Dua Puluh Lima

31.8K 978 12
                                        

Afkari menghela napasnya kala dia membaca proposal skripsi Sava beserta referensi yang Sava gunakan dalam menyusun proposal skripsinya. Berkali-kali pria itu membaca, melihat kesamaan pada proposal skripsi Sava dan referensi Sava.

Setelah yakin bahwa dia telah membaca dengan teliti, Afkari menyadari satu hal, Sava memplagiat jurnal yang dijadikan sebagai referensi. Mungkin saja dia tak masalah kalau Sava mengambil beberapa kalimat di jurnal itu tetapi dengan syarat mencantumkan sumber serta memberikan kesimpulan dengan kalimat yang diambil. Namun sayangnya, Sava sama sekali tak mencantumkan sumbernya, bahkan semua tanda bacanya pun sama. Padahal Sava bisa menggunakan kutipan langsung, di mana kutipan langsung menuliskan kembali pikiran, pendapat, ide, atau gagasan orang lain yang sama persis dengan aslinya.

Afkari tak menyangka kalau Sava bisa senekat ini, padahal mereka yang jurusan hukum pasti tahu apa yang akan terjadi apabila ketahuan memplagiat penelitian orang lain. Salah satunya mereka akan diproses oleh unit pemeriksaan plagiat di fakultas Hukum. Di kampus mereka, ada yang disebut sebagai unit pemeriksaan plagiat, alasan dibentuknya unit tersebut agar mahasiswa sadar bahwa plagiat merupakan perilaku tak baik.

Sebelum semuanya terlambat, Afkari ada baiknya menyuruh Sava bertemu dengannya dan menyuruh Sava untuk memperbaiki proposal skripsinya. Pria itu mengirimkan Sava pesan, dia harus memberitahu Sava.

Afkari
Saya habis periksa proposal skripsi kamu. Plagiat yang kamu lakukan benar-benar membuat kamu dalam masalah besar kalau unit pemeriksaan plagiat mengetahui masalah ini. Saya masih berbaik hati sampai tidak melaporkan tindakan kamu ini. Temuin saya besok di ruang dosen

Setelah mengirimkan pesan kepada Sava, Afkari menyimpan proposal Sava di meja. Dia menggeleng tak percaya dengan kelakuan Sava. Kenapa harus senekat ini?

"Kenapa, Bang?"

Suara Azka yang bertanya membuat Afkari melirik sepupunya itu sejenak, kemudian kembali menghela napasnya lelah.

"Sava plagiat. Sebelum ketahuan, saya harus pastikan dia perbaiki semuanya," jawab Afkari.

Azka mendengar itu jelas saja terkejut, dia tak percaya kalau Sava senekat itu untuk plagiat. Pasalnya, di lembaga mereka selalu mempelajari perihal plagiat, juga Sava yang merupakan mahasiswa jurusan Hukum.

"Serius?"

Afkari mengangguk, lalu menjawabnya, "Saya gak bohong. Sava memang plagiat penelitian lain. Saya hanya gak mau dia nantinya malah diproses karena masalah plagiatnya ini, makanya saya langsung chat dia tadi. Hampir seluruh proposal skripsinya plagiat, terutamanya bagian teori di sama sekali gak mencantumkan sumbernya."

Afkari begitu mencintai Sava, dia bahkan berusaha melindungi Sava agar tak diproses oleh unit pemeriksaan plagiat di jurusan Sava. Lantas kenapa Sava mau menerima permintaan ayah Afkari?

Azka yakin, setelah mendengar perkataan Nava kemarin, Sava membatalkan pernikahannya dengan Afkari atas permintaan ayah Afkari. Sayangnya, Azka belum tahu apa yang membuat ayah Afkari menyuruh Sava membatalkan pernikahan mereka, maka dari itu Azka masih belum bisa menceritakan pada Afkari.

Bagaimana nanti perasaan Afkari apabila dia mengetahui semuanya? Apa yang akan Afkari lakukan?

"Kamu ngapain ke sini? Ada maunya pasti."

Mendengar itu, Azka teringat akan tujuannya datang ke rumah Afkari. Tujuan pria itu ke rumah Afkari karena ada hal yang ingin dia minta, yang jelas ini bisa membuat dia mendapatkan apa yang Afkari cari.

"Punya nomornya Nava gak, Bang?"

Afkari mendelik tajam, membuat Azka seketika meninju pundak kakak sepupunya.

"Gue masih normal," ujar Azka.

"Saya gak bilang kamu belok, 'kan?"

"Tatapan lo, Sialan, yang ngomong kayak gitu," kata Azka. "Pokoknya gue butuh nomor Nava, penting."

"Kalau gak jelas, saya gak bisa kasih," ucap Afkari.

