Rafika baru berniat menutup pintu rumahnya setelah tadi membuang sampah di tempat sampah depan rumah, dia melihat mobil sedan berwarna putih berhenti tepat di depan gerbang rumahnya.
Kening Rafika mengernyit heran. Pasalnya, sangat jarang dia melihat mobil sedan berhenti di depan rumahnya. Pemilik mobil di dalam juga tak mungkin datang bertamu di rumahnya. Rafika pun kembali melangkah untuk masuk, tetapi suara yang sudah sangat lama tak dia dengar memanggil.
"Bu Rafika."
Tubuh Rafika menegang, dia menoleh, mendapati Nolan serta Bella di sana. Seingat Rafika, dia dan suaminya sudah menyuruh Sava untuk menjauhi Afkari, Sava tak mungkin kembali mendekati Afkari.
Apa kedua orang tua Afkari datang untuk menyuruh Sava menjauhi Afkari?
Mengetahui fakta kalau ibu Afkari tak menyukai Sava serta ayah Afkari yang menyuruh Sava untuk membatalkan pernikahan Sava dan Afkari, membuat Rafika takut apabila orang tua Afkari mendatangi rumah mereka dan menyuruh mereka untuk meminta Sava menjauhi Afkari. Ternyata hari itu tiba juga.
Rafika sebenarnya tak mau menyahut dan ingin masuk ke rumah segera mungkin, tetapi mendengar teriakan Bella lagi dan permohonan Bella untuk berbicara, membuat Rafika mau tak mau menyahut dan menghampiri keduanya.
"Bu Bella? Ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanya Rafika mencoba untuk berbasa-basi, dia juga tersenyum paksa pada orang tua Afkari. Hal itu membuat Bella sadar akan senyum paksa dari Rafika.
"Saya sama suami saya mau bicara dengan Bu Rafika dan pak Andre, boleh?" tanya Bella.
Keduanya sengaja datang hari Minggu, mengingat pasti di dalam ada Andre juga, dan mungkin juga ada Sava.
"Eh, mau bicara apa, Bu?"
"Semuanya, Bu. Saya mohon."
Mamanya Sava itu tentu terkejut mendengar permohonan Bella, selama dia mengenal Bella, dia sama sekali tak pernah mendengar Bella memohon seperti ini. Hal itu jelas membuat Rafika gelagapan, tak tahu harus menanggapi seperti apa.
Namun, melihat tatapan memohon dari Bella, membuat Rafika tak tega. Alhasil, wanita paruh baya itu mengajak kedua orang tua Afkari masuk ke rumahnya.
Setelah mereka masuk, Rafika pamit untuk memanggil suaminya di halaman belakang. Sementara Bella dan Nolan diam saja dan duduk di ruang tamu sembari menunggu.
Tak sampai sepuluh menit, Andre dan Rafika tiba. Rafika sudah keluar dengan membawa empat gelas teh hangat, sedangkan Andre membawa setoples kue kering sebagai camilan kedua orang itu.
"Jadi, ada perlu apa Anda datang di rumah saya?" tanya Andre. Dia harus memasang tembok setinggi mungkin agar dua orang itu tak merendahkan mereka nantinya. Andre cukup was-was karena dulu mereka pernah merendahkan Sava dari cerita Sava.
Tiba-tiba saja, Bella berpindah posisi dan berlutut di depan kaki Adnre, jelas membuat Rafika melebarkan matanya tak percaya. Nolan yang melihat itu, ikut berlutut juga, dia menunduk dalam karena benar-benar merasa bersalah pada keluarga ini.
"Maafkan kami," ucap Nolan seketika tanpa diduga.
"Kami minta maaf karena sudah menyakiti Sava dan mungkin juga menyakiti kalian," lanjut Nolan.
"Anda baru sadar?" tanya Andre sarkas.
Kenapa dua orang yang sudah membuat anaknya menderita baru sadar sekarang? Kenapa baru sadar saat Sava sudah membaik? Andre jelas marah melihat mereka, tak suka melihat kedua orang ini.
"Anak saya sakit hati karena perbuatan kalian. Saya tahu, kami gak sebanding dengan kalian, tapi kenapa kalian malah menghina anak saya? Kalian berdua memiliki anak, pasti tahu rasanya saat melihat anak yang dirawat penuh kasih sayang menangis dalam diamnya, menyembunyikan banyak luka di hidupnya," tutur Andre tajam.
Nolan yang mendengar itu tahu, mengangguk pelan. Dia tahu rasanya saat melihat anak sendiri menderita, apalagi menderita itu karena dirinya. Dia juga merasa sakit hati yang dirasakan anaknya. Lantas, kenapa dulu dia bodoh sekali? Nolan tak pernah berhenti memaki dirinya sendiri semenjak dia sadar kalau dia telah menyakiti hati Afkari.
