.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Gadis itu sudah terbangun sejak satu jam lalu. Anehnya gadis itu tak segera beranjak untuk keluar kamar atau melakukan hal-hal lainnya. Gadis itu sedikit termenung melihat seisi kamar dengan sangat intens.
Kamar itu di desain dengan sangat indah. Warna hijau yang mendominasi. Dekorasi yang simple dengan segala aspek kebutuhan yang terpenuhi.
Tok!
Tok!
Lamunan el buyar. El bergegas membuka pintu kamarnya.
"Pagi incess! " Sapanya dengan semangat.
Orang itu masih mengenakan piyama dengan dekorasi kodok. Bandana yang masih menyangkut di kepalanya, yang membuat rambut berantakan miliknya tak menutupi matanya.
"Pagi! " Sapanya dengan semangat.
El sedikit bingung, karena el melupakan nama abangnya yang satu ini.
"Lupa ya?? " Tanya nya dengan nada menggoda.
El hanya mengangguk tipis sembari tersenyum malu.
"Yaudah, gapapa" Ujarnya lalu mengusam rambut el "nama abang, seokmin, bisa di panggil DK! " Ucapannya dengan penuh semangat.
El hanya mengangguk tanda mengerti.
"Woi ngapain lo? " Suara serak itu mengejutkan el dan DK.
"Anjir si kiming! " DK menepuk pundak mingyu dengan pelan. Gak deng agak keras, orang bunyinya sangat nyaring.
"Jir! Shh sakit cok! " Gerutu mingyu dengan suaranya yang masih serak.
El yang melihat hanya terkekeh pelan. El masih canggung dengan para abangnya. Maklum pas puber gak ketemu abangnya, udah mau tahap akhir puber.
"Mandi gih! " Titah DK dengan wajah julidnya "minimal sikat gigi lah! "
"Ck! Ngaca! " Teriak mingyu dengan geram.
"Dah lah dek, capek ngomong sama orang aneh." Ujar DK lalu menarik lengan el yang masih terkekeh.
>>>>>
"Lama lo! "
Baru saja keduanya sampai di meja makan. Sebuah teriakan kesal sudah terlontar.
"Sabar napa, gabisa sabaran banget! " Oceh DK lalu menarik lengan el untuk duduk di kursi sebelahnya.
"El nya di monopoli" Julid seseorang di hadapan El.
"Kenapa!? Iri!? Kembarannya nempel gue!? " Tanya dk dengan songong. Untungnya kedua orang tua mereka serta 3 kakak tertua belum hadir. Kalau sudah, bisa habis diomelin.
"Gak ngiri sih, secara gue kembarannya! " Julid dino, lalu menyambar roti bakar di depannya.
"Sh! Asem! Panas! " Keluhannya lalu melemparkan roti itu ke piringnya.
"Makan tub roti panas! " Ejek dk lalu tertawa terbahak bahak.
"Kenapa nih? " Tanya sang mami yang baru datang, segera duduk si samping putrinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Seventeen // Brothers
FanfictionTau grup seventeen? Bayangin gimana kamu jadi adek perempuan satu-satunya diantara laki-laki yang sukanya bercanda gak masuk akal itu. Kehidupan penuh teka teki yang dirasakan leona di hidupnya bersama para abangnya yang gak ada warasnya.
