*Nayeon POV
Saat ini aku dan Jihyo baru saja sampai di Restoran. Aku terpaksa mengikuti planning orang tuaku untuk bertemu dengan pria pilihannya itu. Tapi aku senang setidaknya ada Jihyo bersamaku.
Aku dan Jihyo sengaja datang terlambat agar pria itu lelah menunggu.
"Memangnya dia menunggu kita di meja nomor berapa?" Tanya Jihyo.
"Di meja nomor 7" Kataku yang sudah tahu dari Appaku.
"Baiklah, ayo kita kesana" Katanya.
"Ayo" Kataku.
***
"Jadi kau yang akan dijodohkan dengan Nayeon?" Kata Jihyo pada pria itu.
Pria itu hanya mengangguk dan aku hanya bingung yang tak tahu apa-apa.
"Ya ampun, kenapa dunia ini sempit sekali?" Sambungnya.
"Apa kau mengenalnya, Jihyo-ya" Tanyaku.
"Tentu saja aku mengenalnya" Katanya.
"Oh, kita belum berkenalan I'm Nayeon. Perkenalkan saya Park Chanyeol" Katanya ingin menyalamiku.
"I'm Nayeon" Kataku terpaksa menyambut tangannya.
"Sejak kapan kalian saling mengenal?" Tanyaku karena kulihat keduanya cukup akrab.
"Aku mengenal Jihyo karena dia kekasih dari Sahabatku" Jawab Chanyeol.
"Daniel?" Kataku.
"Tentu saja I'm Nayeon, siapa lagi kalau bukan Daniel?" Kata Jihyo sedikit kesal padaku. Kami pun terkekeh.
Beberapa saat kemudian, Jihyo mulai menceritakan semuanya pada Chanyeol tentangku, tentang perjodohan yang dirancang oleh orang tuaku dan tentang kisahku dengan Jeongyeon. Aku hanya mendengarnya saja. Jihyo benar-benar sahabat yang baik. Ia menjelaskan semua apa adanya. Aku sangat berterima kasih padanya.
"Jadi, Tuan Chanyeol apakah kau mengerti dengan situasi ini?" Tanya Jihyo.
"Aku sangat paham semuanya" Katanya.
"Kau tak perlu khawatir Nayeon-Shi, aku akan membujuk orang tuamu untuk membatalkan perjodohan ini" Sambungnya.
"Jadi tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja. Aku juga akan mendukungmu untuk kembali pada Jeongyeon" Katanya tulus.
Aku sangat senang mendengarnya. Jihyo benar, tidak semua orang di dunia ini jahat. Masih banyak orang baik di luaran sana. Dan Chanyeol termasuk pria baik itu.
"Ah, aku benar-benar berterima kasih Chanyeol. Terima kasih telah memahami semua ini" Kataku.
"Tidak masalah. Aku senang membantumu" Katanya lalu tersenyum.
"Jadi, kapan kita order makanannya" Kata Jihyo.
Aku dan Chanyeol pun terkekeh. Segera kami order makanannya dan makan siang bersama.
*Nayeon POV end
******
*Mina POV
Saat ini aku dan Sekretaris Minnie sudah sampai di depan Kantor Tuan Chanyeol. Kami akan membahas tentang proyek kami bersama para klien lainnya.
"Apakah Nyonya Myoui akan tetap melanjutkan meeting ini?" Tanya Sekretaris Minnie padaku.
"Tentu saja, ini adalah proyek yang penting" Kataku.
"Tapi saya khawatir dengan kesehatan Nyonya. Lagi pula Nyonya sedikit pucat" Katanya khawatir.
"Aku baik-baik saja, Sekretaris Minnie. Jangan khawatir" Kataku meyakinkannya.
Ya, sebenarnya wajahku sedikit pucat. Appa dan Eommaku juga melarangku pergi ke Kantor hari ini. Hanya saja aku tetap memaksakan diri. Aku tidak ingin menghabiskan waktu di tempat tidur. Aku ingin melupakan problem yang ada.
Saat ini kami menuju tangga lift untuk menuju ke Ruangan meeting. Saat pintu lift hampir tertutup, pintu itu terbuka kembali.
"Tzu-Tzuyu" Kagetku dalam hati.
Mataku bertemu dengan matanya. Mata yang sangat aku rindukan. Tapi dia lah yang mengakhiri kontak mata kami.
"Selamat Siang Nyonya Myoui" Sapa Sekretaris Tzuyu padaku. Aku hanya tersenyum padanya.
Kini Tzuyu tepat berdiri disampingku. Tak pernah terpikirkan olehku kenapa aku bertemu dengan Tzuyu disini? Apa yang sedang ia lakukan? Apakah ia akan bertemu juga dengan Tuan Chanyeol?
Sejak kejadian malam itu, inilah awal pertemuan kami. Aku senang Tzuyu baik-baik saja. Nampaknya ia tidak seberantakan seperti yang kupikirkan. Namun, disisi lain aku merasa sangat sedih, ia tak menyapaku lagi. Aku benar-benar canggung sekarang. Mungkin Sekretaris Minnie dan Sekretaris Shuhua menyadari kegelisahanku. Bagaimana pun juga mereka berdua juga saksi antara hubunganku dengan Tzuyu dulu. Aku sering mengunjungi Kantor Tzuyu, begitupun Tzuyu juga sering mengantar dan menjemputku.
"Baiklah, berarti keputusan Tzuyu sudah benar adanya. Kami akan mengikuti planningmu Myoui Mina. Aku dan Tzuyu memilih menyerah."
Tiba-tiba kepalaku sangat sakit dan pusing, pernyataan Sana pada saat itu berputar diotakku dengan sangat jelas. Aku memegangi kepalaku.
"Aw..." rengekku.
"Kau tidak apa-apa Nyonya Myoui" Tanya Sekretaris Minnie panik.
"Wajahmu pucat sekali Nyonya Myoui" Kata Sekretaris Shuhua juga mendekatiku.
"Aku tidak apa-apa" Kataku.
Aku melirik Tzuyu menatap datar pada pintu lift itu. Ia sama sekali tidak melihatku. Aku sakit! aku hancur! Tapi ini pantas untuk kuterima. Jujur, ingin sekali aku berlabuh dalam pelukannya. Aku ingin menangis dalam dekapannya. Aku ingin mencurahkan hatiku betapa aku mencintainya. Aku ingin mengatakan bahwa aku terpaksa menjauh darinya. Tapi sekarang ia tidak peduli padaku.
"Apakah benar kamu sudah menyerah?" Kataku dalam hati.
Baru pemula. Silakan berikan kritik dan sarannya. Terima kasih 🙏🥰🥰
KAMU SEDANG MEMBACA
CACTUS ||Misatzu
Romance"Aku tidak punya pilihan jika kekasihku memohon penuh harap" -TZUYU- "Maaf...aku merepotkanmu dan menghancurkan hidupmu" -SANA- "Keputusanku kadang menyakitiku, tapi tidak melakukan apapun adalah salahku" -MINA-
