Di antara api dan teman.

60 8 2
                                        

༺✦༻

Tidak semua luka harus berdarah. Kadang cukup diam, dan semuanya terasa patah.

—Kata author.

༺✦༻






Suasana di sekitar UKS sudah sepi, kamar-kamar santri sudah memadamkan lampu. Wajar saja, semua merasakan lelah yang sama.

Ustadz Yayan masih setia di samping Oxy, ia takut jika nanti Oxy tersadar ia tidak ada di sana, Ustadz Yayan  tidak rela meninggalkan Oxy pada kondisi seperti ini.

20 menit

40menit

1 jam

Oxy belum ada perubahan seperti ingin bangun.

Ustadz Yayan merasa kantuk dan hendak tidur di salah satu bangku, "kayaknya dia lanjut tidur deh!, yaudah saya juga tidur yaa! nanti kalo kamu bangun, bangunin saya ya Oxy!"

Ustadz Yayan berbicara di depan muka Oxy dengan mengulas senyum di ujungnya, langkahnya menuju bangku dan terlelap tidur sampai dini hari.

Ustadz Yayan terbangun pada jam 04:43 karena ia ingin membuang air kecil, ia melirik Oxy sekejap sebelum ia keluar dari sana.

Ia meninggalkan Oxy sendiri di sana.

Hari mulai pagi, Oxy belum juga tersadar dari pingsannya.

Membuat Gilang  khawatir dengan keberadaannya, pasalnya ia sudah mencari ke gudang tempat biasa Oxy tidur selain di kamar, tapi hasilnya nihil, ia tidak menemukan Oxy di sana.

Ia sempat bertanya pada teman-teman ronda Oxy dan Mikha tapi hasilnya sama saja, ia takut terjadi apa-apa pada Oxy.

Belum puas dengan hasilnya.

Gilang lanjut mencari keberadaan Oxy di kompleks sebelah, biasanya Oxy jarang ke kompleks sebelah kecuali hal yang penting, kakinya menelusuri semua tempat yang ada di sana.

Di jalan dekat kantin, Gilang bertemu Melvin yang tengah memakan nasi goreng dengan tangan yang melambai seperti memanggilnya.

Ia duduk di samping Melvin yang langsung melontarkan pertanyaan.

"Tumben ke sini? nyari gue?" ia sedikit terkekeh.

"Kepedean lo! gue nyari Oxy! emang lo ga liat?

Melvin sedikit tersedak mendengarnya.

"Emang Oxy hilang!" bantahnya.

Gilang menghela nafas malas,
"temani gue yuk!" Gilang berdiri.

Melvin membalasnya dengan anggukan setuju, kemudian ia berdiri meninggalkan kantin bersama Gilang di sampingnya.

Padahal sudah hampir masuk kelas tapi mereka berdua belum juga menemukan keberadaan Oxy.

Benar-benar tidak ada yang melihat Oxy, bahkan teman rondanya sekalipun.

Rencananya mereka akan lanjut mencari Oxy setelah pulang sekolah saja.

"Nanti aja deh kita cari lagi, udah mau masuk soalnya." Melvin memberi saran pada Gilang yang tampak cemas, bak seorang ayah mencari anak tunggalnya.

"Hm ... iya juga sih, tapi kalo gue ditanya dia dimana, gue jawab apa dong?" Gilang jadi bingung sendiri.

"Bilang aja dia gaada, kan memang kenyataannya"

"Serah lo deh! yaudah gue cabut ya!"

"Iya, hati-hati"

Mereka berpisah di depan kelas, secara mereka berbeda kelas, Melvin berada di kelas 5D dan Gilang serta Oxy berada di kelas 5A, yang lain juga berbeda kelas dengannya.

Mikha, Si Babu OxyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang