Hari pernikahan Hiro tiba, Sava sejak tadi bertepuk tangan kecil melihat Hiro dan istrinya duduk di pelaminan. Di samping gadis itu ada Azka yang tengah sibuk menyantap puding coklat dengan vla vanila, Azka bersyukur diajak Sava, dia bisa makan enak di pesta pernikahan Hiro.
"Kak, sering-sering deh lo ajakin gue ke kondangan, makanannya enak," ucap Azka.
Sava mendelik tajam, dia mencibir pria di sampingnya itu. Kemarin-kemarin berkeras menolak ajakannya, bahkan sampai Saga membujuk hingga mengeluarkan jurus jitu agar Azka mau menerima. Tapi kini pria itu ingin diajak lagi oleh Sava apabila ada pernikahan teman Sava.
"Kok gue seketika nyesel, ya, karena udah ajakin lo," ungkap Sava membuat Azka ikut mendelik padanya.
Azka berdeham, dia lalu menatap pada pelaminan, di mana para undangan tengah bersalaman dengan raja dan ratu hari ini untuk mengucapkan salam. Kemudian tatapan pria itu berpindah pada Sava yang masih setia menatap pelaminan di depan sana.
"Lo gak mau ucapin selamat sama bang Hiro?" tanya Azka pelan. Sejak tadi para undangan dipersilakan menaiki pelaminan untuk bersalaman dengan pengantin, Sava hanya diam duduk sejak tadi.
Bukannya menjawab pertanyaan Azka, Sava bangkit dari duduknya, kemudian menarik tangan Azka menuju pelaminan di depan sana. Azka jelas terkejut, bahkan membuatnya hampir saja jatuh kalau saja dia tak secepatnya menyeimbangkan tubuhnya. Piring kecil yang tadi dia gunakan untuk memakan puding masih di tangannya.
"Kak, piringnya masih di tangan gue," kata Azka kemudian berhenti tepat di samping meja tempat prasmanan.
Namun baru saja Azka menyimpan piring tersebut, Sava kembali menariknya, sehingga mau tak mau Azka langsung mengikuti langkah Sava yang cukup cepat itu walaupun Sava memakai sepatu berhak.
Keduanya mengantri hingga tiba giliran mereka setelah menunggu sekitar lima menit.
"Mas Hiro, selamat ya," ucap Sava dengan senyum manis seraya bersalaman dengan Hiro kemudian pada istri Hiro.
"Makasih, Sava. Saya kira kamu bareng Afka ke nikahan saya, ternyata sama Azka," ujar Hiro.
Sava tersenyum canggung, dia sama sekali tak punya niat untuk mengajak Afkari untuk ke pernikahan Hiro. Niat awalnya yang dia ajak adiknya sendiri, tapi ternyata adiknya menolak dan berujung dengan dia yang mengajak Azka sebagai pilihan kedua.
"Dia 'kan emang gitu, Bang, ngakunya udah move on padahal belum move on," timpal Azka kemudian bersalaman dengan Hiro dan istrinya.
Sava mendelik, lalu membalas, "Gue gak nyuruh lo ikut-ikutan."
"Udah, ayo turun."
Azka mendorong Sava pelan agar turun dari pelaminan, mengingat masih banyak undangan yang mengantri untuk bersalaman dengan Hiro dan istrinya. Namun, baru saja Sava dan Azka turun dari pelaminan, mereka sudah dihadang oleh Afkari yang menatap Azka tajam. Selanjutnya, Afkari menarik tangan Sava, membuat Sava jelas terkejut dan tak mengerti, begitu pula dengan Azka.
Afkari tiba-tiba datang, tiba-tiba mencari tangannya dan keluar dari gedung pernikahan. Bahkan Afkari membawa Sava ke parkiran, ditarik paksa untuk mengikuti pria itu tetapi dengan lembut..
"Pemaksaan ini namanya, Pak. Saya kenapa tiba-tiba ditarik?" tanya Sava sebagai bentuk protesnya.
"Masuk dulu," kata Afkari membuat Sava berdecak kesal. Walau begitu, Sava tetap masuk.
"Saya lapar, temani saya makan," lanjut pria itu setelah dia memasuki mobilnya.
Mata Sava melotot mendengar perkataan Afkari. Bagaimana bisa dosen pembimbingnya itu lapar sementara di dalam ada banyak makanan enak? Sava menggeleng tak percaya.
"Di dalam banyak makanan, mending Bapak makan di sana. Ngapain tiba-tiba tarik saya terus minta ditemenin makan?"
Afkari tak peduli, dia tetap menjalankan mobilnya keluar dari area parkiran, membawa Sava untuk menemaninya makan. Hal itu jelas membuat Sava kesal.
"Ini pemaksaan namanya, penculikan!" pekik Sava membuat Afkari hanya terkekeh geli.
Pria itu menghentikan mobilnya kala traffic light berubah warna dari kuning menjadi merah, kemudian menoleh menatap Sava dengan tatapan memuja. Senyum Afkari mengembang, bagai adonan kue yang diberi pengembang.
"Kamu lupa, dulu saya pernah culik kamu diam-diam di rumah kamu?" tanya Afkari.
Sava tentu tak melupakan hal memalukan seperti itu dulu, saat dia dan Afkari masih awal-awal menjalin hubungan, Afkari sering mengajaknya diam-diam keluar tanpa sepengetahuan orang rumah dan berujung keduanya bertemu kedua orang tua Sava di tempat mereka jalan-jalan. Alhasil, hubungan mereka terbongkar dengan kedua orang tua Sava.
"Gak elit banget bahas masa lalu," protes Sava berdecak kesal.
Entah kenapa, membahas masa lalu merupakan hal sensitif bagi Sava. Telinganya panas mendengar, apalagi kalau Afkari kembali membahas perihal alasannya membatalkan pernikahan mereka. Sayangnya, Afkari tak marah, nyatanya dia memang sering membahas masa lalu apabila bersama Sava. Pria itu hanya terkekeh geli, lalu menjalankan mobilnya kala traffic light berubah warna.
"Daripada paksa kamu jawab jujur, mending bahas masa lalu, 'kan?"
Sava mendengkus, dia memilih untuk diam daripada harus membalas setiap perkataan Afkari. Diam memang adalah pilihan terbaik, apabila Sava membalas, yang ada Afkari malah semakin kelewatan.
Tanpa Sava sadari, mobil Afkari berhenti tepat di parkiran warung makan sambal bakar. Sava menatap warung itu cukup lama, kemudian berganti menatap Afkari yang tengah membuka seat belt.
"Ngapain kita ke sini?" tanya Sava dengan nada ketus.
Afkari menoleh, dia mengerling jail pada Sava yang masih fokus menatap warung makan di depan mereka. Pria itu berdeham pelan, lalu tertawa kecil.
"Kenapa? Nostalgia?" ejek Afkari.
Warung makan di depan mereka merupakan warung makan favorit mereka dulu dan menu favorit mereka yaitu bebek sambal bakar. Sava yang pertama kali mengajak Afkari ke warung ini, karena itu warung ini menjadi tempat favorit mereka dulu.
"Ya kali, ngapain saya nostalgia? Saya juga udah move on."
"Saya gak nanya," balas Afkar malah membuat Sava kembali mendengkus.
Lantaran kesal pada Afkari, Sava keluar lebih dulu, dengan sedikit membanting pintu mobil Afkari. Hal itu jelas membuat Afkar terkekeh geli melihat wajah kesal Sava, sesuatu yang paling menggemaskan dan baru dia lihat lagi setelah sekian lama. Pria itu ikut turun dari mobil, lalu mengajak Sava masuk ke warung tersebut.
"Saya perhatikan, di sana kamu gak makan, tadi cuma makan puding aja," ujar Afkari.
"Makan puding juga disebut makan, 'kan?"
Afkari mengangkat sebelah alisnya. Menurut pria itu, makan puding hanya sekadar untuk mencuci mulut saja. Apa makan puding bisa membuat kenyang?
"Ayo, saya traktir," ajak Afkari.
Sava mau tak mau mengikuti Afkari. Keduanya mengambil tempat duduk tepat di depan kasir. Afkari sengaja, dia niatnya kemari memang hanya mau mengisi perutnya. Di pesta pernikahan Hiro tadi, Afkari tak sempat makan karena banyak pengganggu. Selain itu, menjadi groomsman cukup membuat lelah.
Sava menopang dagunya, menatap Afkari. Kali ini, gadis itu yang mengangkat sebelah alisnya. Afkar yang melihat ikut mengangkat sebelah alisnya, keningnya mengernyit tanda kalau dia tak mengerti dengan Sava.
"Kenapa?" tanya Afkari lembut.
"Kemarin perasaan moodnya jelek banget, hari ini kelihatan baik," ujar Sava.
Afkari tertawa, lalu berkata, "Soalnya udah lihat muka kamu lagi."
Sial, pipi Sava malah terasa panas karena malu. Gadis itu sadar kalau pipinya tengah memerah. Kenapa dia masih malu saat mendengar gombalan Afkari?
***
Pak Afkari diam-diam menghanyutkan 🥴
Yahooo
Niatnya tadi mau update siang, tapi ada banyak kerjaan.
Jangan lupa tinggalkan jejak yah
Bye bye
KAMU SEDANG MEMBACA
Choice (END)
RomanceSial bagi Sava Orlin setelah melihat lembar penetapan pembimbing skripsinya. Di sana tertulis nama sang mantan calon suaminya, membuat gadis itu akan kembali berurusan dengan Afkari, bukan karena mengurus pernikahan, tapi mengurus tugas akhirnya. Sa...
