Wajah cemberut Sava membuat Afkari menggeleng pelan. Sejak awal dia mengawasi Sava memperbaiki proposal skripsi gadis itu hingga selesai bab pertama, wajah Sava selalu cemberut, mungkin karena dia yang banyak komentar. Namun, Afkari melakukan itu agar proposal skripsi Sava tak ada kesalahan.
"Suka banget, sih, Pak, nyiksa saya," ucap Sava seraya merapikan buku-buku referensinya dengan wajah cemberut.
"Biar cepat ACC, kamu sudah hampir tiga bulan bimbingan dengan saya," balas Afkari.
Sava mencibir, dia juga lama bimbingan karena pria itu sendiri yang membuat dia lama. Kemarin kalau seandainya dia tak tergoda dengan saran Cantika untuk memasukkan beberapa kalimat dari referensinya tanpa mencantumkan sumber, pasti sudah di-ACC.
"Salah kamu sendiri kemarin malah plagiat," lanjut Afkari membuat Sava melebarkan matanya, tanda agar Afkari tak membahas perihal plagiat itu.
Sayangnya, Afkari tak peduli dan hanya mengangkat bahunya tanda acuh, bahkan pria itu kembali membaca buku yang tadi sempat dibaca saat mengawasi Sava revisi. Melihat itu, Sava rasanya ingin sekali menghajar Afkari, dia juga ingin sekali mencakar wajah Afkari yang begitu menyebalkan.
Tak ingin berlama-lama melihat wajah menyebalkan Afkari, Sava memilih pamit undur diri, dia harus secepatnya menjauh dari Afkari sebelum dia kelepasan mencakar wajah dosen pembimbingnya itu. Hell, Sava tak menyangka kalau dulu di pernah memiliki perasaan pada Afkari.
Kala Sava baru melangkah keluar dari ruang dosen, Afkari juga berdiri dan mengikuti Sava. Pria itu berjalan di belakang Sava, bagai anak ayam yang mengikuti induknya. Ketika tersisa beberapa langkah lagi Sava akan keluar dari ruang dosen, Afkari mempercepat langkahnya hingga bisa sejajar dengan Sava.
Gadis itu menoleh pada Afkari, menatap Afkari dengan kening mengernyit heran. Sava tadi memang merasakan orang yang berjalan di belakangnya, tetapi dia tak menyangka kalau itu adalah Afkari.
"Ayo!" ajak Afkari tiba-tiba, membuat Sava semakin keheranan pada dosen pembimbingnya itu.
Sadar kalau pujaan hatinya itu heran karena dia yang tiba-tiba mengajak, Afkari langsung berkata, "Kita makan dulu, baru saya anterin kamu pulang."
"Ini udah sore, Pak."
"Siapa bilang ini masih pagi? Saya tahu kamu gak bawa motor, Nava juga gak bisa jemput kamu tepat waktu, 'kan?"
Tadi, saat dia mengawasi Sava revisi, Afkari sempat melihat ponsel Sava, dia juga sempat melihat kalau Sava bertukar pesan pada Nava yang katanya akan lambat menjemput gadis itu.
"Maksud saya, ini udah sore, Pak Afkari gak mau istirahat dulu. Emangnya Pak Afkari gak ada kelas malam?"
Mendengar pertanyaan Sava, pria itu tersenyum kecil, dia kemudian menggigit kecil bibir bawahnya.
"Gak ada. Kenapa mau ngajak saya dinner?"
"Apaan? Ke-PD-an banget, Pak. Kayak gak ada kerjaan lain aja ngajak Pak Afkari dinner," ujar Sava malah membuat Afkari tertawa pelan.
"Siapa tahu aja kamu mau tolak ajakan saya makan sore ini, karena mau ngajakin saya dinner."
Sekalipun perkataannya terdengar seperti candaan, sejujurnya Afkari sangat ingin seperti dulu lagi, keluar malam bersama Sava hingga dinner bersama di restoran favorit mereka.
"Barangkali kamu kangen sama kita yang dulu," imbuh Afkari.
"Gak sama sekali. Udah, saya mau pulang."
"Kita makan dulu, perut kamu dari tadi bunyi," kata Afkari. Memang pria itu sejak tadi mendengar perut Sava yang berbunyi. Kebiasaan Sava memang sering menahan lapar, apalagi kalau pekerjaannya banyak, maka Sava tak akan peduli kalau dia lapar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Choice (END)
Storie d'amoreSial bagi Sava Orlin setelah melihat lembar penetapan pembimbing skripsinya. Di sana tertulis nama sang mantan calon suaminya, membuat gadis itu akan kembali berurusan dengan Afkari, bukan karena mengurus pernikahan, tapi mengurus tugas akhirnya. Sa...