"Saya tahu dan saya juga merasakan saat ini," balas Nolan.
"Kalau begitu, anggap ini sebagai karma buat kalian. Gak perlu minta maaf, kita impas," kata Andre membuat Rafika menyenggol lengannya.
"Mas, gak boleh kayak gini," tegur Rafika. Jujur saja, saat melihat bagaimana dua orang di depan mereka berlutut, membuat Rafika menyadari kesungguhan hati keduanya untuk meminta maaf.
Baru selesai Rafika menegur suaminya, Bella kini berucap, "Saya juga minta maaf, benar-benar minta maaf atas apa yang sudah diperbuat suami saya. Serta saya meminta maaf karena dulu secara terang-terangan menunjukkan kalau saya gak suka sama Sava."
Mendengar itu, Rafika malah semakin tak enak hati, dia meringis pelan. Tak sepantasnya orang tua Afkari berlutut di depan mereka. Mereka bukan siapa-siapa. Rafika bangkit dari duduknya, menghampiri Bella kemudian membantu Bella untuk bangkit dari tempatnya.
"Bu, jangan bersujud seperti ini. Gak enak," tegur Rafika pelan membuat Bella mendongak menatap Rafika, mata Bella yang berkaca-kaca membuat Rafika tersenyum kecil.
"Kami juga udah mulai lupa sama semuanya, Sava juga udah cukup bahagia," lanjut Rafika sementara Andre hanya diam saja, tak ingin lagi mengeluarkan suaranya. "Pak Nolan, berdiri. Gak baik seorang hamba berlutut di depan hamba yang lain. Kami sudah memaafkan semuanya. Dendam pun juga gak ada artinya."
Terbuat dari apa hati mamanya Sava ini, kenapa sangat baik mau memaafkan mereka? Bella menyesal karena dulu tak menyukai Sava bersama anaknya, kini Bella ingin Afkari dan Sava bisa kembali bersama lagi.
Bolehkah dia berharap seperti itu?
"Apa kalian bisa memberikan kesempatan pada Afkari? Anak saya sangat mencintai Sava," kata Bella tiba-tiba, membuat Andre yang ada di belakang Rafika mengepalkan tangannya erat.
Karena sudah kesal mendengar pertanyaan Bella yang tak tahu diri itu, Andre memukul meja yang terbuat dari kayu itu, hingga teh yang tadi diletakkan di meja tumpah, dan toples yang berisi kue kering terjatuh serta pecah.
"Apa kalian pikir bisa semudah itu mengizinkan Sava kembali bersama Afkari?"
"Mas," tegur Rafika. Dia terkejut saat melihat bagaimana suaminya marah yang sangat jarang dia lihat. Bersyukur kedua anaknya hari ini pergi jalan-jalan, sehingga tak melihat kemarahan papa mereka.
"Kami gak bisa kasih kesempatan kedua buat orang yang udah buat anak kami menderita. Secara gak sadar, Afkari sebenarnya juga menyakiti anak kami. Dia sama sekali gak bela Sava saat orang tuanya gak suka sama Sava," lanjut Andre.
"Mas, kok gitu," tegur Rafika tak suka mendengarnya, kemudian tersenyum pada Bella, memohon untuk dimaklumi.
"Untuk kesempatan kedua, kami gak bisa jawab, itu hak Sava untuk menjawabnya. Kami membiarkan Sava untuk memilih jalan hidupnya sendiri," kata Rafika menenangkan dua orang yang terlihat terkejut saat melihat bagaimana suaminya marah.
Rafika sama sekali tak mempermasalahkan Sava kembali bersama Afkari, tapi semua keputusan berada di tangan Sava, biarkan Sava memilih.
"Rafika."
"Ini hidup Sava, Mas. Biarkan Sava memilih. Aku juga tahu, dia masih belum sepenuhnya lupa dengan Afkari. Ego kamu jangan terlalu dijunjung," pungkas Rafika kemudian menuntut Bella duduk. Dia perlu menenangkan Bella yang terlihat shock.
***
Uwaaah bagus Andre, jangan biarin mereka merendahkan keluargamu🤣
Sekarang balas dendam, yah, waktunya keluar Afkari yang menderita 😚
Jangan lupa tinggalkan jejak dan spam next nya
Bye bye
KAMU SEDANG MEMBACA
Choice (END)
RomantikSial bagi Sava Orlin setelah melihat lembar penetapan pembimbing skripsinya. Di sana tertulis nama sang mantan calon suaminya, membuat gadis itu akan kembali berurusan dengan Afkari, bukan karena mengurus pernikahan, tapi mengurus tugas akhirnya. Sa...