"Jelas ini demi masa depan Sava. Udah cepetan."

Mendengar kata demi masa depan Sava, Afkari tanpa pikir panjang langsung mengambil ponselnya dan mencari nomor Nava. Bersyukurnya, nomor Nava masih aktif, lewat nomor itu juga Afkari bisa melihat kegiatan Sava di luar, lebih tepatnya lewat status WhatsApp Nava.

"Lo sabar yang sabar, Bang. Bentar lagi semuanya bakal selesai. Tapi gue harap lo bisa menghadapi semuanya," pungkas Azka langsung pergi begitu saja, meninggalkan Afkari yang kini mengernyit heran dan tak tahu apa maksud dari perkataan Azka.

Namun tak ingin ambil pusing, Afkari hanya menggeleng pelan. Azlan malah terlihat sok misterius sejak kemarin.

***

"Mampus gue," gumam Sava membuat Fahri dan Adriana seketika menatapnya heran.

Sava ikut menatap keduanya dengan tatapan meminta pertolongan, tapi sayangnya kedua sahabatnya ini pasti tak bisa menolong karena hanya dia yang bisa menyelesaikan masalah ini.

"Kenapa lo? Orang tuh ke kafe mau senang-senang, bukan malah gelisah kayak gini," kata Fahri membuat Sava meringis kecil.

Niat hati gadis itu ikut menongkrong di kafe yang biasanya dipakai anak-anak remaja berkumpul untuk menenangkan hatinya setelah kemarin menghadapi masalah di lembaga. Dia ingin melupakan masalah yang kemarin, tetapi baru habis masalah yang satu, kini masalah yang lain pun datang.

"Gue kedapatan plagiat," ungkap Sava seraya meringis pelan.

Sementara Fahri dan Adriana melotot tak percaya mendengar pengakuan Sava. Bagaimana bisa Sava yang jurusan hukum plagiat penelitian orang lain? Kalau unit pemeriksaan plagiat tahu, Sava bisa-bisa diproses dan akan dikenakan denda. Masih bagus Sava ketahuan plagiat saat masih menginjak semester akhir, bagaimana kalau ketahuan saat sudah selesai wisuda? Bisa jadi, gelar yang Sava dapat akan dicabut.

"Kok bisa? Gimana ceritanya?" tanya Adriana.

Dia sejujurnya tak percaya kalau Sava melakukan plagiat karena tahu Sava dulu anggota lembaga yang bergerak di bidang literasi. Selain itu, di jurusan mereka terutama saat mata kuliah Metode Penelitian, dosen mata kuliah selalu membahas perihal plagiat yang merupakan tindakan tak baik.

"Heh, Anying, lo sehat, 'kan?" kali ini, Fahri yang bertanya. Jelas saja tak ada yang percaya mengingat jurusan mereka juga lembaga yang sempat Sava ikuti.

"Gimana nih? Besok pak Afkari minta ketemuan" tanya Sava seraya menunjuk pesan Afkari pada kedua sahabatnya. Dia benar-benar takut, apalagi Afkari meminta untuk bertemu besok di ruang dosen. Oh, bagaimana kalau ada yang mendengar?

"Salah lo sendiri itu. Ini gimana ceritanya lo sampai nekat plagiat?" Adriana tak habis pikir, dia menggeleng masih benar-benar tak percaya dengan pengakuan Sava.

"Gue ngikutin saran Cantika, karena gue mau cepat-cepat lulus," jawab Sava.

Memang saat dia menyusun proposal skripsinya, dia mengikuti saran Cantika untuk mengikuti kajian teori di jurnal atau skripsi orang lain tanpa mencantumkan sumbernya agar bisa secepatnya di-ACC. Sava juga percaya kalau Afkari tak akan sadar karena referensinya begitu banyak, tapi ternyata afkari begitu teliti.

"Lah, ngapain lo ngikutin saran menyesatkan kayak gitu. Gue aja yang mau cepat lulus karena udah semester tua banget, gak sampai segitunya. Lo bisa aja langsung diproses," tutur Fahri.

"Maksudnya biar cepat di-ACC," balas Sava membela diri.

"Kalau mau cepat di-ACC, lo harus rajin revisi, rajin bimbingan. Kalau proposal lo lama ACC, sabar aja. Suatu saat juga pasti di-ACC," timpal Adriana. Dia menggeleng serya menghela napasnya.

Seharusnya, Sava dapat bersyukur karena Afkari tak langsung melapor pada unit pemeriksaan plagiat, kalau saja Afkari langsung melapor, maka tamat riwayat Sava.

***

Siapa yang nungguin banget Choice update?

Ingat yah, plagiat itu gak boleh, yang boleh cuma kasih vote sama komen di cerita ini

Bye bye

Choice (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang