*Sana POV
Sekarang sudah larut malam, Tzuyu belum kembali. Aku khawatir padanya, terlebih-lebih ia belum sembuh total. Tadi ketika ia keluar dari kamarnya, matanya sedikit membengkak karena menangis. Apalagi ia tidak mengatakan apapun. Aku sangat paham Tzuyu sehancur ini. Kembali kuteringat bagaimana Mina mengambil keputusan mengakhiri hubungannya dengan Tzuyu. Sungguh ini tidak seharusnya terjadi kan?
Aku harap Mina berpikir kembali dengan keputusannya. Tadi juga mengancamnya.
"Mina-ya, jika kau tetap memilih meninggalkan Tzuyu, maka kali ini kau benar-benar menganggap aku musuhmu" kataku.
Tidak mungkin Mina mengorbankan persahabatan kita? Tidak mungkin ia memilih menjadi musuhku? tapi entah kenapa hatiku ragu padanya?
Tidak! sebelum itu terjadi aku akan menyelesaikan hubungan ini. Aku ingin melepaskan Tzuyu, agar Mina bisa bersama Tzuyu. Jika menunggu anakku lahiran, bukankah itu cukup lama? Aku tidak ingin menyiksa kedua insan ini. Jika aku sudah bercerai, tidak ada alasan Mina meninggalkan Tzuyu kan? Tekadku sudah bulat. Aku lah yang memulai problem ini, aku juga yang seharusnya bertindak.
Tok Tok Tok
Suara ketukan pintu terdengar olehku. Tzuyu sudah pulang. Aku harap ia lebih membaik daripada berantakan pada saat itu.
Ceklek
Kubuka pintu dan kulihat Tzuyu dalam kondisi yang sama seperti sebelum pergi tadi. Ia melewatiku dan menaiki tangga.
"Tzu" kataku.
Ia menghentikan langkahnya.
"Aku ingin mengatakan sesuatu" kataku.
Ia tidak menyahutku, tapi masih diam berdiri disana.
"Aku ingin bercerai" kataku.
"Aku ingin membebaskanmu, Tzu. Kau tidak perlu bertanggung jawab sampai anak ini lahir. Aku akan mengatakannya pada orang tuaku. Jadi jangan khawatir" sambungku.
Tzuyu masih berdiam diri. Aku menghela napasku.
"Inilah seharusnya keputusan yang harus kuambil sebelumnya. Aku ingin menebus kesalahanku yang membuatmu menderita dan membuat Mina menderita karena ia mengorbankanmu" kataku lagi.
Hening! cukup hening. Aku menunggu Tzuyu mengatakan sesuatu.
"Aku tidak ingin bercerai! Kita ikuti saja alurnya" katanya yang membuatku kaget.
Aku tidak percaya Tzuyu mengatakan ini, tapi kalimatnya sangat jelas kudengar. Aku mengernyitkan dahiku.
"Ada apa dengannya?" kataku dalam hati.
Ceklek
Tanpaku sadar ia sudah membuka pintu kamarnya.
******
Seperti biasa rutinitasku setiap pagi. Aku menyiapkan sarapan pagi, roti dengan selai strawberry sudah terhidangkan dan segelas susu yang tersajikan. Ini kupersiapkan untuk Tzuyu.
Kulihat Tzuyu menuruni anak tangga dengan setelan jas hitam yang menjadi favoritnya. Ada yang berbeda darinya pagi ini, tapi apa?
Srek
Tzuyu menggeser kursinya yang membuatku sedikit kaget. Dia sudah ada di depan meja makan. Aku hanya berdiri disampingnya, entah apa yang kupikirkan? Aku hanya memperhatikan Tzuyu dengan lahap memakan rotinya. Aku merasa bahwa Tzuyu Sahabatku telah kembali. Aku merasa auranya lebih ceria.
"Apakah kau tetap masih berdiri dan menjadi hiasan patung di sampingku?" katanya membuyarkan lamunanku.
Apa yang Tzuyu katakan tadi? aku mendengarnya sangat jelas. Ia mengolok-olokkanku, aku semakin yakin Tzuyu Sahabatku yang sebenarnya nyebelin ini telah kembali. Aku benar-benar rindu dengan sikapnya begini. Tanpa kusadari senyum terukir diwajahku.
Srek
Tzuyu menggeser kursi.
"Duduklah" katanya.
Dia menyuruhku duduk, aku pun duduk disampingnya. Pikiranku masih memproses, apa yang terjadi dengan Tzuyu? Aku senang ia kembali seperti dulu, tapi disisi lain aku khawatir.
"Kau kaget kan kenapa aku seperti ini?" tanyanya.
"Ne" kataku.
Ia menghembus napasnya.
"Seharusnya kau senang kan Sahabatmu yang dulu kembali lagi?" katanya. Aku mengangguk.
"Seseorang pernah mengatakannya padaku" katanya datar, tapi seringai senyum diwajahnya. Namun, itu senyum menyedihkan menurutku.
"Kaktus tidak hidup di gurun karena ia menyukai gurun, ia tinggal di sana karena gurun belum membunuhnya" sambungnya menatap lekat mataku. Entah kenapa aku mengerti maksud yang disampaikannya.
"Ta-Tapi?" kataku canggung.
"Kau tidak lupa apa yang kukatakan tadi malam, Sana-ya? ikuti saja alurnya. Aku sudah terlalu lelah dengan perjalanan ini" katanya.
"Apakah maksudmu kau juga memilih mengakhiri hubunganmu dengan Mina dan menyerah?" kataku tiba-tiba.
"Ini tidak adil Tzu. Ini bukanlah keputusan yang baik. Kalian berdua itu saling mencintai. Aku benar-benar semakin bersalah dengan ini" sambungku.
"Keputusanku sudah bulat, Minatozaki Sana" katanya.
Aku benar-benar tak habis pikir dengan semua ini.
"Apakah kau sudah tidak mencintai Mina lagi?" tanyaku.
"Aku harus ke kantor sekarang" katanya beranjak pergi.
"Tzu?" tahanku.
"Karena aku mencintainya, aku mengikuti semua alurnya" katanya, lalu melangkah cepat.
Deg!
Aku semakin yakin Tzuyu saat ini berada dititik terpuruknya. Ini kondisi luka hatinya lebih parah.
Ia sudah menyerah!
Baru pemula. Silakan berikan kritik dan sarannya. Terima kasih 🙏🥰🥰
KAMU SEDANG MEMBACA
CACTUS ||Misatzu
Romantiek"Aku tidak punya pilihan jika kekasihku memohon penuh harap" -TZUYU- "Maaf...aku merepotkanmu dan menghancurkan hidupmu" -SANA- "Keputusanku kadang menyakitiku, tapi tidak melakukan apapun adalah salahku" -MINA-
