan semata. Namun ia memilih diam saja dan melihat sejauh mana pemuda itu bisa menyimpan bualannya.
Chenle yang merasa jika Jisung percaya dengan alasannya barusan diam-diam menghela nafas lega. Ia lalu menarik buku catatan dan buku pelajaran di kolong mejanya. Ia menoleh dan tersenyum ke arah samping wajah Jisung yang menampilkan pahatan tegas nyaris sempurna dari sang pencipta.
"Kau duluan saja ke kantin. Aku akan menyusul kalau aku sudah selesai mempelajari materi yang tertinggal."
***
Tak terasa bel pulang berkumandang, para siswa segera berhamburan keluar kelas dan menuju asrama masing-masing. Setelah berpamitan pada Haechan dan Renjun, Chenle tengah menunggu Jisung yang katanya masih ada urusan di kelas pun menyuruh pemuda itu menunggu di luar gerbang sekolah.
Urusan yang dimaksud Jisung itu piket kelas. Vampir itu terkena jadwal hari ini. Maka sebagai vampir yang memerankan murid teladan, mau tak mau ia harus melakukan aktivitas normal agar tidak dicurigai oleh siapapun.
Chenle berdiri di tempatnya dengan gelisah. Matanya tak jarang bergerak acak ke segala arah tanda pemuda itu merasa was-was akan sekitarnya. Ia takut jika ia bertemu dengan ketiga manusia perisak itu, ia akan mendapat kekerasan lagi.
Dapat dilihat jika jalanan di depannya mulai jarang dilewati oleh siswa. Sekelilingnya mulai terasa sepi, itu menyebabkan ia semakin gelisah.
Terik sinar matahari menghujani tubuhnya hingga kulit pucatnya seakan-akan berkilauan di tengah cerahnya cuaca siang itu.
"Oho~ siapa anak yang sedang kepanasan ini?"
Chenle terperanjat kala suara itu tiba-tiba muncul di sampingnya, disusul suara langkah kaki lain dari arah belakangnya. Ia panik karena mendapati dirinya tengah dihampiri oleh ketiga pembully itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Master! [JiChen]✓
VampiriMaster! BOOK I [END] ___ "Harusnya kau biarkan malaikat maut merenggut nyawaku! Aku tidak mau hidup seperti ini!" "Hidup dan matimu ada di genggamanku! Jangan pernah berpikir untuk menghilangkan nyawamu sendiri Zhong Chenle!" "Mulai sekarang jangan...
![Master! [JiChen]✓](https://img.wattpad.com/cover/344813939-64-k20600.jpg)