Bab 21

31 1 0
                                        

Beberapa hari setelah malam itu berlalu, Arial dan yang lainnya menjaga ketat Ardan untuk tidak mengendarai sepeda motor terlebih dahulu.

"Ayolahh, gua udah nggak papa ini" untuk kesekian kalinya Ardan mencoba merayu ke tiga temannya.

"Enggak! Pokoknya lu harus nurut atau gua bilang sama Mak motor lu di jual aja" ancam Arka padanya.

"Apa-apaan! Mana bisa begitu!" seru Ardan tak terima.

"Makanya, udah lu anteng aja gua yang boncengin" ujar Arka. "Tapi lu yakin udah bisa masuk nih?" tanya Arka pada Ardan untuk memastikan.

Pasalnya Ardan tidak masuk kampus beberapa hari setelah kejadian itu. Karena cedera kaki nya yang lumayan parah. Tapi hebatnya saat kejadian dia masih bisa mengendarai motornya sampai garis finish.

"Udah, yuk lah. Kangen gua tuh pengen liat cewe-cewe, bosen banget gua di rumah mulu liatnya tembok terus" jawab Ardan sembari menaiki kursi belakang Motor Arka.

"Yee!! Cewe mulu otak lu. Pelajaran tuh pikirin. Lu udah banyak ketinggalan" ujar Arka menasihati.

"Kan ada lu!" kata Ardan tersenyum.

"Sayangnya kita beda jurusan, jadi gua mana bisa bantu" jawab Arka membuat Ardan terdiam.

"Iya juga! Ahh bodo ah. Hayuk lah" ajak Ardan yang mulai lelah dengan kakinya yang menggantung.

"Tongkat lu ni mau di tinggal?" tanya Arka pada Ardan.

"Udah bisa nggak pake itu juga, tinggal aja deh" jawab Ardan. Arka pun naik ke atas motor dan memakai helmnya.

"Pegangan!" seru Arka yang di jawab dengan pelukan oleh Ardan.

"Heh!! Gua suruh Pegangan bukan peluk!" ucap Arka kesal,  bukannya apa-apa Ardan iku Lanang loh. Wkwkwk

"Iye-iye, bawel betul. Yuk ah" ujar Ardan dan meletakkan tangannya di bahu Arka.

Mereka pun berangkat ke kampus setelah banyak nya drama.

Setengah jam mereka lalui untuk sampai ke kampus, Ardan meminta Arka untuk mengendarai dengan santai karena takut Kakinya yang menggantung terasa nyeri lagi.

"Akhirnya!!" ucap Ardan dan turun dari motor Arka.

"Aman kan?" tanya Arka sembari membuka Helmnya.

"Aman-aman. Yuk cari yang lain" ajak Ardan. Dia memegang lengan Arka dan berjalan perlahan.

Keberadaan keduanya menjadi pusat perhatian sekitar, bukan karena tampang mereka saja tapi karena kejadian penyerangan waktu hari ke 2 mereka masuk kampus. Dan sekarang mereka juga melihat salah satu diantara para pemuda itu cidera? Apakah itu terjadi saat kejadian waktu itu atau hal lain? Entahlah pikir mereka.

"Mereka lagi di kantin nih" ucap Arka menunjukan isi pesannya dengan Arial.

"Buset jauh betul! Tau tadi dari parkiran langsung ke kantin aja lebih deket" keluh Ardan sembari duduk di kursi yang kebetulan ada di dekatnya.

"Jadi gimana? Mau kesana atau mereka suruh kesini?" tanya Arka pada Ardan.

"Kesana aja lah!" tekatnya.

"Sanggup nggak?" tanya Arka menyakinkan.

"Sanggup, sakit dikit nggak ngaruh" jawab Ardan dan mulai berjalan pelan meninggalkan Arka. Arka hanya tersenyum dan mengikuti dari belakang.

Di sisi lain ada seorang gadis yang sedang sibuk dengan ponselnya. Dia menggerutu tidak jelas mengomeli seseorang yang sedari tadi di ajak chattingan.

"Awas aja kalo ketemu, gua cincang pisang nya" kesalnya sambil berjalan cepat. Tatapannya yang tajam serta wajah datarnya itu membuat kesan menyeramkan tapi sexy. Yah paling tidak itu menurut seorang pemuda yang tadi di lewati olehnya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 26, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

RAKSAKA NAGANACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang