Setelah sekian lama Afkari tak makan malam bersama keluarganya, karena tak ingin bertemu dengan ayahnya dan dia yang juga sakit, kini Afkari kembali bergabung makan bersama ayah dan ibunya setelah sekian lama.
Pasca keluar dari rumah sakit beberapa hari yang lalu, Afkari sudah sehat dan beraktivitas seperti biasanya. Hanya saja, pria itu sudah tak seperti dulu lagi, dia jarang bertegur sapa dengan ayahnya, bahkan saat matanya bertubrukan dengan mata ayahnya, Afkari langsung mengalihkan dengan cepat.
Denting sendok dan piring beradu, mengisi suasana hening di ruang makan kali ini. Nolan sejak tadi melirik anaknya yang duduk seraya menikmati makanannya, Afkari terlihat tak peduli padanya.
"Habis makan Ayah mau bicara," ucap Nolan tak tahu ditujukan pada siapa.
Afkari hanya diam, sedangkan Bella menatap suaminya dengan mengernyit heran.
"Di ruang kerja Ayah, Afkari," lanjut Nolan menjawab kebingungan dari Bella.
Afkari pun yang mendengar itu mengangguk patuh, toh kalau pun dia membantah, ayahnya akan tetap berkeras. Pria itu langsung menghentikan makannya, kemudian bangkit dari duduknya meninggalkan kedua orang tuanya tanpa berkata apapun. Hal itu sama sekali tak dipermasalahkan oleh kedua orang tuanya, mereka sadar, bahwa Afkari seperti itu sebagai bentut protes dan marahnya pada Nolan.
"Kamu mau ngomong apa sama Afkari, Mas?" tanya Bella. Wanita paruh baya itu takut apabila Nolan kembali bertengkar dengan Afkari bahkan mungkin bisa menyulut emosi Afkari yang sudah mulai tenang akhirhskh ini.
"Untuk kebahagiaan Afkari dan untuk masa depan dia," jawab Nolan lalu pamit untuk menyusul Afkari.
Nolan yakin, anaknya itu pasti sudah masuk ke ruang kerjanya, menunggunya di sana. Ketika pria paruh baya itu masuk ke ruang kerjanya, dia menemukan Afkari yang sibuk membaca majalah bisnis di sofa, padahal anaknya itu tak suka dengan hal yang berbau bisnis seperti itu.
"Tumben baca majalahnya," ucap Nolan berbasa-basi. Dia cukup bingung harus memulai dari mana untuk berbicara pada anaknya sendiri.
Afkari tak menjawab, tetapi menatap ayahnya dengan wajah datar. "Jadi ayah mau bicara apa?"
Nolan yang mendengar itu, tak langsung menjawab, dia memilih melangkah menuju kursi putar miliknya, kemudian mendudukkan tubuhnya di sana. Hal itu malah membuat Afkari kesal. Jujur saja, semenjak dia mengetahui penyebab dia batal menikah karena ayahnya, Afkari tak suka berlama-lama berada di tempat yang sama dengan ayahnya, terutama pada ruang kerja ayahnya yang hanya boleh dimasuki oleh orang yang dipanggil ayahnya.
"Kamu masih cinta sama Sava?" tanya Nolan memulai pembicaraan.
Sontak hal itu mengundang banyak pertanyaan bagi Afkari. Kenapa ayahnya ini bertanya perihal perasaannya pada Sava? Bukankah ayahnya sudah tahu seberapa cinta dia dengan Sava?
"Ayah sudah tahu jawabannya, 'kan? Kenapa harus bertanya lagi?" balas Afkari memutar balik pertanyaan pada Nolan.
Nolan menghela napasnya, sudah sangat jelas kalau anaknya ini tak ingin berlama-lama dengannya.
Menuruti keinginan anaknya, Nolan pun berkata, "Perjuangkan Sava. Kali ini Ayah gak menghalangi lagi."
Sontak perkataan Nolan membuat Afkari yang tadinya melihat ke arah lain langsung menoleh pada ayahnya, mata pria itu menatap ayahnya seakan tak percaya mendengar apa yang dikatakan padanya. Seolah-olah dia merasakan mimpi yang begitu indah.
"Hah?"
Melihat anaknya yang seakan tak percaya, Nolan menggeleng pelan, lalu mengulang perkataannya tadi, "Perjuangkan Sava. Ayah mau kamu bahagia."
KAMU SEDANG MEMBACA
Choice (END)
RomanceSial bagi Sava Orlin setelah melihat lembar penetapan pembimbing skripsinya. Di sana tertulis nama sang mantan calon suaminya, membuat gadis itu akan kembali berurusan dengan Afkari, bukan karena mengurus pernikahan, tapi mengurus tugas akhirnya. Sa...
