Karena takut Afkari memarahinya, Sava tak bertemu dengan dosen pembimbingnya itu, bahkan Sava kemarin memilih pulang untuk menghindari Afkari.
Gadis itu sudah membuka blokiran nomor Afkari semalam dan dia langsung mendapatkan banyak pesan dari Afkari yang menurutnya segera bertemu di ruang gue, tetapi Sava tak memedulikan dan memilih untuk menonaktifkan ponselnya.
Sayangnya , hari ini pun Afkari juga masih menghubunginya, meminta dia untuk bertemu. Sava jelas saja semakin ketakutan, selain takut dimarahi Afkari, Sava juga takut kalau ada yang mendengar dan melaporkan pada unit pemeriksaan plagiat di fakultas Hukum. Sava tak mau masalah ini diproses.
Pak Afkari
Kalau kamu gak datang hari ini, proposal kamu saya laporkan ke unit pemeriksaan
Jelas saja ancaman Afkari berefek besar pada Sava, gadis itu semakin ketakutan, bahkan kini gelisah seraya menggigit kecil bibir bawahnya.
Pak Afkari
Pesan saya jangan cuma dibaca, cepat ke ruangan saya
Bagaimana ini? Sava terus menatap layar ponselnya, kekhawatiran tercetak jelas di wajahnya. Bagaimana kalau dia meminta untuk bertemu di luar saja? Apa Afkari mau? Kalau bertemu di kampus, gadis itu tak berani, dia tak mau ada yang mendengar kalau dia melakukan plagiat dan berujung dilaporkan pada unit pemeriksaan plagiat.
"Kira-kira negosiasi sama pak Afkari, diterima gak, yah?" gumam Sava.
Gadis itu menarik napasnya panjang, menghembuskan perlahan, lalu tangannya bergerak mengetik pesan balasan pada Afkari yang berisi dengan negosiasi.
Sava
Pak, kita ketemu di luar aja? Saya takut ada yang tahu terus lapor ke unit pemeriksaan 🙏
Pesan terkirim, Afkari langsung membacanya, dan Sava berharap cemas saat Afkari mulai mengetik tapi gak lama pesan dari Afkari kembali masuk.
Pak Afkari
Salah kamu sendiri, kenapa kamu nekat plagiat padahal kamu sudah tahu resikonya. Saya tunggu kamu di taman dekat rumah saya. Kita ketemu di sana.
Gadis itu bernapas lega kala membaca pesan Afkari, sekali pun dia sedikit diomeli, tapi tak masalah asalkan mereka bisa bertemu di luar daripada di kampus. Tanpa pikir panjang, Sava langsung bersiap-siap, dia juga tak lupa membawa buku catatan beserta pulpennya, barangkali nanti ada hal penting yang Afkari berikan.
***
Kala Sava sudah sampai di taman yang Afkari maksud, dia langsung menghampiri dosen pembimbingnya itu yang tengah menikmati sup buah di dekat penjual kaki lima tepat di bawah pohon mangga.
Sava lihat, di paha pria itu, ada map juga yang penuh dengan kertas-kertas. Ini Sava yakin, dia pasti kenal marah oleh dosen pembimbingnya itu.
"Pak," sapa Sava seraya tersenyum kikuk.
Sayangnya, Afkari hanya menatap Sava datar kemudian lanjut menghabiskan sup buahnya yang tinggal sedikit itu.
"Saya melakukan ini demi kamu, tapi kamu terlihat bodo amat sama masalah ini," ungkap Afkari.
Pria itu memang melakukan ini demi Sava, dia tak mau Sava diproses oleh unit pemeriksaan plagiat. Ini Afkari lakukan sebagai bentuk melindungi mahasiswa bimbingannya, bukan karena dia mencintai Sava.
"Bukan gitu, Pak, saya takut nanti ada yang dengar," jelas Sava mengutarakan ketakutannya. Siapa yang tidak takut? Hanya mendengar perihal unit pemeriksaan plagiat saja Sava sudah takut, terus Afkari minta bertemu di ruang dosen yang hanya dibatasi oleh sekat tripleks yang tingginya hanya sebatas dada Sava.
"Itu resiko yang kamu dapatkan, salah kamu sendiri, kenapa kamu nekat plagiat padahal kamu tahu itu gak boleh. Kamu jurusan Hukum, ditambah lagi lembaga kamu berpusat pada literasi. Kamu tahu kalau plagiat itu gak boleh, 'kan? Terus kenapa kamu nekat?" ucap Afkari.
KAMU SEDANG MEMBACA
Choice (END)
RomanceSial bagi Sava Orlin setelah melihat lembar penetapan pembimbing skripsinya. Di sana tertulis nama sang mantan calon suaminya, membuat gadis itu akan kembali berurusan dengan Afkari, bukan karena mengurus pernikahan, tapi mengurus tugas akhirnya. Sa...
