"Gue itu mau bimbingan, lo kenapa malah ngajak gue santai-santai gini?" sungut Sava seraya menyendok es krim yang tadi Nava belikan untuknya.
Sayangnya, Nava hanya memutar bola matanya malas. Sekalipun kakaknya itu berkata tak mau, tapi sangat terlihat dengan jelas kalau Sava suka diajak jalan-jalan oleh Nava. Pria itu tak membalas sungutan kakaknya, tetapi ikut menikmati es krim.
"Nava, gue itu mau bimbingan," lanjut Sava.
"Udah, berisik lo. Lo juga suka, 'kan? Gak usah gengsi gitu," ucap Nava membuat Sava berhenti bersungut-sungut bahkan kini mencibir adiknya itu.
Nava sengaja mengajak Sava jalan-jalan, dia akhir-akhir ini melihat kakaknya begitu murung. Makan pun hanya sedikit, lebih banyak diam saat di rumah, kadang juga memilih menyendiri di kamar padahal keluarga sedang berkumpul di ruang tengah. Tujuan Nava mengajak Sava, ingin membuat kakaknya itu kembali ceria. Tapi kenapa kakaknya ini tak peka dengan maksudnya? Kalau dia cerita maksudnya, yang ada kakaknya ini pasti keheranan dan menjailinya tanpa ampun.
"Habisin, terus kita keliling mall. Gue rela nguras tabungan demi lo," ujar Nava tanpa sadar dia mengatakan hal tersebut.
Sontak itu membuat Sava tersenyum menggoda adiknya, dia juga mengerling jail, saat tahu kalau adiknya ini mau membuat senang. Ah, diam-diam adiknya ini memang sangat romantis.
"Romantis banget sih adek gue ini," ungkap Sava seraya mencubit pipi Nava, membuat si empunya berdecak kesal.
"Terpaksa gue ngajakin lo," kata Nava.
"Kenapa? Karena kasihan lihat gue?" tebak Sava.
Walau begitu, gadis itu tersenyum jail pada adiknya. Dia sadar, Nava pasti mengetahui ada yang tidak beres pada dirinya. Namun, Sava tak ingin menunjukkan secara terang-terangan tepat di depan adiknya, dia berpura-pura tak terjadi apapun. Sudah cukup dulu dia pernah membuat adiknya berjuang untuk membuat dia bahagia, tidak untuk kali ini.
"Kak, lo kalau ada masalah, cerita sama gue. Gue tuh gak mau lo kayak dulu lagi," ujar Nava tulus.
Saking Nava menyayangi kakaknya, dia tak ingin sesuatu terjadi pada kakaknya. Siapapun yang mencoba atau menyakiti kakaknya, harus berurusan dengan Nava, sekalipun itu orang yang mungkin juga berarti di hidupnya.
Sava menggigit kecil bibir bawahnya, gemas melihat adiknya yang begitu romantis padanya. Ah, kalau saja Nava bukan adiknya, mungkin sudah dari kemarin dia jadikan kekasih.
"Kira-kira kalau Cantika dengar ini, dia klepek-klepek gak, ya, sama lo?"
Tiba-tiba saja Sava malah mengarah ke sana, dia tadi cukup terharu mendengar pengakuan adiknya, dan untuk mengalihkan rasa harunya, Sava langsung mengalihkan pembicaraan.
"Malah ke Cantika. Gue itu serius," kata Nava.
Mendengar itu, mata Sava tiba-tiba saja berkaca-kaca, dia ingin menangis, tapi sadar adiknya tak suka melihat dia menangis. Mata gadis itu menatap Nava haru, tangannya bergerak menarik tangan Nava dan digenggam erat.
"Gue dari tadi nahan diri mau nangis. Boleh gue nangis, gak?" tanya Sava meminta izin.
Nava menggeleng, lalu menjawab, "Kalau nangis karena cowok itu, mending jangan. Air mata lo terlalu mahal."
Sava tersenyum kecil, membalas perkataan Nava, "Gue sayang sama lo."
"Jijik gue dengarnya," kata Nava menghempas tangan kakaknya pelan nan lembut, seakan tak mau kakaknya sakit hati.
Sementara Sava, yang mendengar itu seketika langsung mencibir adiknya. Padahal tadi suasana sangat haru, tetapi adiknya ini malah berkata seperti itu. Sava bahkan berdecak kesal, adiknya ini benar-benar tak bisa menghargai suasana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Choice (END)
RomanceSial bagi Sava Orlin setelah melihat lembar penetapan pembimbing skripsinya. Di sana tertulis nama sang mantan calon suaminya, membuat gadis itu akan kembali berurusan dengan Afkari, bukan karena mengurus pernikahan, tapi mengurus tugas akhirnya. Sa...
