Dua Puluh Tiga

30K 934 11
                                        

Azka
Lo harus cari kak Sava, dia lagi sedih. Tadi di sekretariat LPM sedikit ada masalah.

Afkari mengernyit heran membaca pesan dari Azka. Walau begitu, Afkari akan melakukan seperti apa yang dibilang Azka lewat pesannya. Pria itu menutup buku yang baru saja dibaca beberapa menit, kemudian langsung keluar dari ruang dosen untuk mencari Sava.

Masalah apa yang terjadi di lembaga Sava sampai Azka mengatakan kalau Sava tengah sedih? Kedua tangan pria itu dimasukkan ke saku celana bahannya, dia berjalan santai mencarinya keberadaan Sava. Sesekali Afkari akan celingak-celinguk, barangkali dia melihat Sava.

Benar saja, di belakang gedung rektorat tepat di bawah pohon mangga, Sava tengah duduk seorang diri. Dari tempatnya berdiri, Afkari dapat melihat bagaimana Sava yang hanya diam tanpa terganggu dengan orang-orang yang lewat. Sepertinya memang sedang ada masalah.

Afkari menghela napasnya, Sava kalau sedang ada masalah memilih menyendiri dan menyembunyikan semuanya. Hal itu membuat Afkari kadang tak mengerti dengan Sava.

Pria itu menghampiri Sava dan kala dia sampai di samping Sava, Sava sama sekali tak menyadari keberadaannya. Masalah apa sebenarnya yang terjadi sampai Sava seperti ini?

"Sava," panggil Afkari seketika membuat Sava tersadar dari lamunannya dan menoleh pada Afkari.

Gadis itu mengerjap beberapa kali, kemudian merapikan duduknya. Sava bertanya, "Kenapa, Pak? Proposal saya udah selesai diperiksa?"

Afkari menggeleng cepat, lalu duduk di samping Sava tanpa dipersilakan. Sava pun tak protes, dia malah kembali melamun, membuat Afkari menghela napasnya.

"Kamu kalau ada masalah memang lebih sering disembunyikan daripada diceritakan. Mungkin saya gak bisa bantu, tapi kamu bisa cerita sama saya biar kamu bisa tenang," tutur Afkari.

Sava tertawa kecil, dia kembali teringat kejadian tadi, di mana hampir semua anggota lembaga tak suka padanya. Apa dia tipe orang yang mudah dibenci?

"Saya tahu pasti Azka yang bilang, 'kan?" tebak Sava membawa Afkari menggaruk tengkuknya.

Melihat kedatangan Afkari tiba-tiba dan membahas perihal Sava yang menyembunyikan masalah, Sava yakin kalau Azka turut andil mengatakan pada Afkari perihal masalah di lembaga. Gadis itu tahu kalau Azka sering kali memberikan informasi tentangnya pada Afkari, Sava pernah tak sengaja membaca pesan Azka dan Afkari yang kebetulan WhatsApp Azka tersambung di laptopnya.

"Hanya masalah di UKM aja, bukan malas besar," kata Sava seraya menatap Afkari.

"Tapi kamu kelihatan sedih, serius masalahnya bukan masalah sepele?" tanya Afkari dijawab dengan anggukan kepala dari Sava.

Afkari menggeleng tak percaya, mana mungkin masalah sepele Sava melamun berkali-kali. Pria itu yakin ini bukan masalah yang sepele.

"Kamu terlalu sering memendamnya sampai kamu gak sadar kalau itu buat kamu tersakiti," ujar Afkari.

Sava hanya diam, tak mau membalas perkataan Afkari. Nyatanya dia memang sering memendam masalahnya sendiri, sampai tak ada yang sadar kalau dia tengah memiliki masalah.

"Seperti saat kamu membatalkan pernikahan kita. Saya yakin ada sesuatu yang kamu sembunyikan dan kamu gak bisa cerita sama saya," imbuh Afkari.

Seketika Sava langsung menoleh dan menatap Afkari heran.

"Kenapa larinya ke sana, Pak?"

"Kasusnya hampir sama, 'kan? Kamu memilih menyembunyikan daripada bercerita."

Kali ini yang menghela napasnya adalah Sava, dia sudah berkali-kali mencoba meyakinkan Afkari, tetapi ternyata pria itu masih saja tak percaya.

"Pak, alasan saya memilih untuk batalkan pernikahan kita itu hany satu, saya mau fokus kuliah dan berkarir setelah kuliah. Saya rasa, saya gak mampu harus mengurus suami sambil kuliah ataupun bekerja nantinya."

"Saya bisa ngurus diri sendiri, saya bukan anak kecil," ucap Afkari.

"Kalau Pak Afkari kemarin cuma mau buat bahas masalah itu, lebih baik Pak Afkari pergi dari sini. Saya sedang gak mau diganggu," usir Sava.

"Sava, saya—"

"Pak Afkari, gak semua masalah bisa diceritakan. Mungkin bagi Pak Afkari menceritakan masalah dapat mengurangi beban di pundak, tapi tidak dengan saya. Saya memang kadang menceritakan sedikit masalah dengan teman-teman saya, tapi saya gak sampai menceritakan semuanya," ungkap Sava memotong perkataan Afkari lantara sudah begitu kesal.

Bagi Sava, tak selamanya masalah harus diceritakan pada siapa pun. Sava tahu mana yang perlu diceritakan dan mana yang tidak perlu. Masalah di lembaga mereka, cukup lembaga saja yang tahu dan orang di luar sana tak perlu tahu, apabila ada tahu, maka nama lembaga mereka tercoreng.

"Maaf, saya gak bermaksud untuk memaksa kamu bercerita," kata Afkari penuh penyesalan. Dia hanya mau Sava menjadikan dirinya sebagai tempat berkeluh kesah.

"Saya permisi, Pak," pamit Sava dan langsung bangkit dari duduknya.

Sayangnya, baru juga Sava melangkah sekitar lima meter dari tempatnya tadi duduk, gadis itu berpapasan dengan ayah Afkari yang kini menatapnya tajam.

Tubuh Sava menegang, setelah sekian lama dia kembali melihat tatapan tajam dari ayah Afkari.

"Ingat kalau Ratu lebih baik dari kamu," bisik Nolan pada Sava. Setelahnya ayah Afkari itu meninggalkan Sava dengan angkuh, bahkan terkesan merendahkan Sava yang kini diam seraya menunduk.

Kenapa masalah selalu menghampiri Sava? Ah, Sava rasanya ingin menenggelamkan diri di Palung Mariana.

***

Sava kira, masalah yang coba dia tutupi tak akan tersebar di kalangan UKM kampus lainnya, tetapi baru juga berlalu beberapa jam, sudah banyak anggota dari lembaga lain yang mengetahui masalah mereka.

Dari mulut satu ke mulut yang lain, sehingga tersebar begitu cepat. Entah siapa yang sudah bercerita, tapi ini benar-benar membuat Sava malu. Beberapa anggota lembaga lain yang mendapatkan berita hoax bertanya pada Sava tentang kebenaran kalau semua anggota lembaganya ingin dia keluar. Namun Sava sama sekali tak menjawab, dia bahkan sampai menghapus aplikasi WhatsApp-nya agar tak ada membaca pesan masuk dari orang-orang yang penasaran.

"Itu beritanya beneran?" tanya Adriana.

Setelah mendengar berita tersebut bahkan sampai tersebar di grup kelas mereka, Adriana tanpa pikir panjang langsung ke kampus dan mencari Sava.

"Gak sepenuhnya benar. Mending lo jangan percaya yang kayak gitu, deh. Ngeri gue lihatnya."

Adriana bukannya merasa iba pada sahabatnya itu, dia malah mencibir Sava. Tangan gadis itu bergerak melempar silikon ponselnya hingga mengenai wajah Sava.

"Makanya jangan ikutan UKM, dari semester satu udah gue ingatkan. Ngeyel sih lo," omel Adriana.

Saat awal-awal masuk kuliah sebagai mahasiswa baru, Adriana sempat mengingatkan Sava untuk tidak mengikuti UKM karena dia pernah dikhianati oleh anggota organisasi saat SMA dulu.

"Ya mau gimana lagi, gue suka ikut UKM," balas Sava.

Ada tiga tipe mahasiswa di perkuliahan bagi Sava yaitu, mahasiswa kuliah-pulang, mahasiswa kuliah-rapat, dan mahasiswa kuliah-nongkrong-pulang. Dia mengikuti UKM karena memang suka dan ingin menambahkan skill, Sava rasa hal tersebut akan dibutuhkan saat dia bekerja nanti, walau berujung dia yang tak mampu menjadi Pemimpin Redaksi dengan baik.

***

Emang tuh kalau ikut ekskul atau UKM gitu, tantangan hanya dua, mampu ikut sampai akhir atau mampu mengatasi masalah.

Jangan lupa tinggalkan jejak yah

Bye bye

Choice (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang