Tiga Puluh Sembilan

33.4K 1K 63
                                        

Jantung Sava berdetak kencang saat dia baru saja selesai mematikan sambungan telepon secara sepihak. Telepon dari Bella barusan benar-benar membuat sekujur tubuhnya panas dingin. Apa lagi yang mau ibu Afkari katakan padanya? Sava perasaan sudah menjauhi Afkari, bahkan hubungannya dengan Afkar hanya sekadar mahasiswi bimbingan dan dosen pembimbing. Saat Afkari datang atau bertemu dengannya pun, Sava selalu berusaha menjauhinya.

Belum lama dia mematikan sambungan telepon dari Bella, ponselnya bergetar sejenak, tanda pesan masuk. Sava melihat pada layar lock screen ponselnya, menunjukkan pesan masuk dari nomor yang tadi meneleponnya, yang tak lain adalah nomor Bella.

Bella
Saya tahu kamu pasti tidak sudi untuk bicara dengan saya. Tapi saya mohon, tolong datang ke rumah saya. Afkari sakit dan yang dia butuhkan hanya kamu.

Sava membaca pesan Bella dengan saksama, dia juga mengucek matanya, barangkali apa yang dia baca ini hanyalah mimpi. Namun, sudah berkali-kali dia membaca pesan dari ibunya Afkari, isinya pun tetap sama.

"Siapa yang nelpon lo?" tanya Nava.

Sejak tadi, pria itu menemani kakaknya di ruang tamu seraya menikmati martabak manis yang sempat dibelikan Andre untuk mereka. Dia juga melihat tadi bagaimana kakaknya menerima telepon lalu mematikan telepon secara sepihak.

"Bukan siapa-siapa," sahut Sava. Dia tentunya tak mungkin mengatakan pada Nava bahwa orang yang meneleponnya tadi adalah Bella. Sava sangat tahu seberapa benci adiknya pada keluarga Afkari. Oh, bukan hanya adiknya, tetapi juga kedua orang tuanya.

"Bukan siapa-siapa tapi mukanya kayak ketakutan gitu. Aneh lo," ujar Nava.

Jelas saja pria itu bertanya, dia tadi melihat bagaimana wajah pucat kakaknya saat menerima panggilan telepon yang tak dia ketahui. Nava menyimpulkan kalau penelepon tersebut ada hubungannya dengan Afkari, tetapi dia tak berani langsung menyimpulkan begitu saja apabila tak ada bukti yang jelas.

Sava menghela napasnya panjang. Selain Azka, ternyata adiknya ini juga terlalu banyak ikut campur dalam hubungannya dengan Afkari. Kalau alasan Nava karena tak ingin dia kembali tersakiti, Sava masih memaklumi, tetapi adiknya ini begitu berlebihan. Sava juga sudah baik-baik saja, dia sudah tak terpuruk seperti dulu.

"Gue boleh minta tolong sama lo?"

"Apa? Mau minta tolong gue hajar Afkari? Besok bakal gue hajar dia," kata Nava cepat.

Gadis yang duduk di sampingnya mencibir kelakukan adiknya. Sepertinya rasa benci Nava pada keluarga Afkari sudah begitu mendarah daging.

"Bukan itu," sela Sava sebelum adiknya semakin berbicara.

"Gue cuma minta tolong sama lo, jangan terlalu ikut campur sama urusan gue, deh. Gue bisa selesaikan sendiri," imbuh Sava.

Hal itu sama sekali tak membuat Nava marah, malah adiknya Sava itu tertawa cukup keras mendengar perkataan kakaknya.

"Lo yakin? Lo itu kalau berhadapan sama orang yang berhubungan dengan Afkari, lemah."

Sava menghela napasnya panjang, bukankah perkataan adiknya menandakan kalau dia sama sekali tak mau berhenti untuk ikut campur?

"Cara gue buat lindungin lo mungkin salah, tapi hanya itu yang bisa gue lakuin. Jangan larang gue. Lo nyuruh gue hajar Afkari aja, gue siap," ungkap Nava. Mata pria itu menatap lurus pada layar televisi yang masih menunjukkan FTV, tetapi pikirannya tengah berkelana, berpikir bagaimana caranya membahagiakan kakak tersayangnya.

Nava hanya ingin menghabiskan hidupnya untuk membahagiakan keluarganya, terutama kakaknya yang sering tersakiti.

***

Pesannya dibaca oleh Sava sekitar dua puluh menit yang lalu, Bella berharap Sava mau datang ke rumah mereka untuk menjenguk Afkari. Anaknya sejak tadi terus bergumam nama Sava dalam tidurnya, dia ingin membawa Afkari ke rumah sakit, tetapi Afkari sudah menolak sejak tadi.

Bella pun menuruti keinginan Afkari yang tak ingin ke rumah sakit, tetapi bila sampai pukul sebelas malam demam Afkari masih belum turun juga, maka Bella akan membawa Afkari ke rumah sakit.

Wanita paruh baya itu mengambil sapu tangan yang tadi diletakkan di kening Afkari, kemudian mencelupkan di loyang kecil lalu kembali menaruh di kening Afkari untuk mengompresnya.

Suara dari luar kamar dapat Bella dengar, dia mengernyit heran, kemudian langsung tersadar dengan pemilik suara itu apalagi saat mendengar suara itu hanya di depan kamar Afkari.

Tak ingin anaknya terganggu saat tidur, Bella langsung beranjak dari duduknya untuk keluar menghampiri orang di depan kamar anaknya.

Hal pertama yang menyambut Bella saat pintu kamar terbuka adalah senyum Cantikan. Sementara suaminya Nolan hanya diam saja di belakang Cantika.

"Malam, Tante," sapa Cantika.

Bella tak menjawab, tapi hanya menatap Cantika datar. Semenjak dia mengetahui fakta bahwa Cantika salah satu penyebab anaknya menderita, Bella sudah tak menyukai Cantika.

"Maafin aku, Tante, aku datang malam, soalnya besok ada jadwal dengan dosen pembimbing," kata Cantika memohon maaf.

"Perasaan saya gak minta kamu datang," balas Bella sarkas, hal itu membuat Nolan menggeleng pelan.

"Ratu datang mau jenguk Afkari malam-malam, tapi kamu malah sarkas begitu," tegur Nolan.

Bella mendelik tajam, tak suka mendengar suaminya membela Cantika.

"Kamu itu terlalu bela dia, Mas. Alhasil dia jadi semena-mena, bahkan dia buat anak kita menderita, tapi kamu malah tutup mata, dan masih bela dia," tutur Bella pada Nolan.

Nolan yang mendengar itu, menghela napasnya panjang, salah lagi di mata istrinya. Nolan hanya bermaksud menegur Bella agar bersikap sopan pada tamu, sama sekali tak ada niat untuk membela Cantika. Ah, atau mungkin perkataannya yang terdengar membela Cantika?

"Saya gak maksud bela Ratu, hanya mau menegur kamu. Ratu itu tamu di sini," ucap Nolan mencoba membela diri.

"Iya, tamu. Dia tamu, tapi tamu tak diundang," balas Bella tajam.

"Bella," tegur Nolan lagi dengan pelan. Dia tak mau ada pertengkaran lagi, apalagi di depan Cantika. Pertengkaran mereka kemarin saja, Bella masih jarang menegurnya. Bagaimana kalau seandainya dia dan Bella kembali bertengkar? Bisa saja rumah tangga mereka hancur hanya karena hal seperti ini.

Bella tak peduli, dia menatap tajam Cantika yang hanya diam melihat dua paruh baya itu berdebat.

"Ada baiknya kamu pulang, ini udah malam juga. Kami lagi gak butuh tamu," usir Bella.

Mata Cantika melebar tak percaya mendengar usiran dari Bella. Pasalnya, ini pertama kali Cantika mendengar Bella mengusirnya. Hell, semuanya telah berubah.

"Tante, aku cuma mau lihat kak Afka," ujar Cantika membuat Bella menggeleng.

"Gak perlu. Ada atau gak adanya kamu, Afkari tetap demam."

"Tante, biar hanya lima menit," pinta Cantika, berharap Bella mengizinkan dia melihat Afkari yang tengah sakit.

Lagi, Bella menggeleng, menolak permintaan egois dari Cantika. Lalu wanita paruh baya itu berkata, "Oh, gak perlu, yang dibutuhkan anakku bukan kamu, tapi Sava. Lebih baik kamu pulang. Saya tidak mau anak saya kembali menderita."

Padahal yang Bella harapkan datang tadi itu Sava, karena anaknya membutuhkan Sava, tetapi yang datang malah Cantika. Bella yakin, suaminya itu pasti yang memberitahu pada Cantika. Namun, Bella memaklumi, Sava pasti tak mau datang karena dia dan suaminya.

***

Halooooo

Lama yah updatenya.

Siapa yang suka sama karakter Bella setelah tahu semuanya? Cung acungin jempol kalian buat Bella.

Pokoknya aku suka sama perubahan sikap Bella saat tahu semuanya, dia jadi sarkas banget sama suami dan Cantika😂😏

Ketawa jahat buat Cantika boleh gak yah?

Bakal update cepat kalau vote 50 + komen 50

Jangan lupa tinggalkan jejak yah

Bye bye

Choice (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang